SIGLI (Waspada.id): Banjir yang melanda Kabupaten Pidie akhir November 2025 menghancurkan 1.794 hektare tambak masyarakat, menghentikan produksi, dan memutus mata pencaharian ribuan keluarga pesisir.
Kolam rusak, pintu air hancur, dan benur mati membuat aktivitas budidaya terhenti, dengan kerugian diperkirakan mencapai ratusan miliar rupiah.
Kecamatan Glumpang Baro, Kembang Tanjong, dan Simpang Tiga menjadi wilayah terdampak terparah, sementara kerusakan lainnya tersebar di Muara Tiga, Batee, Pidie, dan Kota Sigli. Selain tambak, banjir juga merusak pintu air, saluran perikanan, dan jalan produksi tambak.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Pidie, Safrizal S.STP, M.Ec.Dev, Senin (5/1) mengatakan, ribuan kolam budidaya terpaksa berhenti berproduksi karena sistem pengairan rusak dan benih hanyut.
“Dampak banjir ini tidak hanya merusak fisik tambak, tetapi juga menghentikan mata pencaharian masyarakat pesisir. Banyak pembudidaya mengalami kesulitan memulai kembali usaha karena keterbatasan modal serta rusaknya tanggul dan saluran air,” ujar Safrizal.
Pemerhati sosial Aceh, Drs. M. Isa Alima, mantan anggota DPRK Pidie periode 1999–2004 dan 2014–2019, menekankan pentingnya langkah struktural dalam pemulihan tambak.
“Pemulihan 1.794 hektare (ha) tambak harus disertai perbaikan hulu sungai dan penguatan tata ruang agar banjir tidak kembali menimbulkan kerusakan,” kata Isa Alima.
Pemerintah pusat melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyiapkan program rehabilitasi tambak, bantuan benih, perbaikan pintu air, dan pendampingan teknis. Tim verifikasi KKP-RI, diketuai Ir. Nono Hartantanto, Direktur Rumput Laut DJPB KKP-RI, bersama DKP Pidie, sedang menilai tingkat kerusakan tambak, apakah tergolong berat, sedang, atau ringan.
“KKP akan memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah untuk percepatan pemulihan pascabencana, termasuk rehabilitasi tambak dan penguatan ketahanan usaha pembudidaya. Mitigasi bencana seperti perbaikan drainase, peningkatan kualitas tanggul, dan integrasi mitigasi perubahan iklim juga menjadi fokus,” ujar Nono Hartantanto.
Berdasarkan data DKP Pidie, kecamatan terdampak terbanyak adalah, Glumpang Baro, 450 ha, kolam rusak dan pintu air hancur. Kembang Tanjong, 380 ha, kolam rusak dan benur mati Simpang Tiga, 320 ha, terendam sedimen. Lalu, Kecamatan uara Tiga, 200 ha, pintu air rusak. Kecamatan Batee seluas 180 ha, kolam rusak, Kecamatan Pidie seluas150 ha, tertutup sedimen, dan Kecamatan Kota Sigli, seluas 114 ha, kerusakan ringan.

Pemerintah Kabupaten Pidie kini menyusun rencana aksi pemulihan pascabencana, termasuk rehabilitasi infrastruktur tambak dan penguatan sistem mitigasi banjir, agar kerugian serupa tidak terulang di masa mendatang.
Masyarakat berharap langkah-langkah pemulihan dapat segera terealisasi sehingga aktivitas budidaya kembali normal dan sektor kelautan tetap menjadi penopang ekonomi pesisir Aceh.(id69)











