AWF Sosialisasi Pengelolaan Dan Pelestarian Tambak Dalam Kawasan Hutan Mangrove

- Aceh
  • Bagikan
AWF Sosialisasi Pengelolaan Dan Pelestarian Tambak Dalam Kawasan Hutan Mangrove
Yusmadi Yusuf paling kanan (pakai peci) didampingi koleganya dari KPH III Aceh dan pelaku usaha tambak dari warga Kota Langsa saat menyampaikan materinya kepada para peserta. (Waspada/Ibnu Sa'dan)

LANGSA (Waspada): Aceh Wetland Foundation (AWF) bersinergi dengan KPH III Aceh menyelenggarakan kegiatan sosialisasi pengelolaan tambak dalam hutan mangrove di Pangeran Coffe Kota Langsa, Selasa (19/12).

Acara tersebut dihadiri tokoh adat, masyarakat pesisir Kota Langsa, dan pejabat terkait dari Pemerintah Kota Langsa.

Yusmadi Yusuf, Direktur AWF, yang bertindak sebagai penanggung jawab kegiatan, menyampaikan bahwa pemanfaatan hutan berkelanjutan saat ini menjadi kewajiban mendesak di tengah krisis iklim global.

Dalam konteks ini, model silvofishery diusung sebagai solusi inovatif dalam pengelolaan tambak di kawasan hutan mangrove.

“Model silvofishery menjadi langkah positif untuk memanfaatkan tambak secara berkelanjutan, menggabungkan aspek ekonomi masyarakat dan pelestarian ekologi,” ungkap Yusmadi Yusuf.

Model ini, kata dia, memanfaatkan tambak sebagai wadah ekonomi bagi masyarakat sekitar tanpa mengorbankan keberlanjutan ekosistem mangrove.

AWF Sosialisasi Pengelolaan Dan Pelestarian Tambak Dalam Kawasan Hutan Mangrove
Para peserta antusias mendengar paparan materi tentang manfaat mangrove bagi kehidupan. (Waspada/Ibnu Sa’dan)

Acara sosialisasi tersebut menjadi forum penting bagi para peserta, terutama tokoh adat, masyarakat pesisir, dan pejabat pemerintah, untuk saling berinteraksi dan mendiskusikan implementasi model silvofishery.

Langkah-langkah konkret dalam pengelolaan tambak dan pelestarian hutan mangrove menjadi fokus utama pembicaraan.

Kerjasama antara AWF dan KPH III Aceh dalam kegiatan ini menggarisbawahi pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk mencapai tujuan keberlanjutan.

Dengan melibatkan pemangku kepentingan utama, seperti tokoh adat dan pejabat pemerintah, diharapkan upaya pelestarian tambak dan hutan mangrove dapat menjadi agenda bersama.

Pemerintah Kota Langsa juga turut aktif dalam mendukung kegiatan ini sebagai bagian dari upaya bersama dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.

Keberhasilan model silvofishery diharapkan dapat memberikan inspirasi dan contoh bagi kawasan lain untuk menggandeng masyarakat dalam menjaga kelestarian alam.

Sosialisasi ini bukan hanya sekadar pertemuan, tetapi juga langkah konkrit untuk menciptakan pemahaman bersama akan pentingnya menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya alam dan pelestarian lingkungan.

Dengan semangat kolaborasi, Aceh Wetland Foundation dan KPH III Aceh terus berkomitmen untuk mendorong praktek-praktek berkelanjutan demi masa depan yang lebih baik.(b12)

  • Bagikan