Aceh

Di Pidie, Larangan Terpajang Nyata, Sampah Tetap Menggunung di Mata

Di Pidie, Larangan Terpajang Nyata, Sampah Tetap Menggunung di Mata
Sampah menggunung di bahu jalan nasional kawasan Bambi–Ulee Cot Seupeng, Pidie, meski spanduk larangan telah terpasang, Minggu (1/3/2026) Waspada.id/Muhammad Riza
Kecil Besar
14px

PIDIE (Waspada.id): Jalur nasional Medan–Banda Aceh di kawasan Bambi hingga Ulee Cot Seupeng, Kecamatan Peukan Baro, Kabupaten Pidie, Aceh, kembali menjadi saksi ironi yang berulang.

Spanduk larangan membuang sampah terpampang jelas. Tulisan peringatan itu bukan kecil, bukan tersembunyi. Namun di bawahnya, tumpukan sampah rumah tangga justru menggunung tanpa rasa bersalah.

Pantauan Waspada.id, Minggu (1/3/2026), plastik, karung bekas, sisa makanan, hingga limbah domestik berserakan di bahu jalan nasional tersebut. Bau menyengat tercium kuat, terutama saat matahari meninggi. Lalat beterbangan, pemandangan kumuh terpampang terbuka di jalur yang setiap hari dilintasi kendaraan dari dalam dan luar daerah.

Jalan nasional adalah wajah daerah. Setiap orang yang melintas dari Medan menuju Banda Aceh akan melewati titik ini. Apa yang mereka lihat? Tumpukan sampah di bawah spanduk larangan. Sebuah potret yang seakan berkata bahwa aturan ada, tetapi kepedulian tidak ada.

Ironisnya, petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pidie disebut rutin membersihkan lokasi tersebut. Namun kerja keras itu seperti dipatahkan oleh tangan-tangan yang dengan sengaja melempar sampah dari kendaraan mereka. Beberapa jam bersih, sampah kembali menumpuk. Seolah-olah bahu jalan adalah tempat pembuangan pribadi yang bisa dimanfaatkan tanpa konsekuensi.

Menurut warga, mayoritas pelaku membuang sampah sambil melintas menggunakan sepeda motor dari arah Beureunuen menuju Sigli. Kantong plastik dilempar begitu saja, tanpa berhenti, tanpa rasa bersalah.

Usman, 40, warga sekitar, mengaku hampir setiap hari menyaksikan aksi tersebut. “Saya hampir tiap hari lihat orang lempar kantong sampah dari motor. Padahal sudah ada spanduk larangan. Ini bukan tidak tahu, tetapi memang tidak peduli,” ujarnya.

Bagi warga yang tinggal di sekitar lokasi, dampaknya bukan sekadar pemandangan tidak sedap. Bau menyengat dan kotoran harus mereka rasakan setiap hari.

Alyani, 26, yang rumahnya tidak jauh dari lokasi, mengungkapkan kekesalannya.“Kalau siang baunya menyengat sekali. Kami yang tinggal di sini jadi tidak nyaman. Yang buang cuma lewat, tetapi kami yang tanggung akibatnya,” katanya.

Tidak hanya pengendara motor, mobil pribadi juga disebut kerap melakukan hal serupa. Bahkan, warga mengaku pernah melihat oknum mengenakan seragam aparatur sipil negara (ASN) ikut membuang sampah di lokasi tersebut. “Kalau memang itu ASN, sangat memalukan. Harusnya jadi contoh, bukan malah ikut merusak,” tambah Usman.

Perilaku ini tidak bisa lagi dianggap sebagai keteledoran sesaat. Ini adalah pilihan sadar untuk melanggar aturan dan mengabaikan kepentingan bersama. Membuang sampah sembarangan di jalur nasional bukan hanya tindakan kotor, tetapi juga bentuk pengabaian terhadap citra daerah sendiri.

Dalam ajaran Islam, menjaga kebersihan adalah bagian dari iman. Rasulullah SAW bersabda, “Kebersihan adalah sebagian dari iman” (HR. Muslim). Bahkan, menyingkirkan gangguan dari jalan dinilai sebagai sedekah (HR. Bukhari dan Muslim). Artinya, menjaga jalan tetap bersih adalah bentuk kepedulian sosial dan ibadah. Sebaliknya, mengotori jalan berarti menambah gangguan bagi orang lain.

Al-Qur’an juga mengingatkan, “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya…” (QS. Al-A’raf: 56). Membuang sampah sembarangan, sekecil apa pun, adalah bagian dari perilaku merusak yang dampaknya nyata.

Warga berharap ada pengawasan lebih ketat dan penindakan tegas terhadap pelaku agar menimbulkan efek jera. Tanpa ketegasan, larangan hanya akan menjadi hiasan di tepi jalan. Dan selama kesadaran tidak tumbuh, sampah akan terus menggunung, bukan hanya di bahu jalan, tetapi juga di cermin moral sebagian warga.

Jika perilaku ini terus dibiarkan, maka yang tercoreng bukan hanya lingkungan. Martabat Kabupaten Pidie pun ikut dipertaruhkan di mata setiap orang yang melintas. (id69)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE