AcehFeatures

Awan Menembus Lumpur

Awan Menembus Lumpur
Bupati Pidie H. Sarjani Abdullah membonceng Asisten I Setdakab Pidie Dr. Drs. H. Nadhar Putra, M.Si saat meninjau gotong royong pascabanjir di Kecamatan Kembang Tanjong, Minggu (4/1/2026).Waspada.id/Muhammad Riza
Kecil Besar
14px

Awan rendah menggantung berat di langit Kembang Tanjong. Udara lembab, tanah berubah menjadi hamparan lumpur yang lengket di setiap pijakan. Di tengah lanskap itu, deru sebuah motor trail memecah kesenyapan.

Di atasnya, Bupati Pidie H. Sarjani Abdullah SH, MH, bergerak perlahan, menembus jalan yang tak lagi ramah bagi kendaraan biasa. Minggu (4/1/2026), gotong royong massal pascabanjir digelar kali ke-5.

Motor trail itu bukan sekadar alat transportasi. Ia menjadi penanda bahwa medan sesulit apa pun tetap harus dilalui. Jalan desa yang terkelupas, parit-parit yang tersumbat lumpur, serta sisa material banjir membentang di sepanjang rute peninjauan.

Kendaraan roda empat tertahan jauh di belakang. Di titik-titik tertentu, hanya roda dua dan langkah kaki yang bisa terus bergerak. Nama “Awan” seolah menemukan kembali ruangnya. Di masa lalu, H Sarjani Abdullah dikenal dengan julukan “Awan” saat memimpin pasukan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Asisten II Setdakab Pidie Apriadi memimpin koordinasi lapangan saat gotong royong pascabanjir di Mutiara, Minggu (4/1).Waspada.id/Muhammad Riza

Julukan itu lahir dari kebiasaan bergerak senyap, cepat, dan menyatu dengan medan. Bertahun kemudian, setelah konflik menjadi bagian dari sejarah dan perdamaian menjadi pijakan, “Awan” kembali menembus medan, kali ini bukan dalam suasana perang, melainkan di tengah kerja kemanusiaan pascabanjir.

Didampingi Asisten I Setdakab Pidie Dr. Drs. H. Nadhar Putra, M.Si, Sarjani tak sekadar melintas. Ia berhenti di sejumlah titik pembersihan, turun dari kendaraan, menjejak lumpur, menyapa ASN yang pakaiannya tidak lagi bersih, berbincang dengan keuchik, dan mendengar cerita warga.

Kalaksa BPBD Pidie Muhammad Rabiul turun ke lapangan memastikan penanganan pascabanjir berjalan optimal, Minggu (4/1).Waspada.id/Muhammad Riza

Gotong royong baginya bukan laporan di atas meja, melainkan kerja yang harus dirasakan langsung. Di Kecamatan Kembang Tanjong, Camat Fauzi Harfa tampak mengoordinir para keuchik dan perangkat gampong. ASN dari berbagai instansi menyebar di sepanjang badan jalan dan saluran drainase, mengeruk lumpur yang mengendap sejak banjir melanda.

Sekop dan cangkul bekerja berdampingan dengan tekad untuk memulihkan ruang hidup warga. Sejumlah pejabat daerah ikut turun ke lapangan. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pidie Yusmadi Kasem, M.Pd, Kepala BPBD Pidie Muhammad Rabiul, Asisten II Setdakab Pidie Apriadi, S.Sos, serta Kepala Dinas Lingkungan Hidup Firman Maulana, S.STP, M.AP, tampak memantau keterlibatan jajaran masing-masing.

Kepala Dinas Syariat Islam Kabupaten Pidie drh. Fadli dan Sekretaris DPRK Pidie Miswar juga hadir, memastikan gotong royong tidak berhenti pada instruksi, melainkan menjadi keteladanan. Gotong royong massal ini digelar berdasarkan Lampiran Surat Bupati Pidie Nomor 400.12/15446/2025 tertanggal 31 Desember 2025.

Bupati Pidie H. Sarjani Abdullah memberi arahan saat gotong royong pascabanjir, Minggu (4/1). Waspada id/Muhammad Riza

Sejak pukul 08.30 hingga menjelang siang, sekitar 3.000 ASN dikerahkan secara akumulatif. Mereka datang dari lintas organisasi perangkat daerah, badan, bagian, unit layanan kesehatan, kecamatan, hingga pegawai paruh waktu. Di lapangan, sekat jabatan luruh yang tersisa hanya lumpur dan pekerjaan yang harus dituntaskan.

Dari Kembang Tanjong, kerja gotong royong meluas ke wilayah lain. Di Kecamatan Mutiara, koordinasi berada di tangan Asisten Perekonomian dan Pembangunan. Dinas teknis mulai Pekerjaan Umum, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman, Lingkungan Hidup, Perhubungan, Komunikasi dan Informatika, Perdagangan, Koperasi dan UKM, Pertanian dan Pangan, hingga Bappeda menyasar saluran air dan ruas jalan yang tersumbat material banjir.

Sementara itu, di Kecamatan Mutiara Timur, Asisten Administrasi Umum memimpin barisan lain. Staf Ahli Bupati, Inspektorat, Badan Pengelolaan Keuangan Kabupaten, BKPSDM, DPMPTSP, serta sejumlah bagian dan kecamatan bahu-membahu membersihkan fasilitas umum dan lingkungan permukiman.

Di banyak titik, warga ikut turun, menyatu dengan ASN dalam kerja tanpa komando panjang. “Alhamdulillah, hasil gotong royong ini sudah mulai terlihat. Sebagian besar gampong terdampak kini berangsur bersih dan aktivitas masyarakat perlahan kembali normal,” ujar H Sarjani di sela peninjauan. Ia menegaskan, Pemerintah Kabupaten Pidie akan terus hadir hingga seluruh wilayah terdampak benar-benar pulih.

Solidaritas itu bahkan melampaui batas administratif ASN Pemkab Pidie turut membantu penanganan dampak banjir di Kabupaten Pidie Jaya dan Kabupaten Aceh Tamiang.

Di Kecamatan Mutiara, Asisten II Setdakab Pidie Apriadi, S.Sos memimpin langsung aksi gotong royong kemanusiaan dampak banjir bandang dan tanah longsor di Desa Sentosa dan Meunasah Barona Gampong Baro Yaman. Saluran dan badan jalan dibersihkan, lingkungan Dayah Darul Jamil Alziziyah di bawah asuhan Waled Abubakar, khatib Masjid Abu Beureueh Bereunuen kembali dirapikan agar aktivitas pendidikan dan ibadah dapat berjalan.

Di bawah awan yang masih menggantung, lumpur memang belum sepenuhnya pergi. Ia masih menempel di sela jalan, di parit-parit, di halaman rumah yang sempat terendam. Namun kali ke-5 gotong royong ini meninggalkan sesuatu yang lebih tahan lama dari lumpur, kesadaran bahwa bencana tidak pernah benar-benar dihadapi sendirian.

“Awan”—nama yang dulu hidup di lorong-lorong konflik, kini bergerak di ruang yang lain. Ia tidak lagi menembus hutan, melainkan menembus sisa banjir. Tidak lagi memimpin perlawanan, melainkan memimpin pemulihan.

Dari atas motor trail yang menggerus lumpur, ia membaca ulang tanah Pidie: tentang luka yang harus dibersihkan perlahan, tentang sabar yang dikerjakan bersama.

Ketika cahaya mencoba menembus awan, gotong royong belum selesai. Tetapi Pidie telah belajar satu hal penting: bahwa pemulihan bukan sekadar soal mengeringkan lumpur, melainkan merawat ingatan bersama bahwa di saat paling sulit, tangan-tangan itulah yang saling menggenggam.

Muhammad Riza

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE