PIDIE (Waspada.id): Di saat banyak wilayah terjebak dalam pidato panjang tanpa dampak, Kecamatan Glumpang Baro memilih menjawab krisis dengan cara yang berbeda, membangun dari ilmu, bukan retorika.
Di tengah keterbatasan anggaran, tekanan sosial, hingga dampak bencana alam, pemerintah kecamatan justru menegaskan pendidikan sebagai jalan paling rasional dan berjangka panjang untuk keluar dari persoalan gampong.
Sikap itu ditegaskan langsung oleh Camat Glumpang Baro, Kabupaten Pidie, Muhammad Jabannur, S.H.I., MAP, saat menghadiri Wisuda Angkatan Pendidikan Pemberdayaan Perempuan Akademi Paradigta Inong Pidie Ceudah, Februari 2026, di Oproom Kantor Bupati Pidie,Senin (9/2/2026). Acara ini dibukaStaf Ahli Bupati Pidie, Mauliza, S.H.I., M.Si, atas nama Bupati Pidie H Sarjani Abdullah, SH, MH.

Bagi Jabannur, forum tersebut bukan ruang seremoni, melainkan arena penegasan arah kebijakan. “Ini adalah proses. Pemerintah hanya bisa maju dengan pendidikan. Tahun ini kita harus membuka kelas untuk kecerdasan. Kita harus belajar,” tegasnya.
Pernyataan tersebut lahir dari pengalaman nyata pemerintahan gampong. Jabannur tidak menutup mata bahwa dinamika di lapangan kerap memaksa pemerintah melakukan penyesuaian kebijakan, bahkan mencoret sejumlah program akibat keterbatasan sumber daya dan kompleksitas masalah sosial.
Namun, menurutnya, pendidikan justru tidak boleh menjadi korban. Sebaliknya, pendidikan harus menjadi fondasi yang dipertahankan ketika program lain terpaksa dikurangi. “Banyak problem di gampong sehingga ada program yang tercoret. Tapi ketika saya melihat proses belajar hari ini, saya sangat senang. Ini memberi harapan,” ujarnya.
Lebih jauh, Camat Glumpang Baro menolak cara pandang sempit yang memaknai pendidikan hanya sebagai kegiatan formal. Ia menegaskan bahwa belajar adalah kebutuhan sepanjang hayat, terutama di tengah percepatan teknologi yang terus mengubah wajah pemerintahan, pelayanan publik, dan relasi sosial di tingkat desa.
“Jangan pernah puas dengan ilmu yang ada. Belajar dan terus belajar. Sampai kiamat, ilmu ini akan selalu dibutuhkan. Tidak ada yang lebih hebat dari belajar,” tandasnya.
Narasi pembangunan berbasis ilmu ini diperkuat oleh Ketua TP PKK Kecamatan Glumpang Baro, Rasimah, S.Pd.I (Ibu Syima). Ia menilai pendidikan pemberdayaan perempuan bukan agenda tambahan, melainkan investasi ideologis untuk memperkuat keluarga, menjaga nilai adat, serta membangun ketahanan sosial dan ekonomi gampong.
Wisuda Akademi Paradigta Inong Pidie Ceudah sendiri meluluskan 30 peserta yang berhasil menuntaskan seluruh rangkaian pendidikan dari total 62 pendaftar sejak Agustus 2025. Angka tersebut mencerminkan kerasnya proses yang dijalani peserta, bukan hanya secara akademik, tetapi juga secara sosial dan geografis.
Mentor sekaligus pengelola Akademi, Atiah, mengungkapkan bahwa proses pembelajaran sempat menghadapi tantangan serius akibat bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Pidie. Kondisi tersebut memaksa penyesuaian jadwal dan menyebabkan sebagian peserta tidak mampu melanjutkan proses pendidikan.
“Banjir menjadi ujian berat.
Tetapi semangat belajar tidak pernah padam. Dengan komitmen dan kesabaran, proses pendidikan tetap berjalan,” ungkap Atiah.
Ia menjelaskan, kurikulum Akademi Paradigta Inong Pidie Ceudah disusun berbasis kebutuhan lokal. Untuk Kecamatan Glumpang Baro, fokus materi diarahkan pada penguatan kepemimpinan perempuan dalam pelestarian adat dan pengambilan peran di ruang publik.
Sementara di wilayah lain, seperti Gampong Cumboh Niwa, Kecamatan Sakti, kurikulum difokuskan pada penguatan kewirausahaan perempuan desa. “Harapannya, para lulusan tidak berhenti pada wisuda, tetapi mampu menerjemahkan ilmu menjadi aksi nyata di tengah masyarakat,” tegasnya.
Kegiatan wisuda turut dihadiri unsur pemerintah daerah, organisasi perempuan, para keuchik, mitra lembaga, serta Staf Ahli Bupati Pidie, Mauliza, S.H.I., M.Si, yang mewakili Bupati Pidie.

Dalam sambutannya, Bupati Pidie H Sarjani Abdullah,SH,MH, melalui Staf Ahli Bupati Pidie, Mauliza, S.H.I., M.Si, menegaskan bahwa pendidikan kepemimpinan perempuan bukan agenda simbolik.
“Ini adalah strategi pembangunan daerah yang harus dijaga kesinambungannya. Perempuan yang berdaya akan membawa dampak langsung bagi rumah tangga, gampong, hingga kabupaten,” tegasnya.
Di tengah krisis, banjir, dan keterbatasan anggaran, Wisuda Akademi Paradigta Inong Pidie Ceudah akhirnya menegaskan satu hal penting, Glumpang Baro memilih bekerja dengan ilmu, bukan menjual retorika. Sebuah pilihan sunyi, tetapi menentukan arah masa depan pembangunan gampong.(Id69)











