ACEH TAMIANG (Waspada.id) : Mari menjadikan musibah banjir bandang yang terjadi di Kabupaten Aceh Tamiang pada akhir November 2025 lalu untuk muhasabah diri, tabah dan kuat dalam menghadapi cobaan dari Allah SWT.
Inilah sepenggal ungkapan dari Syariful Alam, Datok Kampung Kesehatan, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, Provinsi Aceh pada Kamis (15/1) di sela – sela kesibukannya melakukan pembersihan lumpur dan sampah yang disebabkan oleh banjir bandang.
Syariful Alam atau akrab disapa Tok Ful hanya berharap bagi warganya agar bisa berperan serta untuk membantu pemulihan pasca bencana banjir. Lumpur yang begitu tebal menyelimuti jalan di gang – gang, ruas jalan penghubung antar dusun maupun rumah warga, termasuk sampah yang harus sama – sama kita tangani agar Kampung Kesehatan bisa kembali bersih seperti sebelum banjir.
“Kita tau, membersihkan lumpur yang tebal akibat banjir bandang ini tidak lah mudah seperti membalikkan telapak tangan, butuh proses dan keyakinan dari kita masing – masing, “kata Tok Ful.

Tok Ful mersa bersyukur dengan hadirnya bantuan pemerintah daerah dan beberapa komunitas yang telah turut membantu dalam upaya pembersihan material lumpur dan sampah, “tentu kampung – kampung lainnya juga butuh kehadiran pemerintah dan lembaga lainnya, terutama untuk ketersedian alat berat guna membersihkan lumpur tebal, jelas tidak mungkin alat berat bantuan pemerintah terus menerus bekerja di Kampung Kesehatan,” sebutnya.
Meski terbatasnya waktu alat berat, tetapi Tok Ful tidak menyerah begitu saja, bahkan terus berupaya agar lingkungan Kampung Kesehatan ini bisa pulih dari lumpur tebal. “Nyaris dua bulan pascabanjir berlalu dan itu bukan semata – mata hitungan hari, tapi bagaimana bisa hadir dan melayani memberikan yang terbaik bagi warga, walau penuh keterbatasan,” ucapnya.
Sejak banjir menerjang Aceh Tamiang, Tok Ful tidak pernah berhenti melayani, dari kisahnya Tok Ful disampaikan, dari 28 November 2025 lalu, mulai pagi hari terus berjibaku berusaha menerjang derasnya arus air banjir bersama salah seorang warga pengungsi hanya demi melayani masyarakatnya yang saat itu terkatung – katung di tempat – tempat pengungsian.
Bahkan menggunakan perahu sampan usang yang entah dari mana diperolehnya, dan hampir menghilangkan nyawanya dikarenakan tersangkut di kabel yang melintang. “Karena di dalam perahu sampan itu ada seorang warga yang perlu diselamatkan, karena sampan tersebut tidak mampu menahan beban dan tersangkut kabel sehingga sampan itu karam,” ujarnya.
Namun, setelah menyelamatkan warga tersebut, dirinya kembali menyusuri sudut – sudut kampung untuk melihat kondisi lingkungan dan masyarakatnya yang kemungkinan masih bertahan di rumah, ternyata ada beberapa warga yang berteriak memanggil Tok…Tok.. tolong kami,Tok kami haus dan lapar.
Melihat kondisi yang emang sangat mencekam terutama tentang kelangsungan hidup warganya, Tok Ful menceritakan bahwa terbesit di hatinya untuk melakukan tindakan cepat di tengah suasana air yang terus menunjukan intensitas tinggi saat itu, “Saya berteriak di bawah salah satu ruko Serba Ada yang berada di Kede Besi, Kampung Kesehatan untuk bisa mengeluarkan makanan ringan maupun roti untuk membantu masyarakat pengungsi,” terangnya.
Setelah air mineral dan makanan ringan diperoleh, Tok Ful langsung menyuruh warga yang mendampinginya untuk putar arah sampan agar bisa mengantarkan makanan dan minuman seadanya langsung dibagikan ke titik pengungsian yang ada di kampung tersebut yaitu di lantai atas masjid Ar-Rahman dan salah satu ruang RSUD Aceh Tamiang.
Kondisi seperti itu dilakukannya selama tiga hari berturut-turut, Tok Ful mengatakan, saat itu dirinya tidak melihat lagi yang mengungsi itu warga Kampung Kesehatan atau warga kampung lainnya, baginya ketika itu semua orang di pengungsian butuh makan minum penyambung hidup, meski hanya seteguk air dan sepotong roti tawar.
Seminggu setelah banjir, Tok Ful tidak menghiraukan kondisi rumah miliknya, tetapi fokus mencari bantuan baik yang disediakan pemerintah daerah, dan para pihak lainnya. ” Saat Tamiang lumpuh tidak ada jaringan internet dan padamnya aliran listrik, saya gunakan sepeda motor mencari bantuan di posko Kampung Paya Bedi, Kuala Simpang dengan medan yang sulit dan terseok – seok membawa karung beras, indomie dan lainnya dengan cara melangsir dari posko,” ucap Tok Ful.
Bantuan sembako yang diambilnya tersebut selain dibawa ke posko pengungsian, ada juga yang bagikan bagi warga yang bertahan di rumah – rumah. “Kondisi ini berjalan sampai 10 hari lebih, karena ketidaksanggupan lagi menggunakan sepeda motor, kemudian berinisiatif untuk memperbaiki mobil pikup yang sebelumnya terendam banjir agar bisa lebih memudahkan dalam mobilisasi bantuan dan melayani masyarakat akan keperluan kendaraan, Alhamdulillah itu berjalan sampai ini,” sebut Tok Ful.

Tok Ful menambahkan, lumpur dan sampah yang diambil dari lingkungan pekarangan rumah warga dan ruas jalan Kampung dikumpulkan terlebih dahulu di satu tempat, kemudian diangkut menggunakan dump truk untuk dibuang di daerah ruas jalan elak Kecamatan Karang Baru.
“Alhamdulillah kini lumpur di Kampung Kesehatan tampak mulai bersih, meski belum sempurna seperti sebelum terjadinya banjir, terima kasih saya ucapkan kepada Bupati Aceh Tamiang serta para pihak yang telah membantu pembersihan di Kampung Kesehatan,” demikian cerita Tok Ful. (Id76)
















