Suara azan menggema dari meunasah (surau) di Gampong (desa-red) Lampeudeu Baroh, Kecamatan Pidie, Kabupaten Pidie memanggil jiwa-jiwa untuk bersujud.
Lantunannya menyentuh kesadaran kolektif tentang kewajiban, keikhlasan, dan tanggung jawab sosial. Ketika gema azan mereda, kehidupan pun bergerak. Di sudut gampong, sebuah dapur mulai menyala. Di sanalah ikhtiar sosial diterjemahkan menjadi kerja nyata Dapur SPPG Kadin Kabupaten Pidie.

Pagi belum benar-benar tinggi ketika aktivitas dapur dimulai. Kepulan uap dari panci-panci besar mengisi ruangan. Puluhan tangan bekerja tanpa jeda menyiangi sayur, membersihkan ikan, menakar nasi, hingga menyusun porsi makanan yang akan didistribusikan hari itu.

Di dapur sederhana ini, nilai ibadah dan kerja kemanusiaan bertemu. Hingga 26 Januari 2026, dapur ini telah melayani 2.693 penerima manfaat. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan potret ribuan anak sekolah, balita, ibu hamil, ibu menyusui, serta tenaga pendidik yang setiap hari menggantungkan asupan gizi pada keberlanjutan program ini.
Di balik operasional dapur, Ketua Kadin Kabupaten Pidie Muhammad SP menyebut roda layanan digerakkan oleh tiga orang SPPI, Kepala SPPG, akuntan, dan ahli gizi yang memastikan dapur berjalan sesuai standar. Mereka dibantu 47 relawan dapur, warga lokal yang bekerja sejak subuh hingga makanan terakhir dibagikan.

“Relawan dapur mendapat insentif harian antara Rp110.000 hingga Rp200.000 per orang,” ujar Muhammad SP, Selasa (27/1).
Namun dapur ini tidak hanya memberi makan ribuan perut. Ia juga menghidupkan denyut ekonomi rakyat di sekitarnya. Setiap hari, kebutuhan bahan pangan dalam jumlah besar membuat dapur SPPG menyerap pasokan pedagang sayur, ikan, dan telur dari pasar-pasar lokal.
Bagi Nurmala, pedagang sayur di Pante Teungoh,Kota Sigli, dapur SPPG adalah kepastian di tengah kerasnya hidup harian. “Dulu jualan tergantung ramai pasar. Sekarang hampir tiap pagi sayur habis. Ada pemasukan tetap,” katanya sambil merapikan dagangannya.
Di sudut lain pasar, Rahman, pedagang ikan, merasakan manfaat serupa. “Kalau dapur pesan, jumlahnya jelas. Kami tidak terlalu waswas ikan sisa,” ujarnya.
Sementara Fatimah, pedagang telur, menilai keberadaan dapur SPPG memberi napas panjang bagi usaha kecil.
“Telur hampir tiap hari diambil. Yang penting ada kepastian beli, usaha bisa jalan,” katanya.

Dari dapur inilah uang berputar. Dari relawan ke pedagang, dari pedagang ke pasar, dari pasar ke rumah tangga. Program pemenuhan gizi yang lahir dari kebijakan sosial perlahan menjelma menjadi mesin ekonomi mikro di tingkat gampong.
Namun di balik kepulan asap dapur dan piring-piring yang terisi, ada pekerjaan rumah yang tidak kecil. Dengan skala penerima ribuan orang, keberlanjutan anggaran, transparansi pengelolaan, dan konsistensi distribusi menjadi kunci.
Tanpa itu, dapur bisa dingin, dan denyut ekonomi yang baru tumbuh bisa kembali melemah. Untuk saat ini, Dapur SPPG Kadin Kabupaten Pidie masih menyala.

Azan dari meunasah tetap memanggil. Dapur tetap mengepul dan di antara panggilan sujud dan kerja sosial, harapan ribuan warga Pidie terus dihidupkan setiap hari, dari dapur rakyat ini.
Muhammad Riza










