Senja di Sigli bukan sekadar pergantian waktu, melainkan ruang pertemuan antara empati dan harapan.
Di tengah lalu lintas yang melambat dan detik-detik menuju azan magrib, tangan-tangan berseragam berdiri di tepi jalan, membagikan takjil kepada para pengendara. Ramadhan menghadirkan pesan sederhana namun kuat, kehadiran aparat dapat terasa menenangkan, bukan semata menertibkan.
Di depan Mapolres Pidie, kegiatan berbagi takjil yang dilakukan jajaran kepolisian bersama Bhayangkari menjadi simbol kedekatan itu. Langkah yang tampak kecil tersebut menyimpan makna lebih dalam tentang upaya membangun hubungan yang setara dan penuh empati antara aparat dan masyarakat.
Kapolres Pidie Jaka Mulyana, S.I.K., M.I.K., menegaskan bahwa pembagian takjil merupakan bentuk kepedulian Polri kepada masyarakat, khususnya bagi mereka yang masih berada di perjalanan saat waktu berbuka tiba.

“Kami ingin menumbuhkan rasa kebersamaan dan memperkuat silaturahmi antara Polri dan masyarakat, sekaligus menghadirkan suasana Ramadhan yang penuh berkah,” ujarnya.
Secara spiritual, tindakan berbagi itu memiliki landasan kuat. Al-Qur’an dalam Surah Al-Baqarah ayat 261 menggambarkan pahala sedekah yang berlipat ganda, seperti benih yang menumbuhkan tujuh bulir, masing-masing seratus biji.
Dalam hadis riwayat Tirmidzi juga ditegaskan, “Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang tersebut.” Nilai ini menegaskan bahwa berbagi bukan sekadar soal makanan pembuka puasa, melainkan tentang menanam kebaikan yang berbuah keberkahan.
Bagi masyarakat, makna kegiatan itu terasa langsung. Rahmad, 34, seorang pengendara, mengaku terbantu karena belum sempat membeli makanan berbuka. “Kami merasa diperhatikan. Hal kecil seperti ini berarti bagi kami yang masih di jalan,” katanya.
Hal serupa disampaikan Nuraini,42, warga Sigli, yang melihat sisi humanis dalam kegiatan tersebut. “Biasanya kami bertemu polisi saat razia. Kali ini suasananya berbeda, lebih hangat,” ujarnya.
Tentu, pembagian takjil tidak serta-merta menyelesaikan seluruh tantangan dalam relasi aparat dan publik. Namun pengalaman kecil yang positif dapat menjadi fondasi penting dalam membangun kepercayaan. Polisi tetap menjalankan fungsi penegakan hukum dengan tegas, tetapi sentuhan empati menjadi pelengkap yang membuat kehadiran mereka lebih diterima.
Ramadhan mengajarkan bahwa menahan diri melahirkan kepedulian, dan kepedulian menumbuhkan simpati. Jika nilai-nilai ini terus terjaga, bukan hanya di bulan suci tetapi juga dalam pelayanan sehari-hari, maka simpati masyarakat akan bertransformasi menjadi kepercayaan yang kokoh.
Dari sebungkus takjil di tepi jalan, terbangun pesan sederhana namun bermakna, hubungan antara aparat dan masyarakat dapat dirawat melalui tindakan kecil yang tulus, konsisten, dan penuh empati.
Muhammad Riza












