Ia datang bukan sekadar membawa rombongan, apalagi pidato. Jumat siang (2/1/2026), di Gampong Meunasah Raya, Kecamatan Meurah Dua, Pidie Jaya, Gubernur Kalimantan Timur Dr H Rudy Mas’ud, SE, ME, melangkah perlahan menyusuri lumpur yang belum sepenuhnya kering.
Di hadapannya, pengungsi banjir, anak-anak, ibu-ibu, hingga para orang tua menunggu bukan janji, melainkan tanda bahwa mereka tidak sendiri menghadapi musibah ini.
Rudy Mas’ud datang bersama sang istri, Hj Syarifah Suraidah, yang akrab disapa Bunda Harum. Di antara tenda-tenda pengungsian, pasangan ini tidak menjaga jarak. Mereka turun langsung, menyapa warga, menepuk bahu para orang tua, dan memeluk anak-anak yang kehilangan rumah, kehilangan rasa aman, dan kehilangan malam-malam yang tenang.

“Bencana ini tidak hanya merendam rumah, tetapi juga melukai batin,” ujar Rudy Mas’ud pelan, di sela kerumunan pengungsi.
Dalam suasana duka itu, pengingat tentang makna kepedulian terasa relevan. “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa,” demikian firman Allah dalam Al-Qur’an (QS. Al-Maidah: 2), ayat yang seakan menemukan wujudnya di antara tenda-tenda pengungsian Meurah Dua.
Menurut Rudy, luka akibat banjir kerap tidak kasatmata. Karena itu, dari Kalimantan Timur, ia datang tidak sendirian. Untuk anak-anak, ia menghadirkan hiburan melalui artis Aceh, Bergek dan Bang Joni Kapluk agar tawa kembali pecah di tengah pengungsian.

Sementara pemulihan trauma difasilitasi melalui kehadiran Bunda Hetti Zuliani, PhD, CHt, CI, yang memberikan dukungan psikososial bagi para korban. “Kami ingin mereka kuat kembali, secara mental dan psikis,” katanya.
Kunjungan itu juga disertai aksi nyata. Di hadapan jajaran Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya, Gubernur Kaltim menyerahkan bantuan uang tunai sebesar Rp1 miliar. Selain itu, berbagai bantuan logistik disalurkan langsung kepada warga, mulai dari beras, pakaian, perlengkapan ibadah, hingga tas sekolah lengkap dengan alat tulis.
Sebagai Ketua Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI), Rudy Mas’ud menegaskan bahwa solidaritas tidak mengenal batas wilayah. “Pidie Jaya hari ini adalah urusan kita bersama,” ujarnya.
Apa yang dilakukan rombongan ini sejalan dengan pesan Rasulullah SAW: “Barang siapa meringankan kesulitan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan meringankan kesulitannya di hari kiamat” (HR. Muslim).
Di Pidie Jaya, pesan itu tidak berhenti sebagai nasihat, tetapi menjelma menjadi tindakan. Distribusi bantuan dipercayakan kepada Yayasan Permata Aceh Mulia (YPAM) Sigli.
Ketua YPAM, Mahfuddin Ismail, M.Ap, menegaskan bahwa amanah tersebut dijalankan dengan penuh tanggung jawab. “Kami memastikan bantuan ini benar-benar sampai kepada warga yang membutuhkan, tepat sasaran dan tanpa penundaan. Amanah ini akan kami jaga sebaik-baiknya,” kata Mahfudin yang juga mantan Ketua DPRK Pidie.

Waspada.id/Muhammad Riza
Penyaluran dilakukan secara bertahap dari gampong ke gampong, Meunasah Raya, Dayah Usen, Meunasah Mancang, Geunteng, hingga Lhok Sandeng menyusuri wilayah terdampak banjir.
Menjelang sore, tawa anak-anak mulai terdengar di antara tenda-tenda pengungsian. Di sana, Rudy Mas’ud seakan memahami satu hal: ia mungkin tidak mampu menghapus banjir, namun ia bisa memastikan warga Pidie Jaya tidak tenggelam dalam keputusasaan.
Dari Kalimantan Timur, ia membawa lebih dari sekadar bantuan. Ia membawa keyakinan bahwa dalam bencana, jarak hanyalah angka dan kemanusiaan, sebagaimana diajarkan agama, adalah bahasa yang paling mudah dipahami.
Muhammad Riza











