AcehFeaturesHeadlines

Balada Warga Tamiang: Belum Mati, Tapi Sudah Berumah di Kuburan

Balada Warga Tamiang: Belum Mati, Tapi Sudah Berumah di Kuburan
Sejumlah warga yang mengungsi di komplek kuburan di Kampung Kota Lintang, Kecamatan Kota Kualasimpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Kamis (15/1). Waspada.id/Muhammad Hanafiah
Kecil Besar
14px

Tak hanya manusia yang ikut mengungsi. Sapi dan kambing milik warga juga dibawa ke area kuburan.

“Kami belum meninggal dunia, tapi harus tidur di kuburan.” Kalimat itu meluncur lirih dari mulut warga Kampung Kota Lintang, Kecamatan Kota Kualasimpang, Kabupaten Aceh Tamiang. Kamis (15/1/26), mereka mengungkapkannya kepada Waspada.id—bukan sebagai metafora, melainkan kisah nyata yang mereka jalani saban hari.

Ungkapan serupa terdengar pula di Kampung Durian, Kecamatan Rantau. Di dua kampung ini, hidup dan mati kini berbagi ruang yang sama. Warga yang selamat dari banjir justru harus menumpang hidup di area pemakaman. Bukan karena tradisi, melainkan karena tak ada pilihan lain.

Banjir besar yang melanda Aceh Tamiang pada akhir November 2025 telah mengubah lanskap kehidupan ribuan warga. Data sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tamiang mencatat ribuan rumah terdampak, ratusan di antaranya rusak berat dan hanyut. Dua bulan berlalu, sebagian korban masih hidup dalam pengungsian darurat—tanpa kepastian kapan bisa kembali ke rumah, atau apakah rumah itu masih ada.

Di Kampung Kota Lintang, sejumlah keluarga mendirikan tenda darurat di Tempat Pemakaman Umum (TPU) umat Islam. Kuburan yang terletak di tepi jalan menuju Kota Lintang bagian bawah itu kini berubah fungsi: menjadi ruang tidur, dapur darurat, sekaligus tempat anak-anak belajar menjalani trauma.

Di Kampung Durian, warga memilih bertahan di komplek kuburan Tionghoa—di kiri dan kanan bukit kampung. Di sana, tenda-tenda plastik berdiri berdampingan dengan nisan. Hidup berjalan di antara simbol kematian.

“Belum meninggal dunia, kami sudah tidur di kuburan,” ujar seorang warga Kota Lintang dengan suara bergetar. Baginya dan keluarga lain, hanya tanah kuburan yang tersisa sebagai tempat berlindung. Rumah mereka hanyut, rusak berat, atau tertimbun lumpur bercampur kayu gelondongan saat banjir datang dengan daya rusak luar biasa.

Di lokasi pengungsian, kehidupan berjalan apa adanya. Anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga lansia berbagi ruang sempit di bawah terpal. Pemerintah memang telah membangun hunian sementara. Namun, menurut warga, bantuan itu belum menyentuh mereka.

“Belum dikasih rumah bantuan sementara untuk kami,” keluh seorang ibu sambil menggenggam tangan anaknya. Harapan mereka sederhana: hunian sementara untuk berteduh hari ini, dan rumah tetap untuk masa depan. “Kami orang miskin. Hanya itu harapan kami kepada pemerintah,” katanya pelan.

Kampung Kota Lintang termasuk wilayah yang paling parah terdampak banjir Aceh Tamiang 2025. Hampir seluruh rumah di bagian bawah kampung hancur diterjang arus banjir bercampur lumpur dan kayu gelondongan. Bekasnya masih terlihat jelas—bahkan ketika air telah surut.

Datok Penghulu Kampung Kota Lintang, Muhammad Fadil, membenarkan adanya warga yang mengungsi di kuburan. Namun ia mengaku belum mengetahui jumlah pastinya karena pendataan dilakukan oleh kepala dusun. “Sudah kami data rumah warga yang rusak berat, sedang, dan ringan. Data itu sudah kami laporkan ke camat agar bisa ditindaklanjuti pemerintah,” ujarnya kepada Waspada.id, Jumat (16/1/26).

Kondisi serupa terjadi di Kampung Durian. Pantauan Waspada.id menunjukkan banyak warga masih bertahan di tenda darurat di komplek kuburan Tionghoa. Rumah mereka ada yang berada di sekitar pekong (biara Buddha), lapangan sepak bola, hingga Dusun Metro—semuanya terdampak banjir dengan tingkat kerusakan beragam.

“Kami mengungsi ke sini karena rumah ada yang hanyut, rusak, dan ada juga yang masih terendam lumpur,” ujar seorang pengungsi. Tak hanya manusia yang ikut mengungsi. Sapi dan kambing milik warga juga dibawa ke area kuburan. “Sudah hampir dua bulan kami tidur di sini,” katanya lirih.

Sejumlah warga kampung Durian, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang yang mengungsi tinggal di tenda darurat di Komplek kuburan China yang ada di kampung Durian, Kamis (15/1).Waspada.id/Muhammad Hanafiah

Datok Penghulu Kampung Durian, Ibrahim Johar, mengakui banyak warganya tinggal di komplek kuburan Tionghoa. “Jumlah pastinya nanti saya cek datanya,” ujarnya. Ia memastikan pendataan telah dilakukan dan dilaporkan ke Camat Rantau agar warga terdampak mendapat bantuan hunian sementara maupun hunian tetap.

Aceh Tamiang hari ini menyisakan cerita pahit: bencana alam telah berlalu, tetapi krisis kemanusiaan belum benar-benar selesai. Ketika kuburan menjadi tempat tinggal, pertanyaannya bukan lagi soal cuaca ekstrem, melainkan seberapa cepat negara hadir sebelum martabat warganya benar-benar terkubur di kuburan itu.

Muhammad Hanafiah

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE