Anak Derita Bocor Jantung, Rumah Terjual Untuk Perobatan

- Aceh
  • Bagikan
Anak Derita Bocor Jantung, Rumah Terjual Untuk Perobatan
YANGSI, usia 6 tahun penderita bocor jantung. (Waspada/Ist)

SUBULUSSALAM (Waspada): Anak menderita bocor jantung sejak lahir, rumah yang selama ini ditempati terpaksa dijual. Uang jual rumah digunakan untuk perongkosan pergi dan pulang Subulussalam – Medan dan penginapan beberapa kali di Medan, Sumatera Utara.

Beruntung, kantor daur ulang sampah milik kampong bisa dimanfaatkan untuk tempat tinggal sementara. Persoalan terbesar yang belum ada solusi, biaya operasi sang anak usia enam tahun itu.

Demikian keresahan Piannawati Solin dan suaminya, Rasito Awam ditemui wartawan, Jumat (19/1) di rumahnya, Kampong Penuntungan, Kecamatan Penanggalan, Subulussalam menghadapi kondisi puteri bungsu mereka dari tiga bersaudara, Yangsi Syakira Inara penderita bocor jantung. 

“Divonis bocor jantung sama dokter, bawaan sejak lahir dan dibilang harus operasi,” jelas Piannawati, pesimis mampu membiayai operasi sang putri dengan kondisi ekonomi yang dirasakan selama ini. 

Bersama suami, Piannawati berharap bantuan, uluran tangan pemerintah, para dermawan dan para pejiwa sosial membiayai kebutuhan operasi itu. 

Kilas balik derita sang anak, Piannawati sebut jika sejak lahir fisik anaknya tak normal, didera sakit komplikasi. Niat membawa anaknya ke dokter berkali gagal karena motivasi suami, keluarga dan lainnya sebut jika kondisi itu tidak perlu diresahkan. 

Namun melihat kondisi sang anak kian mengkhawatirkan, ia memaksa membawa anaknya ke salah seorang dokter di Kota Subulussalam. Dari sini, Pianna mengetahui jika anaknya sejak lahir sudah mengalami bocor jantung dan dianjurkan dibawa ke rumah sakit.

Setelah dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Subulussalam, dokter merujuk sang anak ke salah satu rumah sakit di Medan.

“Kata dokter mengidap sakit jantung bocor dan sudah bisa dioperasi,” kata Pianna dengan nada sedih, pastikan kondisi ekonominya tak memungkinkan mampu membiayai operasi itu.

Dikatakan, selama enam tahun ini pula hampir dalam dua bulan sekali Yangsi harus diperiksa ke RS Adam Malik Medan. Terasa terbantu karena biaya perobatan melalui BPJS. Sementara biaya transportasi dan penginapan di Medan harus mereka tanggung sendiri.

“Rumah kami terpaksa dijual,” aku Piannawati, sebut saat ini mereka menempati kantor daur ulang sampah Penuntungan.

Meski pasrah, Rasito dan Pianna yakin akan masih ada orang, para dermawan peduli dan mau membantu untuk biaya operasi dan pengobatan anaknya. Untuk operasi putri bungsu kesayangan itu sangat diharapkan. Jiwa para dermawan diketuk untuk membantu Yangsi. (b17)

  • Bagikan