BIREUEN (Waspada.id): Asap rokok filter mengepul tipis ketika Said Jamaludin mendorong pintu rumahnya yang setengah terbenam pasir. Pria 37 tahun itu berdiri sejenak, lalu menunjuk satu per satu sudut rumah papan yang nyaris tak lagi pantas disebut tempat tinggal. Pasir banjir masih menumpuk setinggi betis, menelan lantai dan menyisakan ruang sempit untuk bertahan hidup.
“Sudah satu bulan lebih saya tinggal di rumah ini,” kata Jamaludin, Kamis, (5/2/26), di rumahnya di Desa Kapa, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen.
Rumah itu sebetulnya tak layak huni. Separuh bangunan hancur diterjang banjir besar akhir November tahun lalu. Dinding papan berlubang, warnanya cokelat kusam bercampur lumpur. Tak ada kamar yang benar-benar bersih, tak ada ruang istirahat yang aman. Namun Jamaludin mengaku tak punya pilihan lain.
“Saya enggak tahu harus ke mana. Enggak ada biaya buat pindah atau bangun rumah,” ujarnya Jamaludin.
Pasir masih memenuhi hampir seluruh bagian rumah. Piring kotor berserakan, pakaian digantung di dinding berlubang. Jamaludin dan dua anaknya—satu duduk di kelas tiga sekolah dasar, satu lagi masih taman kanak-kanak—terpaksa tidur di atas papan yang dipaku seadanya, menggantung sedikit lebih tinggi dari permukaan pasir.
“Terpaksa kami tidur di atas tanah lumpur,” kata Jamaludin.

Ia memaku papan-papan itu agar tubuhnya dan anak-anak tidak langsung bersentuhan dengan pasir lembap. Di bawah lantai darurat itu, pasir masih menggunung. Membersihkan bukan perkara mudah. Lumpur kering di luar rumah masih lebih tinggi. Jika dibersihkan, air hujan akan kembali membawa pasir masuk.
“Makanya saya biarkan pasir masih di dalam rumah. Biar sejajar dengan luar,” kata Jamaludin.
Selepas banjir, Jamaludin sempat mengungsi selama sebulan. Namun keterbatasan membuatnya memilih pulang. Setiap hari ia bekerja, lalu sepulangnya membersihkan rumah sedikit demi sedikit.
“Rumah enggak sempat dibersihkan. Saya kerja, pulang bersihin sebentar,” ucapnya.
Masalah Jamaludin tak berhenti pada rumah. Ia juga kesulitan air bersih dan toilet. Sebelum banjir, keluarganya tak memiliki sumur dan bergantung pada air PDAM. Kini, kebutuhan dasar itu semakin sulit dipenuhi.
Yang lebih pahit, kata Jamaludin, rumahnya sudah tak layak huni bahkan sebelum banjir datang. Bencana hanya memperparah keadaan.
Hal itu dibenarkan Keuchik Desa Kapa, Efendi. Ia mengatakan Jamaludin memang termasuk warga yang sejak lama membutuhkan rumah layak huni.
“Dari sebelum banjir, kondisinya memang sudah memprihatinkan. Setelah diterjang banjir, tambah tidak layak lagi,” kata Efendi.
Ia berharap pemerintah segera turun tangan membantu Jamaludin dan keluarganya. Di rumah yang separuh runtuh dan tertimbun pasir itu, Jamaludin masih bertahan—bersama harapan sederhana: tempat tinggal yang benar-benar bisa disebut rumah. (id73)











