“Ia tidak memilih kursi. Di pelataran pengungsian Aceh Tamiang, drg. Mohd Rizal Faisal, MARS bersama Sekda Kabupaten Pidie Drs Samsul Azhar justru menurunkan tubuhnya ke undakan lantai yang dingin dan berdebu“
Di sekelilingnya, anak-anak pengungsi berkerumun, tertawa kecil, berebut bercerita. Bagi mereka, pria berompi biru tua itu bukan direktur rumah sakit, bukan pula pejabat kesehatan. Ia hanyalah orang dewasa yang mau mendengar.
Faisal tahu, di tempat seperti ini, jabatan mudah kehilangan makna. Yang dibutuhkan adalah kehadiran. Duduk sejajar. Menghapus jarak.
Sebagai Direktur RSUD Tgk Chik Ditiro (TCD) Sigli, Faisal datang ke Aceh Tamiang membawa tanggung jawab besar, memastikan layanan kesehatan bagi korban banjir berjalan.
Namun ia juga membawa kesadaran lain bahwa bencana tidak hanya melukai tubuh, tetapi juga meretakkan perasaan, terutama pada anak-anak. “Anak-anak itu menyimpan ketakutan yang tidak selalu bisa mereka ucapkan. Kalau orang dewasa hanya datang dengan instruksi, mereka akan makin diam.” kata Faisal.

Aceh Tamiang sedang berjuang. Air bah merendam rumah, menutup akses jalan, dan memaksa ribuan warga hidup di pengungsian. Di meunasah dan tenda darurat, kehidupan dijalani dengan jeda panjang: menunggu air surut, menunggu bantuan, menunggu kepastian.
Di tengah penantian itu, Faisal bersama rombongan dari Sigli, Pidie, Aceh, memilih berada di lapangan, bukan di balik meja koordinasi. Ia menyusuri lokasi pengungsian, memastikan tenaga medis bekerja, memeriksa ketersediaan obat, lalu kembali duduk bersama anak-anak, mendengar kisah tentang buku sekolah yang hanyut, sepatu yang hilang, dan mimpi kecil yang tertunda.

Tidak jauh dari tempat ia berbincang, suasana lain mengeras. Seorang pengungsi terbaring di ranjang darurat, kakinya dibalut perban tebal yang masih basah oleh lumpur. Faisal berdiri memperhatikan. Tidak banyak bicara. Ia tahu, di ruang seperti itu, ketenangan lebih berharga daripada kata-kata.
“Banyak pasien datang dalam kondisi sudah terlambat ditangani. Ada luka terbuka, infeksi, bahkan komplikasi karena terlalu lama terendam air banjir,” ujar dr. Cut Rahimah, Kepala Bidang Pelayanan Medis RSUD Tgk Chik Ditiro.
“Arahan direktur jelas: jangan menunggu pasien, datangi mereka.” katanya tegas.

Di bawah kepemimpinan drg Mohd Rizal Faisal, Tim Medis RSUD TCD Sigli bergerak cepat. Pemeriksaan kesehatan umum, penanganan luka, pemberian obat-obatan, hingga layanan langsung ke tenda-tenda pengungsian dilakukan tanpa banyak jeda. Anak-anak, lansia, dan perempuan menjadi prioritas.
Namun kerja medis tidak akan berjalan tanpa dukungan di belakang layar. Logistik, alat kesehatan, hingga obat-obatan harus tersedia dalam kondisi darurat. “Kami memastikan kebutuhan penunjang medis tetap aman dan siap, meski situasi lapangan serba terbatas,” kata Khairina, Kabid Penunjang Medis RSUD Tgk Chik Ditiro.
“Pak Direktur menekankan bahwa pelayanan tidak boleh terhenti hanya karena kendala teknis.” katanya.

Bagi drg Mohd Rizal Faisal, kerja kemanusiaan tidak berhenti pada daftar layanan dan laporan harian. Ia percaya, pemimpin kesehatan harus hadir sebagai manusia lebih dulu, baru sebagai pejabat. Prinsip itu ia bawa dari ruang rumah sakit ke lokasi bencana.
Menjelang sore, matahari menurunkan cahayanya. Anak-anak kembali berlarian. Faisal berdiri, merapikan rompinya, bersiap melanjutkan agenda berikutnya. Tidak ada salam perpisahan yang formal. Hanya lambaian kecil dan senyum yang tertinggal.
Di Aceh Tamiang, drg. Mohd Rizal Faisal, MARS menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam krisis tidak selalu berbentuk komando. Kadang ia hadir dalam bentuk paling sederhana, duduk di lantai pengungsian, mendengar, dan membiarkan tawa, tumbuh meski hanya sebentar di tengah air bah. Muhammad Riza/WASPADA.id

















