AcehBudaya

Banjir Bandang Tinggalkan Luka, 90 Persen Koleksi Museum Kota Langsa Terdampak

Banjir Bandang Tinggalkan Luka, 90 Persen Koleksi Museum Kota Langsa Terdampak
Sekitar 90 persen koleksi benda pusaka yang tersimpan di Museum Kota Langsa terdampak banjir, Jumat (2/01/2026). Waspada.id/Munawar
Kecil Besar
14px

LANGSA (Waspada.id): Banjir bandang yang melanda Kota Langsa pada penghujung November tahun 2025 tidak hanya merusak rumah dan infrastruktur, namun juga meninggalkan luka mendalam bagi warisan sejarah dan kebudayaan daerah. Sekitar 90 persen koleksi benda pusaka yang tersimpan di Museum Kota Langsa terdampak banjir.

Koleksi-koleksi bersejarah tersebut terendam air dan lumpur, membuat kondisi museum kini berada dalam keadaan yang sangat memprihatinkan.

“Pemerintah Kota (Pemko) Langsa hingga saat ini terus berupaya dan berusaha untuk mempercepat pemulihan pasca bencana musibah banjir dan tanah longsor dengan berbagai kegiatan kepedulian kepada masyarakat,” ujar Walikota Langsa Jeffry Sentana S Putra, SE, Jumat (2/01/2026).

Selain program bantuan, Pemko Langsa saat ini juga sedang berupaya untuk mengoptimalkan pelayanan fasilitas kesehatan dan lainnya, penanganan lumpur dan sampah yang menumpuk, begitu juga Museum Kota Langsa.

Meski di tengah keterbatasan, upaya pemulihan terus kita lakukan, dengan harapan perhatian Pemerintah Pusat dapat mengalir ke Kota Langsa, khususnya bagi keberlangsungan Museum Kota Langsa sebagai ruang belajar sejarah dan kebudayaan masyarakat.

Lanjutnya, dengan segala kerendahan hati, kami berharap Bapak Menteri Kebudayaan berkenan berkunjung ke Kota Langsa, melihat langsung kondisi museum kami.

“Semoga dengan kehadiran beliau tentu akan menjadi penguat semangat bagi masyarakat dan para pegiat kebudayaan yang saat ini sedang berjuang memulihkan museum pascabanjir,” ujar Wali Kota dengan nada penuh harap.

Sementara, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah I Aceh, Piet Rusdi, S.Sos mengatakan bahwa pihaknya tidak tinggal diam melihat kondisi Museum Kota Langsa yang terdampak cukup parah.

Bersama Kementerian Kebudayaan, pemerintah daerah, serta melibatkan masyarakat melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Langsa, berbagai langkah awal telah dilakukan.

“Melihat kondisi yang sangat memprihatinkan ini, kami bersama-sama menggelar gotong royong pembersihan lumpur di area museum. Kegiatan gotong royong ini telah berlangsung sejak 30–31 Desember 2025 dan terus berlanjut hingga 3 Januari 2026,” jelas Piet Rusdi.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa kerusakan yang terjadi tidak mungkin dapat diselesaikan dalam waktu singkat dan membutuhkan penanganan yang berkelanjutan.

“Kehadiran perwakilan Kementerian Kebudayaan kami harapkan menjadi ‘Meusuraya,’ sebagai pemantik semangat bagi masyarakat untuk terus bergotong royong menjaga dan memulihkan warisan budaya daerah.

Saat ini kami juga sedang menyusun data dan laporan kerusakan sebagai dasar untuk langkah lanjutan dalam upaya perbaikan Museum Kota Langsa,” tandas Piet Rusdi.

Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Langsa, Bobby Edwin, ST menyampaikan terima kasih yang tulus kepada Kementerian Kebudayaan beserta jajarannya atas program bantuan tanggap darurat bencana yang telah diberikan untuk Aceh, khususnya Kota Langsa.

“Kami sangat berterima kasih dan apresiasi atas perhatian serta bantuan yang telah diberikan. Kami hanya berharap, kebudayaan di Langsa tidak ikut tenggelam akibat bencana ini,” ucapnya.

Bobby juga berharap dukungan Pemerintah Pusat dapat menjadi energi baru dalam membangkitkan kembali kebudayaan Aceh dan Kota Langsa secara khusus, agar museum kembali hidup sebagai ruang edukasi dan pembelajaran sejarah bagi generasi muda.

Harapan itu juga terpantul dari mata seorang pelajar Kota Langsa yang ditemui di sekitar museum. Dengan suara lirih, ia menyampaikan keinginannya agar Museum Langsa kembali pulih.

“Saya berharap Menteri Kebudayaan bisa datang melihat museum kami. Semoga museum ini bisa dibantu dan kembali seperti dulu, supaya kami bisa belajar sejarah dan budaya Langsa,” ungkapnya.

Di tengah lumpur yang belum sepenuhnya mengering, Museum Kota Langsa kini menjadi simbol harapan akan kepedulian, gotong royong, dan tangan-tangan yang bersatu untuk menjaga sejarah agar tetap hidup, meski diterpa bencana. (id75)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE
Aceh

BIREUEN (Waspada.id): Bupati Bireuen H, Mukhlis tidak mengusulkan Hunian sementara (Huntara) kepada korban banjir bandang di sejumlah kecamatan di wilayah Kabupaten Bireuen. Hal tersebut dijawab bupati saat ditanyakan wartawan berapa…

Aceh

BENER MERIAH (Waspada.id): Kapolda Aceh Irjen Pol. Drs. Marzuki Ali Basyah menyerahkan bantuan kemanusiaan kepada para pengungsi sekaligus mendengarkan keluhan masyarakat terdampak bencana banjir dan tanah longsor di Kampung Tunyang…