Ramadhan bukan sekadar bulan suci yang datang dan pergi setiap tahun. Ia adalah madrasah ruhani yang membentuk kesabaran, memperkuat keimanan, serta menumbuhkan kepedulian sosial di tengah masyarakat.
Selama sebulan penuh, umat Islam ditempa dalam suasana ibadah dan kebersamaan. Hingga akhirnya, gema takbir di malam Idulfitri menjadi penanda kemenangan, bukan hanya kemenangan menahan lapar dan dahaga, tetapi kemenangan menjaga nilai.
Di titik inilah, tradisi Gema Takbir menemukan maknanya. Ia bukan sekadar perayaan, tetapi simbol syiar yang hidup. Kecamatan Peukan Baro, KabupatenPidie pun ambil bagian dalam merawat tradisi tersebut dengan mengutus Grup Ar Ruhul Jadid yang dipimpin oleh Tgk. Husaini Bambi sebagai wakil dalam ajang Gema Takbir Kabupaten Pidie 1447 H/2026 M.
Keikutsertaan ini bukan tanpa alasan. Ar Ruhul Jadid dinilai memiliki semangat, kekompakan, dan dedikasi yang kuat. Latihan intensif yang mereka jalani menunjukkan keseriusan, namun lebih dari itu, ada semangat kebersamaan yang terbangun.
Setiap lantunan takbir yang mereka persiapkan bukan hanya soal harmoni suara, tetapi juga kesatuan hati. Namun, perlu disadari bahwa Gema Takbir tidak boleh direduksi menjadi sekadar perlombaan. Ia memang dikemas dalam format kompetisi, tetapi esensinya adalah syiar Islam.
Ketika takbir dikumandangkan dengan penuh penghayatan, di situlah nilai Ramadhan benar-benar terasa hidup. Jika hanya mengejar penilaian, maka yang tersisa hanyalah gemuruh tanpa makna. Pemerintah Kecamatan Peukan Baro pun memberikan dukungan penuh.
Camat Peukan Baro, Iswadi, S.Hi, Kamis (19/3/2026), menegaskan bahwa keikutsertaan Ar Ruhul Jadid membawa tanggung jawab besar, tidak hanya untuk tampil maksimal, tetapi juga menjaga nama baik daerah.
“Kami dari Pemerintah Kecamatan Peukan Baro sangat mengapresiasi semangat dan kekompakan Grup Ar Ruhul Jadid. Ini bukan sekadar lomba, tetapi juga momentum syiar Islam dan mempererat ukhuwah di tengah masyarakat,” ujar Iswadi.
Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk terlibat dalam bentuk doa dan dukungan.
“Semoga mereka bisa tampil maksimal, menjaga kebersamaan, serta membawa nama baik kecamatan kita di tingkat kabupaten. Kami mengajak masyarakat untuk memberikan doa dan dukungan penuh agar hasil terbaik bisa diraih,” tambahnya.
Dukungan ini tidak berhenti di level pemerintah. Masyarakat Peukan Baro pun menunjukkan antusiasme yang tinggi. Bagi mereka, keikutsertaan Ar Ruhul Jadid bukan hanya kebanggaan, tetapi juga representasi dari identitas daerah.
Salah seorang warga, M. Nasir, 45, menilai ajang ini sebagai momentum penting untuk memperkuat nilai kebersamaan. “Gema takbir ini bukan hanya soal menang atau kalah. Yang penting kita bisa menunjukkan kekompakan dan menjaga tradisi. Kami bangga Ar Ruhul Jadid bisa mewakili Peukan Baro,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Fitriani 32, warga lainnya. “Kami berharap anak-anak muda terus semangat. Jangan hanya ramai saat lomba saja, tapi setelah itu juga tetap menjaga kebersamaan dan nilai agama,” katanya.
Sementara itu, Rahmad,27, seorang pemuda setempat, melihat ajang ini sebagai ruang positif bagi generasi muda. “Kegiatan seperti ini sangat bagus. Selain mempererat silaturahmi, juga menjauhkan anak-anak muda dari hal-hal negatif. Kami mendukung penuh Ar Ruhul Jadid,” ucapnya.
Komentar masyarakat tersebut menjadi bukti bahwa Gema Takbir bukan hanya milik peserta, tetapi milik bersama. Ia adalah ruang kolektif di mana nilai, tradisi, dan kebersamaan bertemu.
Namun demikian, ada satu hal yang perlu menjadi refleksi bersama. Gema takbir tidak boleh berhenti di panggung. Jangan sampai semangat Ramadhan yang telah dibangun selama sebulan, hilang begitu saja setelah malam lebaran berlalu. Karena sejatinya, kemenangan bukan pada meriahnya suara, tetapi pada konsistensi menjaga nilai.
Jika Gema Takbir dimaknai sebagai syiar, maka ia akan terus hidup. Tetapi jika hanya dipandang sebagai perlombaan, maka ia akan berhenti sebagai seremonial tahunan. Di sinilah pentingnya kesadaran kolektif untuk menjaga ruh dari setiap tradisi.
Pada akhirnya, siapa pun yang menjadi juara bukanlah hal yang paling utama. Yang lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai Ramadhan tetap terjaga dalam kehidupan sehari-hari. Ar Ruhul Jadid mungkin tampil di panggung, tetapi semangat yang mereka bawa adalah cerminan dari seluruh masyarakat Peukan Baro.
Ramadhan bersemi, iman mengisi.
Takbir menggema, ukhuwah terpatri.
Suara berlalu, nilai tidak layu.
Kemenangan sejati, hidup selalu.
Muhammad Riza











