Aceh

Asmara Subuh, Menyulam Iman di Ufuk Sigli

Asmara Subuh, Menyulam Iman di Ufuk Sigli
Samsul Bahri, 48, warga Kota Sigli, duduk tenang di tepi pantai usai salat Subuh, menikmati fajar Ramadan sambil merenung di bawah rindang cemara, Minggu (22/2/2026).Waspada.id/ Muhammad Riza
Kecil Besar
14px

Ramadan selalu menghadirkan lanskap yang berbeda di Kota Sigli, ibukota Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh. Ketika azan Subuh berkumandang dan jamaah menunaikan salat berjamaah, suasana religius tidak berhenti di dalam masjid.

Usai doa ditutup dan shaf dirapikan, warga tidak serta-merta kembali ke rumah. Mereka melangkah pelan menuju kawasan pantai, menyambut fajar dengan hati yang masih hangat oleh zikir. Tradisi itu dikenal dengan sebutan “Asmara Subuh”.

Asmara Subuh bukan sekadar aktivitas jalan pagi. Ia telah menjelma menjadi ruang sosial dan spiritual yang menyatu dalam denyut Ramadan. Dari Pantai Gampong Benteng, Kuala Pidie, hingga Blang Paseh, warga berjalan kaki, bersepeda, bahkan sekadar duduk santai menikmati udara pagi yang masih bersih.

Langit perlahan memerah, cahaya matahari muncul di ufuk timur, dan debur ombak menjadi irama alami yang menenangkan jiwa. Di antara keramaian itu, tampak sosok yang duduk tenang di bangku kayu sederhana. Ia adalah Samsul Bahri, 48, warga Kota Sigli.

Warga menikmati suasana pagi di bawah rindang cemara Pantai Sigli, usai salat Subuh berjamaah, Minggu (22/2/2026) . Waspada.id/Muhammad Riza

Wajahnya teduh, sorot matanya dalam. Tangannya menggenggam telepon genggam, tetapi perhatiannya lebih tertuju pada laut lepas yang berkilau diterpa cahaya pagi.

Bagi Samsul Bahri, Asmara Subuh bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia adalah perpanjangan dari ibadah. “Habis salat, hati masih terasa ringan. Sayang kalau langsung pulang dan kembali sibuk dengan urusan dunia,” ujarnya.

Baginya, momen selepas Subuh adalah waktu paling jernih untuk menata niat sebelum memulai aktivitas. Allah SWT sendiri menegaskan keutamaan waktu Subuh dalam Al-Qur’an.

“Dirikanlah salat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula salat) Subuh. Sesungguhnya salat Subuh itu disaksikan (oleh para malaikat).” (QS. Al-Isra: 78).

Ayat ini menjadi pengingat bahwa Subuh bukan waktu biasa. Ia adalah waktu yang disaksikan, waktu yang penuh keberkahan. Maka tidak heran jika warga Sigli memilih memperpanjang suasana ibadah itu dengan berjalan santai, berzikir, dan bersilaturahmi.

Tidak jauh dari tempat Samsul duduk, sekelompok remaja berjalan santai sambil berbincang. Salah satunya, Fikri, 17, mengaku sengaja datang setiap pagi Ramadan. “Biasanya kami nongkrong malam, tetapi Ramadan beda. Habis Subuh rasanya sayang kalau langsung tidur. Di sini bisa kumpul, tetapi tetap dalam suasana yang lebih baik,” katanya.

Ia menambahkan, “Kalau pagi begini, suasananya tenang. Hati juga lebih adem. Kami jadi ingat kalau Ramadan itu bukan cuma soal puasa, tetapi juga memperbaiki diri,” tutur Fikri.

Nelayan merapatkan perahu di pesisir Sigli saat fajar merekah, sementara warga menyaksikan aktivitas pagi di tepian laut, Minggu (22/2/2026) . Waspada.id/Muhammad Riza

Apa yang dilakukan para remaja itu sejatinya sejalan dengan sabda Rasulullah SAW. “Barang siapa yang salat Subuh berjamaah, lalu ia duduk berzikir kepada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia salat dua rakaat, maka baginya pahala seperti pahala haji dan umrah yang sempurna.” (HR. Tirmidzi).

Hadis ini memberi pesan kuat: menjaga waktu selepas Subuh adalah bagian dari merawat keberkahan hari. Duduk, berzikir, merenung, semuanya bernilai ibadah jika diniatkan karena Allah.

Di bibir pantai, perahu-perahu nelayan mulai merapat. Jaring ditarik, hasil tangkapan diturunkan. Salah seorang nelayan, M. Yusuf, 52, mengaku merasakan keberkahan Ramadan di pagi hari.

“Alhamdulillah, kalau bulan puasa begini banyak yang datang pagi-pagi. Ikan cepat laku. Kami merasa rezeki lebih berkah,” ujarnya sambil merapikan jaring.

Ia menambahkan, “Kami juga senang lihat orang habis salat langsung ke sini. Suasananya lebih religius. Mudah-mudahan terus begini,” imbuhnya lagi.

Anak-anak bermain di pesisir Sigli usai Subuh, di antara bangku kayu dan riak ombak yang menyapa pagi, Minggu (22/2/2026).Waspada.id/Muhammad Riza

Di sanalah terlihat ibadah yang berdampak: rezeki yang berputar, silaturahmi yang terjalin, dan generasi muda yang belajar menjaga Subuh. Asmara Subuh bukan sekadar tradisi musiman, tetapi ruang pertemuan antara nilai spiritual dan denyut kehidupan masyarakat pesisir.

Kabupaten Pidie yang dikenal dengan sebutan “Pang Ulee Buet Ibadat, Pang Ulee Hareukat Meugoe” menemukan cerminnya pada sosok-sosok seperti Samsul, pada semangat remaja seperti Fikri, dan pada ketekunan nelayan seperti Yusuf. Sederhana, tidak mencolok, namun menghidupkan nilai religius dalam keseharian.

Asmara Subuh pada akhirnya bukan soal ramai atau tidaknya pantai. Ia tentang bagaimana setiap pribadi memaknai fajar sebagai awal perbaikan diri. Sebagaimana firman Allah SWT. “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah. 6).

Setiap fajar membawa pesan harapan. Di tepian laut Sigli, ketika matahari perlahan naik dan cahaya menyapu permukaan air, warga tetap bertahan sejenak, seolah memastikan bahwa iman yang baru saja dikuatkan di masjid tidak hilang diterpa hiruk pikuk dunia.

Sebab menyulam iman bukan pekerjaan sekali jadi. Ia dimulai dari Subuh, dirawat dengan zikir, dan dijaga sepanjang hari di ufuk Sigli yang setia menyambut pagi.

Muhammad Riza

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE