BKPRMI Aceh Fokus Bina TPA Berbasis Masjid

- Aceh
  • Bagikan
Ketua BKPRMI Aceh Mulia Rahman dan Panitia FASI XII Aceh sedang memberikan keterangan kepada Media, Minggu (06/11/22), terkait akan digelarnya FASI di Asrama Haji Banda Aceh. (Waspada/T.Mansursyah)
Ketua BKPRMI Aceh Mulia Rahman dan Panitia FASI XII Aceh sedang memberikan keterangan kepada Media, Minggu (06/11/22), terkait akan digelarnya FASI di Asrama Haji Banda Aceh. (Waspada/T.Mansursyah)

BANDAACEH (Waspada): BKPRMI Aceh sedang konsen dalam hal pembinaan pendidikan generasi muda dari yang kecil yaitu pembinaan Taman Pendidikan Alquran.

Hal ini diungkapkan, Dr. Mulia Rahman, S.Pd.I MA Ketua Umum BKPRMI Aceh disela-sela persiapan Festival Anak Shaleh Indonesia (FASI) Tingkat Provinsi Aceh di Asrama Haji Banda Aceh, Minggu (06/11/22).

Menurut Mulia, ada tiga tipe lembaga pendidikan Al Quran berbasis Masjid dan TKA, TPA dan TQA ini yang sedang kita godok. “Karena Taman Pendidikan Al-qur’an ini adalah wujud dari pendidikan berbasis masyarakat Aceh dulu sangat kuat dengan pergerakan Masjid. Semua masjid itu tidak ada kegiatan yang tidak ada Taman Pendidikan al Qurannya di Aceh. Tapi hari ini mulai sepi,” jelas Mulia.

Fenomena di Aceh kini terkait harmonisasi masjid dan TPA, sebut Mulia, ada permasalahanya tersendiri. Anak-anak TPA sering kali saat berada masjid tertentu diusir. “Memang anak-anak ribut. Tapi sekalian, hari ini kita ingin kembali hidupkan aktivitas pendidikan Al Quran dalam masyarakat berbasis masjid. Itu karena TPA adalah wujud dari pendidikan berbasis masyarakat yang ada di Aceh,” sebutnya.

Menurutnya, ini harus kita angkat kembali, harus kita sosialisasikan kembali sehingga semua masjid itu tidak ada kesepian dari pengajian anak-anak. “Toh karena mereka adalah generasi pemimpin Aceh masa depan’. itu harus lahir dari rahim masjid. Harus lahir dari orang pemimpin yang Qurani. Itu target kita, dan salah satu kegiatan yang dilakukan adalah Festival Anak Shaleh Indonesia berkembang,” ungkap Mulia.

Hari ini, lanjut Mulia, pasti sebagian sudah sering mendengar tapi sebagian lainnya itu mungkin agak kurang tahu kenapa ini terjadi. “Ya, dengan dinamika yang kita sampaikan sebelumnya tentu sudah mulai hidup dinamika ini dari dunia pendidikan anak-anak, menuju Festival Anak Shaleh. Ini yang pertama
merupakan bagian dari wujud evaluasi pendidikan berbasis masyarakat di masjid,” jelasnya.

Dengan adanya Festival Anak Shaleh itu, ulas Mulia, pertama anak-anak didik dapat kita mengevaluasi kurikulum pendidikannya yang ada di masjid. Kedua kita bisa mengevaluasi pendidikan ustad-ustazahnya. “Ini menjadi penting, karena kalau ini tidak kita evaluasi maka akan berdampak pada kualitas pendidikan Anak,” ungkapnya.

Hal lain, sebut Mulia, Festival Anak Shaleh ini dilakukan karena sebagai wujud uji tampilan yang terbaik. Dan menjadi ruang pembibitan Kafilah MTQ Aceh. “Bisa disebut FASI miniatur Kegiatan MTQ di setiap jenjangnya,” tutupnya. (b02)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *