AcehFeatures

Gotong Royong Warga Raya Paya, Menata Iman Menyambut Ramadhan

Gotong Royong Warga Raya Paya, Menata Iman Menyambut Ramadhan
Gotong royong warga membersihkan area pemakaman yang tertutup semak, demi menjaga lingkungan tetap rapi dan terawat, Minggu (15/2) Waspada.id/Muhammad Riza
Kecil Besar
14px

Suara pengajian dari meunasah memecah pagi di Gampong Raya Paya. Lafaz ayat suci terdengar bersahut-sahutan, tenang namun hidup, mengalun bersama bunyi sapu yang menyisir halaman dan percikan air yang membasuh lantai.

Di Aceh, Ramadhan jarang datang secara tiba-tiba. Ia selalu didahului tanda-tanda sosial: meunasah yang mulai dibersihkan, dapur kanji yang kembali ditata, dan warga yang kembali berkumpul dalam kerja bersama. Ramadhan hadir bukan hanya sebagai bulan ibadah, tetapi sebagai peristiwa sosial yang menghidupkan kembali denyut gampong.

Pagi itu, Minggu (15/2), warga Gampong Raya Paya, Kemukiman Bungie, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie, mulai bergerak. Meunasah dibersihkan dari debu yang menempel di lantai, tempat wudhu dicuci agar nyaman digunakan, dan dapur kanji rumbi dirapikan untuk menyambut tradisi berbagi makanan berbuka.

Di sisi lain gampong, beberapa warga menuju kompleks pemakaman Lampoih Me. Semak liar ditebas, rumput dirapikan, dan jalan kecil di antara pusara dibersihkan. Bagi masyarakat Aceh, membersihkan kuburan menjelang Ramadhan bukan sekadar pekerjaan fisik, tetapi bentuk penghormatan terhadap leluhur serta pengingat tentang kefanaan hidup.

Keuchik gampong, Zulham, mengatakan tradisi tersebut sudah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

“Ramadhan bukan hanya soal ibadah pribadi. Ia datang ke gampong. Karena itu kami siapkan bersama, supaya warga bisa beribadah dengan nyaman,” ujarnya.

Apa yang terjadi di Gampong Raya Paya memperlihatkan bagaimana agama hidup dalam bentuk sosial. Meunasah bukan sekadar bangunan ibadah, melainkan pusat kehidupan bersama. Di sana berlangsung pengajian, musyawarah, kegiatan sosial, hingga dapur kebersamaan saat berbuka.

Ridwan, 43, warga yang ikut membersihkan meunasah, mengatakan gotong royong menjelang Ramadhan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. “Kalau sudah bersih-bersih begini, terasa sekali Ramadhan sudah dekat. Kami jadi saling sapa lagi, saling bantu. Meunasah bersih, hati juga terasa lebih ringan,” katanya.

Maimunah,52, memandang pembersihan makam sebagai bagian dari persiapan batin. “Kalau kami ke kuburan, kami ingat orang tua, ingat bahwa hidup ini sementara. Itu membuat kami lebih siap menyambut Ramadhan,” ujarnya.

Semangat ini sejalan dengan pesan dalam Al-Qur’an bahwa Allah mencintai orang-orang yang mensucikan diri. Di gampong, ayat itu tidak berhenti pada makna spiritual, tetapi diterjemahkan menjadi tindakan nyata, membersihkan ruang ibadah, merapikan lingkungan, dan menguatkan hubungan sosial.

Tradisi Ramadhan di Aceh memang tidak hanya hidup dalam ritual formal. Ia hadir dalam dapur kanji rumbi yang dimasak bersama, dalam suara tadarus yang memanjang di malam hari, dalam kebiasaan berbagi makanan kepada sesama, dan dalam meunasah yang hidup hingga larut.

Seorang warga Gampong Raya Paya, Kemukiman Bungie, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie membersihkan makam keluarga saat kerja bakti di area pemakaman desa, Minggu (15/2).Waspada.id/ Muhammad Riza

Namun di tengah kesiapan sosial dan spiritual itu, warga menyimpan satu harapan sederhana: listrik tetap menyala. Mereka berharap PT PLN (Persero) dapat menjaga pasokan listrik selama Ramadhan, terutama pada malam hari ketika aktivitas ibadah meningkat.

Ridwan mengatakan listrik sangat berpengaruh terhadap kehidupan meunasah di malam Ramadhan.

“Sehabis tarawih biasanya pengajian berlanjut sampai malam. Kalau listrik padam, suasana langsung sepi. Orang jadi cepat pulang,” ujarnya.

Bagi warga Gampong Raya Paya, listrik bukan sekadar kebutuhan teknis. Ia bagian dari ekosistem ibadah. Tanpa penerangan, ruang sosial menjadi terbatas, dan kebersamaan yang sudah dibangun sejak siang bisa terputus begitu saja.

Harapan warga itu menunjukkan bahwa Ramadhan tidak hanya membutuhkan kesiapan iman, tetapi juga kesiapan lingkungan sosial. Negara hadir bukan melalui kata-kata, tetapi melalui layanan yang memungkinkan masyarakat beribadah dengan tenang.

Pagi itu, suara pengajian masih terdengar ketika warga terus bekerja. Ada yang menata tikar, ada yang mengangkat ember, ada yang merapikan dapur. Semua bergerak tanpa banyak bicara, seolah memahami satu hal yang sama: Ramadhan bukan hanya ditunggu, tetapi disiapkan.

Di Gampong Raya Paya, Ramadhan selalu dimulai dari suara pengajian pagi di meunasah. Dari sana ia tumbuh menjadi kerja bersama, doa bersama, dan harapan bersama agar bulan suci datang ke gampong yang bersih, damai, dan terang.

Sebab bagi masyarakat Aceh, Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah. Ia adalah peristiwa budaya, peristiwa sosial, dan peristiwa hati yang selalu dimulai dari meunasah dan berakhir pada kebersamaan gampong.

Muhammad Riza

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE