BANDA ACEH (Waspada.id): Banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra berdampak langsung terhadap rantai pasok pangan, termasuk sektor usaha ayam potong.
Gangguan akses transportasi dari sentra peternakan menyebabkan pasokan ayam hidup dan bahan pendukung produksi tersendat, sehingga memicu kelangkaan dan kenaikan harga di tingkat pedagang.
Ade, pelaku usaha White Chicken yang bergerak di bidang penjualan ayam potong di kawasan Ulee Kareng, Banda Aceh, mengaku merasakan dampak bencana tersebut secara langsung. Pasokan ayam yang selama ini didatangkan dari luar daerah, terutama Medan, Sumatra Utara, sempat terhambat dalam waktu cukup lama.
“Jalur pasokan dari Medan ke Aceh sempat terganggu dan dampaknya masih terasa hingga sekarang,” kata Ade, Selasa (6/1/2025).
Ia menjelaskan, selain hambatan distribusi, sejumlah peternakan juga belum kembali beroperasi secara normal. Kondisi cuaca yang belum stabil serta lumpur sisa banjir di beberapa lokasi bencana membuat peternak menunda pemasokan bibit ayam baru.
“Banyak peternakan belum mulai kembali memasok bibit ayam karena situasi belum kondusif. Akses memang sudah lancar, tapi dampaknya ke pasar masih terasa,” ujarnya.
Akibat keterbatasan pasokan, harga ayam potong mengalami kenaikan signifikan. Ade menyebutkan, pada kondisi normal harga ayam berkisar Rp20.000 hingga Rp22.000 per kilogram. Namun saat ini harga jual melonjak hingga Rp30.000 sampai Rp35.000 per kilogram.

“Kenaikan ini terjadi karena kelangkaan ayam dan ketidakpastian pasokan serta harga dari pemasok,” jelasnya.
Kondisi tersebut turut berdampak pada konsumen, khususnya pelaku usaha kuliner. Ade mengatakan, sebelumnya pihaknya mampu mendistribusikan hingga sekitar 1.000 ekor ayam per hari ke berbagai rumah makan di Banda Aceh. Namun meningkatnya harga membuat sebagian pelanggan mengurangi bahkan menghentikan permintaan.
“Sekarang permintaan menurun karena harga tinggi. Kami berharap situasi segera pulih agar pasokan kembali normal dan harga bisa stabil,” katanya.
Banjir dan longsor memang berangsur surut, namun dampaknya terhadap aktivitas ekonomi, khususnya rantai pasok di bidang pangan, masih dirasakan pelaku usaha.(hulwa)











