IDI (Waspada.id): Diguyur hujan selama sepekan mengakibatkan banjir melanda seluruh kecamatan di Kabupaten Aceh Timur. Dampaknya, akses jalan darat terputus hingga mengakibatkan ratusan ribu warga terkurung.
Banjir terparah terjadi di Kecamatan Serbajadi, Peunaron, Ranto Peureulak, Indra Makmu, Pante Bidari, Birem Bayeun, Peureulak, Peureulak Barat, Banda Alam, Idi Timur, Peureulak Timur, Madat, Simpang Ulim dan Sungai Raya.
Selain itu, ketinggian air di atas badan jalan negara Banda Aceh – Medan, mencapai 2 meter. Titik tertinggi air di Simpang Kampung Beusa (Peureulak Barat) dan Alue Cek Doi (Julok). Akibat putusnya transportasi, bantuan logistik yang disediakan pemerintah tidak dapat didistribusikan ke Kecamatan, Ranto Peureulak, Peunaron dan Serbajadi.
Berbagai fasilitas umum ikut terendam, seperti gedung sekolah, puskesmas, rumah sakit dan masjid. “Warga mengungsi ke perbukitan dan tempat-tempat yang tinggi, karena mayoritas masjid terendam,” kata Kepala BPBD Aceh Timur, Ashadi, SE, MM, kepada Waspada, Sabtu (29/11) malam.

JALAN PUTUS: Warfa nekat menyeberangi arus banjir yang tergenang banjir di Jalinsum Banda Aceh – Medan di Paya Gajah, Peureulak Barat, Aceh Timur, Jumat (28/11). Waspada.id/Muhammad Ishak
Dia mengaku, belasan warga dikabarkan meninggal dunia disejumlah kecamatan. Meskipun belum mendapatkan laporan resmi dari pihak kecamatan, namun pihaknya telah mendapatkan laporan lisan dari sejumlah camat. “Titik pengungsian menjadi pusat pendistribusian logistik untuk tahap awal. Meskipun bantuannya terbatas, namun kita tahap awal sudah didistribusikan,” urai Ashadi.
Berbagai peralatan telah dikerahkan sejak hari pertama banjir, Selasa (25/11) malam hingga saat ini. Sasaran awal adalah mengevakuasi warga yang terjebak banjir, seperti di Seumali, Alue Dua, Paya Palas, Buket Pala dan Seuneubok Baro Kecamatan Ranto Peureulak. “Seluruh peralatan kita kerahkan, termasuk personel dan peralatan dari TNI dan Polri serta pihak SAR,” pungkas Ashadi. (id77)












