Aceh

10.914 Jiwa Masih Terisolasi Di Aceh Tengah

10.914 Jiwa Masih Terisolasi Di Aceh Tengah
Kondisi wilayah Aceh Tengah pascabencana hidrometeorologi pada akhir 2025. Sejumlah desa masih mengalami keterisolasian akibat longsor dan putusnya akses jalan. Waspada.id/Hulwa Dzakira
Kecil Besar
14px

TAKENGON (Waspada.id): Sebanyak 24 desa di Kabupaten Aceh Tengah hingga pertengahan Januari 2026 masih mengalami keterisolasian akibat bencana hidrometeorologi yang terjadi pada akhir November 2025 lalu. Pemerintah daerah bersama instansi terkait terus melakukan upaya pemulihan akses darat ke wilayah-wilayah terdampak.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah, desa-desa yang masih terisolasi tersebar di Kecamatan Bintang, Ketol, Silih Nara, Rusip Antara, dan Linge. Juru Bicara Posko Penanganan Bencana Banjir dan Longsor Aceh, Murthalamuddin, menyebutkan jumlah penduduk terdampak di wilayah tersebut mencapai 10.914 jiwa.

“Hingga saat ini masih terdapat 24 desa yang akses jalannya belum sepenuhnya pulih akibat longsor dan putusnya jembatan,” ujar Murthalamuddin, Kamis (15/1/2026).

Di Kecamatan Bintang, satu desa yang masih terisolasi yakni Desa Serule dengan jumlah penduduk terdampak sebanyak 582 jiwa. Menurut Murthalamuddin, akses menuju desa tersebut belum dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat karena timbunan longsor yang menutup badan jalan.

Kecamatan Ketol menjadi wilayah dengan jumlah desa terisolasi terbanyak. Tercatat sembilan desa terdampak, yaitu Bergang, Karang Ampar, Pantan Reduk, Serempah, Bah, Bintang Pepara, Buge Ara, Kekuyang, dan Burlah, dengan total penduduk terdampak mencapai 4.951 jiwa. Keterisolasian di wilayah ini disebabkan terputusnya jembatan serta longsor di sejumlah ruas jalan.

“Sebagian desa sudah mulai bisa dilalui kendaraan roda dua, seperti Desa Serempah dan Bah, namun untuk kendaraan roda empat masih belum dapat melintas,” jelas Murthalamuddin.

Di Kecamatan Silih Nara, terdapat dua desa yang masih terisolasi, yakni Desa Terang Engon dan Desa Bius Utama Dusun Gantung Langit, dengan jumlah penduduk terdampak sebanyak 254 jiwa. Akses menuju kedua desa tersebut belum dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat akibat putusnya Jembatan Mulie dan Jembatan Gantung Langit.

Sementara itu, di Kecamatan Rusip Antara, sebanyak lima desa dilaporkan masih terisolasi, yaitu Pilar Jaya, Pilar Weh Kiri, Tirmiara, Mekar Maju, dan Arul Pertik. Total penduduk terdampak di wilayah ini mencapai 2.765 jiwa. Murthalamuddin mengatakan akses kendaraan roda dua ke beberapa desa mulai terbuka, namun kendaraan roda empat masih belum dapat melintas akibat longsor dan kerusakan jembatan.

Adapun di Kecamatan Linge, tujuh desa masih mengalami keterisolasian, masing-masing Desa Linge, Kute Reje, Delung Sekinel, Jamat, Reje Payung, Penarun, dan Umang, dengan jumlah penduduk terdampak mencapai 2.362 jiwa. Kondisi ini disebabkan putusnya Jembatan Kala Ili serta longsor di sejumlah titik jalan.

“Akses kendaraan roda dua saat ini baru bisa sampai ke Desa Penarun dan Umang, sementara kendaraan roda empat masih belum dapat melintas,” ungkapnya.

Murthalamuddin menegaskan bahwa pemerintah terus melakukan penanganan darurat dan pemulihan secara bertahap, termasuk pembukaan jalur darat sementara serta perbaikan infrastruktur yang rusak akibat bencana.

“Upaya pemulihan akses terus dilakukan agar mobilitas masyarakat kembali normal, terutama di desa-desa yang hingga kini masih terisolasi,” katanya. (Hulwa)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE