BIREUEN (Waspada.id): Dua bulan setelah banjir besar melanda Kabupaten Bireuen, warga Gampong Kapa, Kecamatan Peusangan, belum semuanya dapat kembali ke rumah mereka.
Keuchik Gampong Kapa, Efendi, mengatakan kondisi rumah warga masih tertimbun lumpur dan tidak layak dihuni, sehingga masyarakat bertahan di posko pengungsian.

“Tak mungkin masyarakat pulang ke rumah. Sampai sekarang mereka masih di pengungsian karena rumah masih tertimbun lumpur,” kata Efendi, Kamis, (7/2)
Efendi menyebutkan, kondisi di permukiman warga masih memprihatinkan. Banyak perabot rumah tangga rusak atau hilang tersapu banjir. Bahkan, kata dia, sejumlah warga meletakkan kasur di atas pasir karena lantai rumah belum bisa dibersihkan.
“Cukup sedih. Kasur saja ditaruh di atas pasir. Makanya kami masih membuka dapur umum, karena masyarakat tetap pulang ke pengungsian,” ujarnya.
Menurut Efendi, selain tempat tinggal yang belum layak, warga juga kehilangan peralatan memasak. Hal itu membuat mereka tidak memiliki pilihan selain bergantung pada dapur umum.

“Kompor saja sudah tidak ada. Di mana mereka mau makan,” kata dia.
Efendi berharap Pemerintah Kabupaten Bireuen terus menyalurkan bantuan logistik ke desanya. Hingga kini, sebagian warga masih mengandalkan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Situasi ini, kata dia, semakin mengkhawatirkan menjelang bulan Ramadan.
“Ini rumahnya hilang, tanahnya juga dibawa banjir,” ujar Efendi.
Ia menegaskan, masyarakat sangat membutuhkan hunian sementara atau huntara. Menurutnya, pembangunan huntara di Bireuen sudah menjadi kebutuhan mendesak.
“Dalam hati kecil kami, sangat membutuhkan huntara. Sudah sangat layak huntara dibangun di Bireuen,” tutup Efendi.(id73)











