Di sebuah sudut rumah yang masih dikepung lumpur setebal hampir dua meter, seorang bocah di Gampong Meunasah Raya, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya (Pijay) terlelap di atas selembar plastik bening.
Tidak ada kasur darurat. Tidak ada tikar standar bencana. Tidak ada selimut bantuan yang semestinya menjadi perlengkapan paling dasar penanganan pascabencana. Yang ada hanya tubuh kecil yang meringkuk, tidur di tengah bau lumpur yang basi, seolah waktu berhenti sejak banjir bandang menghajar Pijay 26 November 2025.
Nuraini,55, pemilik rumah tempat bocah itu beristirahat, sudah berulang kali mencoba membersihkan lumpur yang menimbun ruangannya. Tingginya mencapai pinggang orang dewasa. “Saya tidak sanggup lagi. Sudah bayar orang untuk bantu bersihkan, tetapi rumah tetap begini,” ujarnya dengan suara parau.
Di ruang itu, bantal anak-anak terendam lumpur, pakaian kecil mengeras oleh tanah yang mengering, dan perabot retak berserakan seperti ingatan buruk yang tidak selesai. Namun bocah itu tidur dengan tenang, bukan karena nyaman, tetapi karena kelelahan.
“Anak-anak tidur begini sudah hampir dua bulan. Mereka kedinginan, tetapi bantuan alas tidur pun tidak ada,” kata Suryani, warga lainnya, menahan getir.
Sementara warga masih berdiri di antara lumpur yang tidak pernah kering, para pejabat sebagaimana biasa masih berdiri di balik kalimat yang sama, “sedang diupayakan, menunggu pendataan, menunggu laporan teknis.” Padahal lumpur tidak menunggu. Anak-anak apalagi.

Di Meunasah Raya dan sejumlah dusun lain, warga terpaksa menyewa alat berat menggunakan uang sendiri. Biayanya mencapai Rp1,5 juta per hari. “Kalau tidak kami sewa, rumah tidak akan bersih sampai Ramadhan,” ujar Yusuf, warga setempat. Banyak yang terpaksa berutang, karena tidak sanggup hidup lebih lama dalam tumpukan endapan setinggi dua meter.
Temuan Aliansi Solidaritas Pemuda Pidie Jaya yang dirilis 31 Januari 2026 memperkuat kondisi itu. “Banyak rumah belum tersentuh pembersihan. Banyak anak hidup di ruang tidak layak huni,” kata koordinatornya, Dedi Saputra, Sabtu (31/1)
Ia menambahkan bahwa sebagian warga sudah menyerah dan memilih tinggal di rumah kerabat karena tidak ada alternatif hunian sementara dari pemerintah.
Di luar sana, para pejabat mungkin masih sibuk memastikan kamera menyala setiap kali mereka turun lapangan.
Tetapi di Meunasah Raya, kenyataannya jauh dari foto-foto yang diunggah ke akun resmi. Bocah itu tidur di atas plastik tipis malam ini, sekeping kenyataan yang tidak bisa dibantah oleh konferensi pers mana pun. Ia sudah melakukan bagiannya bertahan. Tinggal negara yang belum.
Muhammad Riza












