Aceh

Di Balik Ramainya Meugang, Ada Luka Bencana Aceh yang Belum Sembuh

Di Balik Ramainya Meugang, Ada Luka Bencana Aceh yang Belum Sembuh
Camat Manggeng, Ridhawiyardi, meninjau sekaligus memastikan harga dan kelayakan daging tetap terkendali, juga seluruh hewan ternak telah melalui pemeriksaan kesehatan, sebelum dipasarkan kepada masyarakat di Lapangan Teungku Peukan, Desa Seunulop, Kecamatan Manggeng, Abdya, Senin (16/2).Waspada.id/Syafrizal 
Kecil Besar
14px

BLANGPIDIE (Waspada.id): Di tengah riuhnya warga memburu daging meugang dan aroma kuah kari yang mulai mengepul dari dapur-dapur rumah, ada kenyataan lain yang tak boleh luput dari perhatian: luka bencana di sejumlah wilayah Aceh belum sepenuhnya sembuh. 

Saat sebagian keluarga bersiap menyambut Ramadhan dengan tradisi penuh suka cita, sebagian lainnya masih sibuk membereskan sisa lumpur, memperbaiki rumah rusak dan menata ulang hidup yang porak-poranda.

Di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), harga daging kerbau dan sapi pada Meugang Ramadhan 1447 Hijriah, terpantau bertahan di angka Rp200 ribu per kilogram. Pantauan di lokasi pemotongan hewan Desa Seunulop, Kecamatan Manggeng, Senin (16/2), menunjukkan antusiasme warga tetap tinggi, meski harga tidak turun dari tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, sejumlah pedagang memprediksi harga bisa menembus Rp220 ribu per kilogram pada puncak meugang.

Kerumunan warga memadati lapak-lapak dadakan, di pinggir Lapangan Bola Kaki Teungku Peukan. Transaksi berlangsung cepat. Uang berpindah tangan, daging ditimbang dan tradisi terus berjalan. Namun di balik geliat ekonomi musiman itu, daya beli masyarakat kecil kembali diuji.

Camat Manggeng, Ridhawiyardi, yang turun langsung memantau suasana, menyebut harga dipengaruhi tingginya harga beli hewan ternak di tingkat pedagang. Ia menegaskan Meugang adalah budaya dan kearifan lokal, yang telah mengakar kuat. “Ini bukan sekadar jual beli. Ini momentum keluarga pulang kampung, memasak dan makan bersama. Itu nilai utamanya,” ujarnya.

Ia juga memastikan seluruh hewan ternak, telah melalui pemeriksaan kesehatan, oleh Poskeswan setempat sehingga aman dikonsumsi.

Tradisi Menguat, Ketimpangan Terlihat

Meugang adalah simbol kebersamaan. Namun ketika harga daging menyentuh Rp200 ribu per kilogram, pertanyaan yang muncul sederhana: apakah semua lapisan masyarakat masih bisa ikut merasakan?

Bagi keluarga yang terdampak banjir, longsor dan abrasi di sejumlah kabupaten/kota di Aceh, Meugang tahun ini terasa berbeda. Ada yang kehilangan sawah, ada yang kehilangan kebun, bahkan ada yang kehilangan tempat tinggal. Bagi mereka, Meugang bukan lagi tentang memilih bagian daging terbaik, melainkan tentang memastikan dapur tetap mengepul menjelang puasa.

Tradisi yang sejatinya lahir dari semangat berbagi, kini berada di persimpangan: menjadi perayaan konsumsi atau kembali menjadi gerakan solidaritas sosial.

Regulasi Ketat, Pengawasan Diperkuat

Pemkab Abdya telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 400.8/35 tertanggal 30 Januari 2026 tentang penetapan lokasi penyembelihan hewan Meugang Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha 1447 H.

Lima lokasi resmi yang ditetapkan yakni: Pasar Desa Pante Rakyat, Kecamatan Babah Rot. Pinggiran Sungai Desa Krueng Panto, Kecamatan Kuala Batee. Pinggiran Sungai Krueng Beukah Desa Meudang Ara, Kecamatan Blangpidie. Pasar Tanjung Bunga Desa Gunong Cut, Kecamatan Tangan-Tangan. Lapangan Teungku Peukan Desa Seunulop, Kecamatan Manggeng. 

Setiap hewan wajib memiliki Surat Keterangan Kesehatan Ternak (SKKT/KIR) dari Dinas Pertanian dan Pangan Abdya. Pengawasan lintas instansi dilakukan untuk menjamin ketertiban dan kesehatan daging yang beredar.

Namun, di lapangan masih ditemukan pedagang yang berjualan di luar titik resmi, terutama di sejumlah sudut Kota Blangpidie. Ini menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi aparat agar ketertiban dan keadilan distribusi tetap terjaga.

Meugang dan Cermin Empati

Meugang selalu menghadirkan dua wajah: semarak dan haru. Di satu sisi, masyarakat rela mengeluarkan biaya besar, demi menjaga tradisi turun-temurun. Di sisi lain, masih ada saudara-saudara kita yang menyambut Ramadhan, dalam keterbatasan akibat bencana.

Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar, melainkan juga tentang mengasah empati. Jika harga daging tetap “awet” di Rp200 ribu per kilogram, semestinya yang lebih awet lagi adalah kepedulian sosial.

Sebab di balik ramainya Meugang, ada luka Aceh yang belum benar-benar sembuh. Tradisi hanya akan bermakna jika mampu merangkul mereka yang paling terdampak.(id82)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE