ACEH TAMIANG (Waspada.id): Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menyampaikan, bahwa rumah merupakan kebutuhan paling mendasar bagi masyarakat terdampak banjir di Kabupaten Aceh Tamiang.
“Rumah adalah segalanya, sesuai direktif Bapak Presiden Prabowo Subianto, kami memastikan masyarakat tidak lagi tinggal di pengungsian yang darurat, hunian ini bukan sekadar tempat tidur, tapi dirancang sehat dengan sirkulasi udara yang baik, fasilitas MCK yang memadai, dapur bersama, hingga ruang terbuka untuk anak-anak bermain,” kata Agus Harimurti Yudhoyono dalam kunjungan kerja ke Kabupaten Aceh Tamiang guna meninjau langsung progres pemulihan pasca bencana sekaligus meresmikan Hunian Sementara (Huntara) di Kampung Bundar, Kecamatan Karang Baru, Kamis (22/1).
Dalam kegiatan tersebut, Menko Infrastruktur didampingi oleh Menteri Pekerjaan Umum, Dodi Hanggodo, Bupati Aceh Tamiang Drs. Armia Pahmi, serta jajaran Forkopimda. Fokus utama kunjungan adalah memastikan kesiapan hunian sementara (huntara) berbasis teknologi modular dan percepatan perbaikan infrastruktur dasar.
Menko AHY menegaskan, pemerintah mengapresiasi kolaborasi antara Kementerian PU, Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Danantara, serta sektor swasta dan filantropi. Menko menekankan bahwa membangun kembali wilayah terdampak membutuhkan solidaritas kemanusiaan yang kuat.
Ia menyebutkan, selain hunian, fokus utama pemerintah saat ini meliputi, percepatan perbaikan jalan dan jembatan yang putus guna menjamin kelancaran logistik, pembangunan kembali sarana pendidikan, kesehatan, dan rumah ibadah dan menciptakan ekosistem yang memungkinkan masyarakat kembali bekerja dan beraktivitas normal.
Menko AHY juga menjelaskan,bahwa pemerintah sedang mematangkan rencana pembangunan hunian tetap (huntap). Proses ini mencakup pemutakhiran data kerusakan, penghitungan anggaran, hingga penataan ruang agar lokasi relokasi bebas dari zona rentan bencana.
”Semangat kita adalah percepatan yang efektif, akuntabel, dan transparan. Kita ingin membangun kembali dengan ekosistem yang lebih baik, jangan sampai kita kembali ke daerah yang secara empiris rawan bencana,” ujarnya.
Dalam tinjauannya, Menko menyempatkan diri berdialog dengan warga dan anak-anak sekolah di area hunian. Beliau memastikan fasilitas seperti kipas angin, exhaust fan, dan ruang komunal berfungsi dengan baik untuk membantu proses pemulihan trauma (trauma healing) warga melalui kegiatan positif dan kreatif.
Menutup keterangannya, Menko menyampaikan bahwa Kementerian PU menargetkan pembangunan lebih dari 1.200 unit hunian yang tersebar di tiga provinsi terdampak. Pemerintah, bersama TNI dan Polri, berkomitmen untuk terus hadir mengawal proses ini hingga seluruh masyarakat dapat bangkit secara moral dan ekonomi.

Bupati Aceh Tamiang Drs. Armia Pahmi, menyampaikan apresiasinya atas respon cepat pemerintah pusat terhadap wilayahnya yang menjadi salah satu titik terdampak paling parah.
”Atas nama Pemerintah dan seluruh warga Kabupaten Aceh Tamiang, kami menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Bapak Presiden Prabowo, Bapak Menko AHY, Bapak Menteri PU beserta seluruh jajaran yang telah banyak membantu kami,”sebut Bupati.
Disampaikan Armia Pahmi, Aceh Tamiang merupakan daerah terdampak paling parah dalam bencana hidrometeorologi Siklon Tropis Senyar yang melanda tiga provinsi di Sumatera pada akhir November 2025 lalu.
”Bahwa sinergi lintas lembaga menjadi kunci dalam penanganan masa kritis hingga pemulihan saat ini, dan ungkapan terima kasih juga kami sampaikan kepada Panglima TNI, Kapolri, Mendagri, serta seluruh lembaga, organisasi nirlaba, komunitas, maupun perseorangan yang telah bahu-membahu membantu kami selama masa tanggap darurat hingga memasuki masa rehabilitasi dan rekonstruksi ke depan, “ucapnya.
Untuk Huntara modular yang baru saja diresmikan oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Bupati melaporkan bahwa fasilitas ini akan segera ditempati oleh warga yang kehilangan tempat tinggal sepenuhnya akibat sapuan banjir bandang.
”Hunian sementara ini akan dihuni oleh 84 KK yang terdiri dari 19 KK berasal dari Kampung Bundar, Kecamatan Karang Baru, dan 65 KK dari Kampung Kota Kualasimpang. Total warga yang tertampung mencapai 336 jiwa. Mereka adalah saudara-saudara kita yang rumahnya hilang disapu dahsyatnya banjir bandang,” tambah Armia Pahmi. (Id76)










