SIGLI (Waspada.id): Hujan berintensitas tinggi yang mengguyur Kabupaten Pidie, Aceh, Kamis (8/1) pagi, memicu banjir di sejumlah kecamatan dan menimbulkan gangguan akses di ruas Jalan Nasional Banda Aceh–Medan, kawasan Padang Tiji.
Genangan air turut merendam permukiman warga di Kecamatan Muara Tiga dan Batee, termasuk lebih dari 15 gampong, sehingga mobilitas dan arus transportasi lintas provinsi mengalami hambatan.
Luapan air mulai menggenangi badan jalan sejak pukul 09.00 WIB dengan ketinggian 15–20 sentimeter. Hingga pukul 11.45 WIB, arus kendaraan dari dua arah tersendat.
Sebagian pengendara memilih berhenti menunggu air surut, sementara sejumlah sepeda motor nekat melintas dan berisiko mogok.
Warga di lokasi terdampak terlihat sigap membantu pengguna jalan yang kesulitan. Anak-anak bersama orang tua berjalan di tepian jalan, menyusuri rute aman menuju rumah masing-masing.
“Hujan sebentar saja, air cepat sekali naik. Ini sudah jadi siklus tiap musim hujan,” ujar Randi, warga setempat, dalam pantauan di lapangan.
Banjir dilaporkan merendam sedikitnya 15 gampong beserta fasilitas umum. Wilayah yang terdampak meliputi Gampong Cot, Gampong Mesjid, Gampong Teungku Dilaweung, Gampong Suka Jaya, Gampong Pawod, Gampong Sagoe, Gampong Ujong Pie, Gampong Batee, Gampong Ingin Jaya, Gampong Simpang Butong, kawasan Krueng Paloh, Gampong Paloh, Kupula Tanjong, serta Waduk Lhok Kumudee di Kecamatan Batee.
Di sejumlah gampong, air telah masuk ke rumah warga dan merendam lantai. Beberapa keluarga bertahan di titik yang lebih aman sembari menunggu bantuan.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pidie, Muhammad Rabiul, membenarkan kondisi banjir yang terjadi secara cepat akibat derasnya hujan.
“Hujan berdurasi singkat, tetapi intensitasnya tinggi. Sungai dan drainase tidak mampu menampung debit air. Sejak pagi kami mengerahkan personel untuk asesmen, evakuasi terbatas, dan koordinasi bantuan ke gampong yang mulai dimasuki air,” ujarnya.
Menurut dia, banjir cepat di Pidie merupakan fenomena berulang yang membutuhkan penanganan menyeluruh.
“Perlu normalisasi sungai, peningkatan kapasitas drainase, dan pengelolaan sampah yang lebih serius agar banjir cepat surut dan tidak terus meluas,” kata Rabiul.
Faktor Pemicu
Berdasarkan asesmen di lapangan, banjir cepat di Pidie dipengaruhi oleh curah hujan ekstrem yang melampaui kapasitas saluran air, drainase yang tersumbat sampah, menyusutnya kawasan resapan akibat pembangunan, kapasitas sungai yang relatif kecil, serta tata ruang wilayah yang belum berbasis mitigasi bencana.
BPBD mengimbau warga mewaspadai hujan susulan dalam beberapa jam ke depan. Pemerintah gampong diminta menyiapkan langkah siaga, khususnya di kawasan rawan genangan.
Hingga berita ini diturunkan, tim BPBD masih berada di lapangan melakukan pemantauan dan asesmen lanjutan.(id69)











