BIREUEN (Waspada.id): Tangannya erat menggenggam tangan anaknya, Fitri berjalan pelan menyusuri aliran air Krueng Peusangan yang menggenangi betisnya.
Demi menjaga keselamatan putranya yang bersekolah di SD, ia rela menghadapi risiko setiap pagi dan sore hari, karena tidak ada pilihan lain selain menyeberangi sungai yang dulunya bisa dilalui melalui jembatan gantung.

“Tiap pagi saya dampingi untuk nyeberang sungai. Begitu juga dengan siang saat pulang sekolah, bila air sungai besar anak saya tidak sekolah,” ujar Fitri kepada Waspada.id, Kamis (15/1), saat mengantar anaknya pulang ke Desa Bale Panah, Dusun Alue Ue, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen.
Jalan alternatif yang ada jauh sekali, harus melewati bekas lokasi banjir di pinggiran sungai arah selatan dan melintasi bukit dengan jalur yang sangat sulit dilewati. “Untuk kami perempuan tidak bisa,” tambahnya dengan nada khawatir.
Murid-murid SD di daerah tersebut umumnya bersekolah di SDN 15 dan SDN 16 Kecamatan Juli, sementara beberapa pelajar SMP juga menghadapi kondisi sama.
Mereka harus menempuh sekitar 60 meter jalan kaki di bagian sungai yang dangkal, sebelum melanjutkan perjalanan dengan perahu tanpa mesin yang dikemudi oleh warga setempat agar bisa tepat waktu masuk kelas.

Tak hanya pelajar, warga masyarakat juga terpaksa menggunakan jalur yang sama untuk aktivitas sehari-hari.
Semua ini terjadi setelah jembatan gantung yang menjadi akses utama roboh dan tidak meninggalkan bekas akibat diterjang banjir bandang beberapa waktu lalu, yang juga menyebabkan sebagian warga kehilangan rumah mereka.(id73)










