KUTACANE (Waspada.id): Aktivis Aceh Tenggara, Bisri Sekedang, menegaskan bahwa setiap aktivis maupun pihak yang memberikan penilaian terhadap kinerja pemerintah, khususnya dalam penanganan bencana banjir dan pasca banjir, harus mengedepankan data, fakta lapangan, serta penyampaian yang bijak.
Menurut Bisri, dalam konteks penanganan banjir di Aceh Tenggara, pemerintah daerah telah menunjukkan langkah-langkah nyata yang dapat diverifikasi di lapangan. “Mulai dari respons cepat saat banjir terjadi hingga penanganan pasca banjir,” katanya kepada Waspada.id, Rabu (7/1).
“Berbicara soal bencana harus berdasarkan data dan fakta. Pemerintah daerah telah menurunkan tim penanganan bencana, menyalurkan bantuan, melakukan evakuasi, serta menjalankan pembersihan dan pendataan pasca banjir. Ini semua bisa dilihat dan dicek langsung di lapangan,” ujar Bisri.
Ia menilai kritik merupakan bagian penting dalam demokrasi, namun harus disampaikan secara objektif dan konstruktif, bukan sekadar retorika yang berpotensi menimbulkan persepsi keliru di tengah masyarakat.
Bisri juga mengingatkan bahwa aktivis memiliki peran strategis sebagai mitra kritis pemerintah, sehingga setiap pernyataan publik seharusnya mendorong perbaikan kebijakan dan penguatan mitigasi bencana, bukan memperkeruh situasi.
“Jika ada kekurangan, sampaikan dengan data yang jelas dan solusi yang konkret Itu jauh lebih bermanfaat bagi masyarakat, bukan menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat yang saat ini pemerintah fokus terhadap pemulihan pasca banjir di Aceh Tenggara,” tambahnya.
Di sisi lain, ia berharap Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara tetap terbuka terhadap masukan dan terus meningkatkan kesiapsiagaan serta penanganan bencana ke depan, mengingat kondisi geografis daerah yang rawan banjir. (id80)











