Aceh

Bayang Kuat Ketua Komisioner Baitul Mal Pidie

Bayang Kuat Ketua Komisioner Baitul Mal Pidie
Kecil Besar
14px

Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Pidie telah mengetuk palu. Lima nama resmi ditetapkan sebagai Komisioner Baitul Mal periode 2025–2030. Namun di balik ketetapan itu, satu ruang masih dibiarkan hening siapa yang akan memimpin?

Di lembar keputusan, nama-nama berdiri seperti bintang di langit yang sama, M. Jakfar, S.E, Idrus, S.Ag, Said Usman, Dahnial, dan Samsul Bahri, S.H. Lima cahaya telah dinyalakan, namun belum ada yang ditunjuk sebagai arah.

Mereka adalah perahu yang telah sampai di dermaga yang sama. Namun lautan hanya memberi satu kemudi, dan arah tidak pernah dipilih tanpa pertimbangan yang dalam. Idrus, S.Ag menjaga cahaya syariat.

Said Usman, mantan komisioner periode 2020–2025, membawa bekal pengalaman.
Dahnial hadir dalam tenang yang menyimpan keseimbangan. Samsul Bahri, S.H berdiri sebagai pagar hukum.

Sementara itu, Baitul Mal bukan sekadar lembaga. Ia adalah tempat amanah berlabuh di mana zakat, infak, dan sedekah bertemu dengan harapan masyarakat kecil. Sebuah ruang sunyi yang menuntut keadilan bekerja tanpa suara.

Dalam ajaran Islam, kepemimpinan adalah beban yang kelak dimintai jawaban. “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…” (QS. An-Nisa: 58) dan Rasulullah SAW bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintaivpertanggungjawaban…” (HR. Bukhari dan Muslim).

Di tengah sunyi yang belum terjawab itu, pengamat sosial keagamaan Imam Syafii melihat adanya arah yang mulai terbaca, meski belum diumumkan. Menurutnya, jika melihat komposisi yang ada, figur dengan latar ekonomi dan kemampuan manajerial memiliki peluang lebih besar untuk memimpin.

“Baitul Mal hari ini tidak cukup hanya dipahami dari sisi syariat saja, tetapi juga harus kuat dalam pengelolaan. Karena itu, figur yang menguasai aspek ekonomi biasanya lebih dibutuhkan untuk memastikan distribusi berjalan tepat dan terukur,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa pengalaman dan integritas tetap menjadi faktor penting, namun kebutuhan tata kelola modern membuat pendekatan profesional semakin relevan.

“Kalau kita membaca arah kebutuhan lembaga, ada kecenderungan pilihan itu akan jatuh pada figur yang mampu menggabungkan manajemen dan amanah. Dan itu mengerucut,” katanya.

Meski tidak menyebut secara gamblang, ia mengakui bahwa publik mulai bisa membaca ke mana arah itu condong. Kini, lima nama telah ditetapkan. Namun satu nama perlahan mulai ditafsirkan.

Seperti angin yang tidak terlihat namun terasa, seperti arus yang diam-diam menggerakkan perahu, prediksi pun mulai mengalir, bahwa kemudi itu kemungkinan besar akan jatuh ke tangan M. Jakfar, S.E.

Bukan sebagai kepastian, melainkan sebagai kecenderungan yang menguat. Dan jika arah itu tidak berubah, maka yang hari ini masih menjadi teka-teki, esok bisa saja menjadi keputusan.

Muhammad Riza

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE