AcehEkonomi

Air Seret Sawah Produktif Terancam, Ketahanan Pangan Nasional Diuji Di Abdya

Air Seret Sawah Produktif Terancam, Ketahanan Pangan Nasional Diuji Di Abdya
Kondisi debit air bendungan Krueng Susoh,  tanpa difasilitasi jaringan irigasi sayap kanan yang memadai, mengakibatkan suplai air tidak optimal dialirkan ke ribuan hektare lahan pertanian produktif penduduk, di Kecamatan Kuala Batee dan Jeumpa. Kamis (5/2). Waspada.id/Syafrizal 
Kecil Besar
14px

BLANGPIDIE (Waspada.id):  Ketahanan pangan nasional kembali diuji dari tapak paling dasar: sawah petani di Aceh Barat Daya (Abdya). Ribuan hektare lahan pertanian di Kecamatan Kuala Batee dan Jeumpa, terancam tak produktif akibat minimnya debit air irigasi.

Masalahnya bukan pada kesiapan lahan atau semangat petani, melainkan absennya jaringan irigasi, yang mampu mengalirkan air secara merata. Hingga kini, jaringan irigasi sayap kanan Daerah Irigasi (DI) Krueng Susoh, yang dibutuhkan petani belum juga terbangun.

Petani menilai, pembangunan jaringan sepanjang ±27 kilometer dari DI Krueng Susoh, menjadi kunci untuk memastikan suplai air ke 2.004 hektare sawah produktif, masing-masing 1.307 hektare di Kuala Batee dan 697 hektare di Jeumpa. Tanpa itu, proses tanam terus berjalan dalam ketidakpastian.

Desakan tersebut bahkan telah disampaikan secara resmi. Melalui Imum Mukim Kuala Batee, petani melayangkan surat permohonan kepada Bupati Abdya tertanggal 2 Februari 2026. Dalam surat bernomor 500/02 itu, petani menegaskan bahwa keterbatasan air bukan hanya mengancam hasil panen, tetapi juga membuka risiko alih fungsi lahan, di tengah agenda besar swasembada pangan nasional.

Ironisnya, irigasi teknis di wilayah tersebut disebut dalam kondisi baik. Namun tanpa jaringan distribusi yang memadai, air tetap gagal menjangkau sawah-sawah petani secara optimal. “Saat masa tanam, air tidak cukup. Ini membuat hasil tidak maksimal,” keluh petani.

Plt Kepala Dinas PUPR Abdya, Rahwadi ST, Kamis (5/2), mengakui bahwa Bupati Abdya telah memerintahkan koordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) I Provinsi Aceh,  guna menindaklanjuti permohonan pembangunan irigasi sayap kanan DI Susoh. “Hasil pantauan di lapangan, irigasi teknisnya bagus, tapi debit air memang kurang, karena jaringannya belum memadai,” ujar Rahwadi singkat.

Di saat pemerintah pusat menggulirkan program swasembada pangan sebagai prioritas nasional, persoalan irigasi di Abdya menunjukkan satu kenyataan pahit. Ketahanan pangan tidak runtuh di pusat kebijakan, tetapi bisa ambruk di saluran air yang tak kunjung dibangun.(id82)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE