Aceh

Bocah Pijay Tertidur di Atas Lumpur

Bocah Pijay Tertidur di Atas Lumpur
Seorang bocah di Pidie Jaya terbaring di atas tikar lusuh di depan rumahnya yang masih dipenuhi lumpur tebal, dua bulan setelah banjir bandang menerjang, sementara bantuan pemulihan belum juga benar-benar menyentuh kehidupan warga.Waspada.id/Muhammad Riza
Kecil Besar
14px

Di sebuah sudut rumah yang masih dikepung lumpur setebal hampir dua meter, seorang bocah di Gampong Meunasah Raya, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya (Pijay) terlelap di atas selembar plastik bening.

Tidak ada kasur darurat. Tidak ada tikar standar bencana. Tidak ada selimut bantuan yang semestinya menjadi perlengkapan paling dasar penanganan pascabencana. Yang ada hanya tubuh kecil yang meringkuk, tidur di tengah bau lumpur yang basi, seolah waktu berhenti sejak banjir bandang menghajar Pijay 26 November 2025.

Nuraini,55, pemilik rumah tempat bocah itu beristirahat, sudah berulang kali mencoba membersihkan lumpur yang menimbun ruangannya. Tingginya mencapai pinggang orang dewasa. “Saya tidak sanggup lagi. Sudah bayar orang untuk bantu bersihkan, tetapi rumah tetap begini,” ujarnya dengan suara parau.

Di ruang itu, bantal anak-anak terendam lumpur, pakaian kecil mengeras oleh tanah yang mengering, dan perabot retak berserakan seperti ingatan buruk yang tidak selesai. Namun bocah itu tidur dengan tenang, bukan karena nyaman, tetapi karena kelelahan.

“Anak-anak tidur begini sudah hampir dua bulan. Mereka kedinginan, tetapi bantuan alas tidur pun tidak ada,” kata Suryani, warga lainnya, menahan getir.

Sementara warga masih berdiri di antara lumpur yang tidak pernah kering, para pejabat sebagaimana biasa masih berdiri di balik kalimat yang sama, “sedang diupayakan, menunggu pendataan, menunggu laporan teknis.” Padahal lumpur tidak menunggu. Anak-anak apalagi.

Dua perempuan di Gampong terdampak banjir bandang Pidie Jaya beristirahat di antara timbunan lumpur yang menelan hampir seluruh halaman dan bagian rumah mereka, sementara proses pembersihan belum juga tersentuh bantuan.Waspada.id/Muhammad Riza

Di Meunasah Raya dan sejumlah dusun lain, warga terpaksa menyewa alat berat menggunakan uang sendiri. Biayanya mencapai Rp1,5 juta per hari. “Kalau tidak kami sewa, rumah tidak akan bersih sampai Ramadhan,” ujar Yusuf, warga setempat. Banyak yang terpaksa berutang, karena tidak sanggup hidup lebih lama dalam tumpukan endapan setinggi dua meter.

Temuan Aliansi Solidaritas Pemuda Pidie Jaya yang dirilis 31 Januari 2026 memperkuat kondisi itu. “Banyak rumah belum tersentuh pembersihan. Banyak anak hidup di ruang tidak layak huni,” kata koordinatornya, Dedi Saputra, Sabtu (31/1)

Ia menambahkan bahwa sebagian warga sudah menyerah dan memilih tinggal di rumah kerabat karena tidak ada alternatif hunian sementara dari pemerintah.

Di luar sana, para pejabat mungkin masih sibuk memastikan kamera menyala setiap kali mereka turun lapangan.

Tetapi di Meunasah Raya, kenyataannya jauh dari foto-foto yang diunggah ke akun resmi. Bocah itu tidur di atas plastik tipis malam ini, sekeping kenyataan yang tidak bisa dibantah oleh konferensi pers mana pun. Ia sudah melakukan bagiannya bertahan. Tinggal negara yang belum.

Muhammad Riza

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE