Gampong Alue Kuta sangat parah pasca banjir bandang akhir November 2025 lalu, tapi hingga kini Bupati belum juga mengunjunginya.
Matahari menyengat membelah langit siang. Di sebuah warung kopi di Matang Glumpang II, cerita dari pesisir Bireuen mengiris hati. Kisah tentang banjir bandang yang meluluhlantakkan rumah-rumah dan menghanyutkan segala apa yang ada di dalamnya.
Dua bulan lebih setelah bencana akhir November 2025, Waspada.id melakukan perjalanan mendalam ke desa pesisir yang jauh dari pusat kota. Di Gampong Cot Ara, Kecamatan Kuta Blang, lumpur setinggi satu hingga dua meter masih menutupi sebagian rumah. Tanpa alat berat, warga hanya bisa membersihkan puing-puing dengan peralatan seadanya.
Namun, kondisi yang lebih menyayat hati ditemui di Gampong Alue Kuta, Kecamatan Jangka. Jalan yang dulunya tembus ke Meunasah Alue Kuta kini putus. Daratan datar yang dulu menjadi tempat tinggal berubah menjadi kuala kecil yang menyatu dengan laut. Rumah-rumah hanya tersisa puing kayu dan beton yang mengapung di tepi muara sungai.

“Sebelumnya ini semua daratan, rumah dan jalan ada di sini. Sekarang sudah jadi muara,” ujar Chairul Amri, seorang warga setempat, sambil menunjuk ke hamparan air yang menggantikan lokasi rumahnya, Minggu (1/2).
Saat banjir bandang datang, seluruh warga berlari mencari perlindungan ke dayah yang kini dijadikan tempat tinggal sementara. Hunian Sementara (Huntara) yang dibangun pihak swasta memang menjadi tempat berteduh, namun ruangannya sempit ketika harus menampung lima keluarga sekaligus.
Tak hanya rumah yang hilang. Tujuh makam dari satu keluarga juga lenyap tanpa bekas. “Kita tidak bisa lagi membangun rumah di sini. Harus cari tempat lain,” ucap Chairul dengan nada pesimis.
Yang paling membuat warga kecewa adalah belum pernahnya Bupati Bireuen, H. Mukhlis, mengunjungi lokasi korban. “Istrinya pernah datang, Camat juga ada. Tapi yang kita butuhkan adalah Bupati sendiri. Sampai sekarang belum pernah datang ke sini,” jelasnya dengan raut wajah penuh kekecewaan.
Fauzan












