Pagi di Gampong Liliep Bungie selalu punya satu suara yang membuat orang merasa tidak sendirian. Suara itu datang dari sebuah Kijang 1981 yang sudah renta, berkarat di beberapa sisi, tetapi masih menyala dengan tenaga yang entah dari mana.
Di balik kapnya, ada seorang lelaki berusia 61 tahun bernama Burhan, nama sederhana yang sangat familiar bagi ratusan perut yang menggantungkan harapan pada beras setiap hari.
Setiap pagi, Burhan bangun lebih dulu dari matahari. Ia memeriksa oli, menyeka debu, lalu menghidupkan mesinnya. “Bismillah,” bisiknya ritual yang ia jalani selama sepuluh tahun terakhir.
Burhan tidak memikirkan besar kecilnya jasa. Yang ia tahu hanyalah: jika ia tidak datang, ada dapur-dapur yang mungkin tidak mengepul hari itu.
Dalam beberapa bulan terakhir, kondisi ekonomi warga makin terasa seret. Harga beras naik, sementara pendapatan banyak keluarga tidak ikut bergerak. Banyak ibu rumah tangga memilih mengencangkan ikat pinggang. Dan di sela kecemasan itu, warga punya satu jalan keluar, menggiling padi simpanan sendiri.
Karena itulah, suara mesin Burhan menjadi semakin dibutuhkan. Tgk Nyak Syarif, petani yang sudah lama mengenal Burhan, bercerita sambil menarik napas panjang: “Sekarang harga beras tinggi kali. Jemput beras di kedai pun pikir dua kali. Untung ada padi simpanan, dan untung ada Burhan yang siap menggiling kapan kami perlu,” katanya.
Bagi Mahyuddin, Burhan adalah orang pertama yang diingat setiap kali warga kesulitan membeli beras. “Kalau padi tidak cepat digiling, dapur tidak hidup. Kami simpan padi sedikit-sedikit, dan saat butuh, kami panggil Burhan. Mesin tua itu datang macam keluarga sendiri,” ujarnya.
Mislina punya kenangan yang membuat matanya berkaca. “Beras mahal. Uang belanja pas-pasan. Waktu saya mau menggiling, kurang lima ribu… Burhan cuma bilang, ‘Sudah bu, nanti saja.’ Tulus sekali.” ceritanya mengenang.
Junaidi, petani muda, menambahkan dengan jujur. “Kalau kami telepon karena padi harus cepat digiling jadi beras, Burhan langsung jawab. Dia tahu hidup kami tidak boleh telat makan sehari saja.” ungkapnya.

Fatimah, ibu dua anak yang kini lebih sering mengandalkan padi simpanan, berkata pelan. “Kadang beras di kedai tidak terjangkau. Jadi kami giling padi yang tinggal sedikit itu. Burhan datang sebelum kami resah. Kadang lewat depan rumah, seperti tahu kami sedang kepepet,” ujarnya bercerita.
Dan Rasyid, petani tua, menutup dengan suara yang bergetar. “Dengan harga beras setinggi ini, orang seperti Burhan itu berkah. Dia datang bukan karena wajib. Dia datang karena dia tahu kami sedang susah,” tuturnya lirih.
Burhan bekerja tanpa jam tetap. Tanpa seragam. Tanpa papan nama. Yang ia bawa hanyalah keikhlasan, satu mesin tua, dan kesadaran bahwa jasa kecil bisa menjaga kehidupan banyak keluarga.
Saat jalan licin, ia tetap datang. Saat hujan deras, ia tetap melaju. Saat mesin mogok, ia duduk di tanah, membongkarnya sendiri. Tekanan hidup warga membuat panggilan untuk Burhan semakin sering. Dan ia selalu menjawabnya karena ia tahu. “Jangan sampai ada keluarga yang menunggu terlalu lama untuk menggiling padi jadi beras.”
Bagi sebagian orang, menggiling padi hanyalah pekerjaan biasa. Bagi Burhan, itu adalah cara menjaga dapur tetap hidup di tengah harga beras yang terus naik, cara menjaga harapan di tengah ekonomi yang makin seret.vIa tidak menuntut ucapan terima kasih.
Tidak mengejar apresiasi. Yang ia kejar hanyalah waktu agar beras cepat tiba, agar anak-anak tetap bisa makan hari itu.
Kijang 1981 itu mungkin tua, tetapi ia tetap bekerja.Begitu juga Burhan. Selama suara mesinnya masih terdengar di pagi hari, warga Bungie tahu ada seseorang yang memikirkan mereka, bahkan sebelum mereka meminta bantuan.
Di kampung seperti Bungie, ketenangan memang sering datang dari hal-hal sederhana, dari seorang lelaki 61 tahun yang bekerja dalam diam, menjadi penolong yang sangat familiar, terutama saat ekonomi seret dan harga beras membuat banyak dapur resah.
Muhammad Riza











