KUTACANE (Waspada.id): Aktivis Aceh Tenggara, Bisri Sekedang, menegaskan agar mahasiswa tidak menimbulkan kegaduhan publik dengan membangun narasi intimidasi pemerintah tanpa dasar yang jelas, di tengah fokus upaya pemulihan pascabanjir di sejumlah wilayah terdampak.
Menurutnya, kondisi pasca bencana membutuhkan suasana kondusif agar proses pemulihan berjalan optimal. Narasi yang menyudutkan pemerintah berpotensi memicu kesalahpahaman dan mengalihkan perhatian dari upaya kemanusiaan yang sedang dilakukan.
“Pemerintah saat ini tengah bekerja menangani dampak banjir, mulai dari pemulihan infrastruktur, penyaluran bantuan, hingga pemulihan aktivitas sosial dan ekonomi warga. Jangan sampai muncul kegaduhan akibat narasi intimidasi yang belum tentu sesuai dengan fakta di lapangan,” ujar Bisri kepada Waspada.id pada Rabu (7/1).
Meskipun demikian, ia mengakui mahasiswa tetap memiliki hak untuk menyampaikan kritik dan aspirasi sebagai bagian dari demokrasi. Namun penyampaiannya harus dilakukan secara bertanggung jawab, berbasis data, dan tidak memperkeruh suasana.
Bisri juga mengajak mahasiswa untuk turut berperan aktif membantu masyarakat terdampak, baik melalui kegiatan kemanusiaan, edukasi, maupun pengawasan kebijakan secara konstruktif.
“Peran mahasiswa sangat dibutuhkan, tidak hanya dalam menyuarakan kritik, tetapi juga dalam memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Saat ini yang paling penting adalah solidaritas dan kerja bersama untuk mendukung pemulihan pascabanjir,” pungkasnya.(id80)











