ACEH TAMIANG (Waspada.id): Tangan-tangan kecil itu menggenggam baju baru dengan mata berbinar. Namun di balik senyum yang mulai kembali, tersimpan luka yang belum sepenuhnya hilang.
Empat bulan pasca banjir yang melanda Aceh Tamiang, duka masih terasa. Rumah-rumah yang hanyut, kenangan yang hilang, bahkan orang-orang tercinta yang tak lagi ada—semuanya masih membekas di hati para korban.
Di tengah keadaan itu, Relawan Medan datang. Bukan hanya membawa ratusan pakaian baru, tetapi juga membawa sesuatu yang lebih dalam yaitu harapan.
Bantuan disalurkan di Kampung Kuburan Cina dan Kampung Durian, Kuala Simpang, pada Kamis, 19 Maret 2026, menjelang Idul Fitri—momen yang seharusnya penuh kebahagiaan.
Koordinator Relawan Medan Bergerak, Andrey Saragih, menyadari betul bahwa yang dibawa mereka mungkin tidak sebanding dengan apa yang telah hilang.
“Di balik baju baru yang mereka kenakan, ada rindu pada rumah yang sudah tidak ada… ada luka yang belum sembuh… bahkan ada kehilangan yang tak tergantikan,” ujarnya lirih.
Namun, bagi Andrey, kehadiran adalah bentuk kepedulian paling sederhana, sekaligus paling bermakna.
“Kami mungkin tidak bisa menggantikan segalanya. Tapi kami ingin mereka tahu… mereka tidak sendiri,” lanjutnya.
Bantuan ini berasal dari para donatur, termasuk Relawan Cilik Medan, Zhang Mei Mei. Dengan suara lembut namun penuh keyakinan, ia menitipkan harapan kepada para korban.
“Hidup masih panjang. Jangan pernah kehilangan semangat,” katanya.
Perjalanan para relawan dimulai dari Medan, usai sahur bersama di Hotel Grand Mercure. Dalam gelapnya subuh, mereka berangkat membawa misi kemanusiaan—menembus jarak, demi menyapa luka yang belum sembuh.
Sesampainya di lokasi, ratusan warga menyambut dengan penuh haru. Anak-anak berlarian, para ibu tersenyum, dan para ayah berdiri dengan tatapan yang menyimpan banyak cerita.
Di antara mereka, Ibu Sri tak kuasa menahan air mata.
“Sudah lima kali mereka datang. Di saat kami masih berjuang bangkit, mereka tidak pernah lelah kembali,” ucapnya dengan suara bergetar.
Baginya, bantuan ini bukan hanya soal pakaian. “Ini tentang kepedulian… tentang rasa bahwa kami tidak dilupakan,” katanya.
Siang pun tiba. Para relawan kembali ke Medan. Namun yang mereka tinggalkan bukan sekadar pakaian baru—melainkan nyala harapan yang sempat redup.
Dan di hari itu, di antara luka yang belum sembuh… senyum-senyum kecil kembali hidup. (Rel)











