BLANGPIDIE (Waspada.id): Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-24 Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) tahun ini, tak berhenti pada seremoni dan barisan upacara.
Di balik prosesi yang khidmat di Lapangan Persada Blangpidie, terselip pesan kuat tentang kehadiran negara yang nyata, menyentuh langsung mereka yang selama ini berada di pinggir perhatian.
Usai memimpin upacara sebagai inspektur, Bupati Safaruddin menyerahkan secara simbolis 32 unit kursi, roda kepada penyandang disabilitas, serta bantuan rumah dhuafa, yang bersumber dari Baitul Mal Abdya. Bantuan tersebut bukan sekadar simbol, melainkan akan diantar langsung kepada para penerima, memastikan manfaatnya benar-benar dirasakan.

Kepala Dinas Sosial Abdya, Iin Supardi, menegaskan bahwa, penyaluran bantuan dilakukan secara bertahap, dengan pendekatan langsung ke masyarakat. “Bantuan ini bukan hanya diserahkan, tetapi juga dipastikan sampai dan digunakan oleh yang berhak,” ujarnya.
Momentum ini terasa berbeda. Tidak hanya dihadiri jajaran pemerintah daerah, seperti Wakil Bupati Zaman Akli dan Ketua DPRK Roni Guswandi, tetapi juga menghadirkan suasana haru saat bantuan diberikan. Sebuah refleksi bahwa pembangunan tidak semata soal fisik, melainkan juga tentang empati.

Selain kursi roda dan rumah dhuafa, pemerintah daerah turut menyerahkan Surat Keputusan (SK) Teungku Saweu Sikula, beserta modulnya, sebagai bagian dari penguatan nilai-nilai pendidikan dan keagamaan di tengah masyarakat.
Dalam sambutannya, Bupati Safaruddin menekankan bahwa, usia ke-24 Abdya seharusnya dimaknai lebih dalam, dari sekadar perayaan tahunan. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan momentum ini sebagai ruang memperkuat solidaritas sosial. “Tidak ada perayaan yang lebih bermakna selain berbagi. Kehadiran pemerintah harus dirasakan oleh mereka yang membutuhkan, terutama saudara-saudara kita penyandang disabilitas dan masyarakat kurang mampu,” ujar Safaruddin.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa bantuan kursi roda merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam membuka akses mobilitas bagi penyandang disabilitas agar tetap produktif dan mandiri. Sementara bantuan rumah dhuafa menjadi wujud nyata upaya menghadirkan kehidupan yang lebih layak bagi masyarakat.
Peringatan HUT ke-24 Abdya akhirnya menjadi cermin arah kepemimpinan daerah—bahwa di tengah seremoni, ada kepedulian yang diperjuangkan. Bahwa pembangunan bukan hanya tentang apa yang terlihat, tetapi juga tentang siapa yang diperhatikan.(id82)










