ACEH BESAR (Waspada.id): Malam itu, Meunasah Gampong Leu Ue tak hanya menjadi tempat berkumpul untuk shalat berjamaah dan musyawarah. Ia menjadi saksi bisu air mata, doa, dan kepedulian yang mengalir tulus dari warga untuk dua anak yatim piatu yang kembali diuji kehilangan.
Thiara Siregar, 22, dan adiknya, Muhammad Israk Siregar, 16, kini harus menjalani hidup berdua. Abang mereka, Muhammad Ikbal Siregar, 28, yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga sekaligus tempat bergantung, telah berpulang setelah lama berjuang melawan sakit.
Kepergian Ikbal bukan sekadar kehilangan seorang abang. Bagi Thiara dan Israk, itu adalah runtuhnya satu-satunya sandaran hidup bagi mereka berdua di dunia ini. Sebelumnya, tiga bersaudara yatim piatu ini diketahui tinggal bersama di sebuah rumah dhuafa bantuan Baitul Mal Aceh.
Sejak kecil mereka telah ditinggal kedua orang tua. Ikbal, sebagai anak tertua, memikul peran yang terlalu berat untuk usianya, menjadi pelindung, pencari nafkah, sekaligus harapan masa depan bagi adik-adiknya. Kini, peran itu terhenti.
Melihat kondisi tersebut, empati warga Gampong Leu Ue pun bergerak. Seruan menggalang donasi sederhana dibagikan melalui grup WhatsApp warga. Tak disangka, uluran tangan datang dari banyak arah. Hingga akhirnya, terkumpul dana sebesar Rp10.920.000.
Donasi itu diserahkan langsung oleh Keuchik Gampong Leu Ue, Yusri, VE, ST, kepada Muhammad Israk Siregar selaku ahli waris, dalam sebuah prosesi sederhana namun penuh haru di Meunasah Leu Ue, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, pada Jumat (23/1) malam.
Dalam sambutannya, Yusri tak mampu menyembunyikan kesedihan. Suaranya bergetar saat menggambarkan beratnya kehidupan yang harus dijalani dua anak tersebut.
“Semua kita merasakan betapa teririsnya hati, mengingat anak-anak kita ini, sejak kecil sudah kehilangan orang tua, kini kembali harus menanggung derita kehilangan abang yang menjadi tulang punggung dan harapan masa depan mereka,” ucapnya lirih.
Yusri juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh warga yang telah menyisihkan rezekinya. Menurutnya, kepedulian ini menjadi cermin kuatnya nilai kemanusiaan dan kebersamaan di tengah masyarakat.
“Terima kasih kepada segenap warga Leu Ue. Keberadaan dan masa depan mereka berdua masih sangat membutuhkan uluran tangan kita semua. Dari sisi kemanusiaan dan ajaran agama yang kita yakini, mereka adalah tanggung jawab moral kita bersama,” tambah Yusri sembari menyeka air mata.
Sebagai informasi, Muhammad Ikbal Siregar, Thiara Siregar, dan Muhammad Israk Siregar adalah tiga bersaudara yang lahir dan dibesarkan di Gampong Leu Ue. Ayah mereka, almarhum Agusti Samar Siregar, berasal dari Kuala Simpang, sementara sang ibu, almarhumah Mursyidah, berasal dari Samalanga, Kabupaten Bireuen.
Kini, rumah itu kembali sunyi. Dua anak muda harus belajar tegar lebih cepat dari seharusnya. Namun di tengah duka, mereka tak sepenuhnya sendiri. Warga Leu Ue telah membuktikan bahwa ketika keluarga inti tak lagi ada, masyarakat bisa hadir sebagai keluarga yang memeluk dan menguatkan. (id65)










