AcehFeatures

Cerita Pilu Dari Simpang Empat Mereudu: Pengorbanan Seorang Ibu Di Tengah Amukan Banjir

Cerita Pilu Dari Simpang Empat Mereudu: Pengorbanan Seorang Ibu Di Tengah Amukan Banjir
Gambar hanya ilustrasi semata. Waspada.id
Kecil Besar
14px

Simpang Empat Mereudu kembali menyimpan kisah pilu yang menggetarkan hati. Di balik derasnya banjir yang tiba-tiba melanda daerah itu, terselip sebuah cerita tentang cinta seorang ibu yang lebih luas dari genangan air, lebih kuat dari derasnya arus, dan lebih abadi dari usia manusia. Ini adalah kisah tentang seorang ibu yang mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan buah hatinya.

Pada hari naas itu, air mulai naik perlahan. Warga sempat mengira banjir hanya akan sebatas halaman seperti biasanya. Namun kali ini berbeda. Air makin meninggi dengan cepat, tak memberi waktu bagi siapa pun untuk bersiap. Di sebuah rumah sederhana di Simpang Empat Meureudu, seorang ibu muda bergegas menggendong anaknya yang masih kecil ketika air mulai menyentuh palang pintu.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

IKLAN

Ia membawa anaknya naik ke para-para, berharap ketinggian itu cukup untuk menyelamatkan diri. Tetapi kenyataan berkata lain. Air terus merayap, menggenangi setiap sudut rumah. Dengan napas tersengal dan tubuh yang mulai gemetar, ia naik ke bagian atap rumah setelah membongkar sedikit plafon. Dengan susah payah, ia mengangkat anaknya ke atas, menyisakan dirinya yang harus berjuang terakhir.

Namun bencana itu terlalu besar. Dalam hitungan menit, rumah tempat mereka berteduh selama ini tenggelam seluruhnya. Sang ibu melihat satu-satunya harapan: pohon mangga yang berdiri tak jauh dari rumahnya. Ia meraih batang pohon itu, memanjat dengan segenap tenaga sambil menggendong anaknya.

Di tengah angin dan arus banjir yang menggila, ia mengikat tubuh anaknya dengan sehelai kain yang terbawa olehnya. Tangannya gemetar, bukan hanya karena kedinginan, tetapi karena ia tahu inilah pertaruhan terakhirnya. Dengan hati seorang ibu, ia memastikan ikatan itu kuat, memastikan anaknya aman—meski ia sendiri tak tahu apa yang akan terjadi padanya.

Ketika anaknya telah aman di dahan pohon mangga, malang tak dapat ditolak. Dalam upayanya memperbaiki posisi, sang ibu terpeleset. Tubuhnya terjatuh ke air, terbawa arus banjir yang tak mengenal belas kasihan. Ia berusaha menggapai sesuatu, apa pun, namun arus lebih perkasa. Dalam sekejap, sang ibu hilang dari pandangan—meninggalkan anak yang masih terikat di atas pohon, tak tahu apa yang baru saja terjadi.

Anak itu bertahan di dahan pohon mangga, sendirian, menggigil, sementara banjir berangsur surut. Ia menunggu tanpa memahami bahwa ibu yang selalu memeluknya kini tak akan kembali. Ketika air mulai turun, seorang tetangga melihat sosok kecil itu di atas pohon. Dengan air mata yang sulit dibendung, mereka menurunkannya perlahan, menyadari bahwa anak itu selamat karena cinta seorang ibu yang tidak pernah surut.

Kisah ini menyebar cepat di Simpang Empat Meureudu, mengguncang batin siapa pun yang mendengarnya. Ini bukan hanya tragedi, tetapi juga sebuah pengingat tentang kekuatan pengorbanan seorang ibu—kekuatan yang bahkan banjir bandang pun tak mampu menenggelamkan maknanya.

Sang ibu mungkin telah pergi, namun cintanya tetap tinggal, abadi, terpatri dalam hidup anaknya dan dalam ingatan seluruh warga yang menyaksikan betapa luar biasanya kasih seorang ibu.

Simpang Empat Meureudu berkabung, tetapi juga belajar: bahwa seorang ibu adalah pahlawan, bahkan ketika dunia runtuh sekalipun.
Saya tulis saat mengunjungi adik yang tertimpa musibah banjir, ia menceritakan kejadian ini kepada saya Sabtu, 29/11/2025. Penulis Yuda Syahri Yanti/WASPADA.id

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE