LHOKSEUMAWE (Waspada.id): Menteri Pertanian (Mentan) RI Andi Amran Sulaiman bersama Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto meninjau pemulihan tahap awal sawah terdampak banjir dan longsor di Aceh, Kamis (15/1/2026).
Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan rehabilitasi lahan pertanian, penyaluran bantuan sarana produksi, serta percepatan tanam pascabencana hidrometeorologi yang melanda Aceh dan sejumlah daerah lainnya.
Dalam kesempatan itu, Mentan Amran mengungkapkan pemerintah telah menyalurkan bantuan pangan berupa 44 ribu ton beras dan 600 ton minyak goreng untuk tiga provinsi terdampak bencana, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dari jumlah tersebut, hampir separuh bantuan dikirimkan ke Aceh.
“Bantuan ini dikirim dari Jakarta menggunakan tiga kapal TNI Angkatan Laut dan pesawat Hercules TNI AU, dan diterima langsung oleh Wakil Gubernur Aceh. Hari ini saatnya kita fokus rehabilitasi sawah, irigasi, dan seterusnya,” ujar Amran.
Mentan Amran dan Ketua Komisi IV DPR RI tiba di Bandar Udara Malikus Saleh, Pintu Makmur, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara, sebelum meninjau langsung persawahan yang masih terendam lumpur pascabanjir.
Ia meminta jajaran Kementerian Pertanian bergerak cepat menangani rehabilitasi lahan dengan pola swakelola dan padat karya. Menurutnya, pelibatan langsung petani akan mempercepat pemulihan sekaligus memberi dampak ekonomi bagi masyarakat terdampak.
“Semua dikerjakan secara swakelola, padat karya. Kalau perlu petaninya ikut bekerja dan dibayar oleh pemerintah. Tidak perlu kontraktor besar,” tegasnya.
Selain rehabilitasi lahan, pemerintah juga menyalurkan bantuan benih dan pupuk kepada petani. “Benih dan pupuknya Alhamdulillah dibantu pemerintah,” kata Amran.
Berdasarkan data Kementerian Pertanian, luas sawah terdampak bencana di Aceh mencapai 54.233 hektare yang tersebar di 21 kabupaten/kota. Rinciannya, rusak ringan 23.893 hektare, rusak sedang 8.759 hektare, dan rusak berat 21.851 hektare.
Untuk tahap awal, rehabilitasi dilakukan di lahan seluas 13.707 hektare, terdiri atas Aceh 6.530 hektare, Sumatera Utara 6.593 hektare, dan Sumatera Barat 3.624 hektare. Pemerintah menyiapkan anggaran Rp1,49 triliun dari APBN 2026 serta mengusulkan tambahan Rp5,1 triliun guna mempercepat pemulihan sektor pertanian.
Bencana hidrometeorologi berupa banjir bandang, luapan sungai, dan longsor juga berdampak luas di Aceh Tamiang, Agam, Sibolga, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan. Data per 13 Januari 2026 mencatat total sawah terdampak di tiga provinsi mencapai 107.324 hektare.
Selain tanaman pangan, bencana turut merusak perkebunan non-sawit seluas 29.310 hektare, lahan hortikultura 1.803 hektare, serta menyebabkan ternak mati atau hilang lebih dari 820 ribu ekor. Infrastruktur pertanian juga terdampak, termasuk rumah potong hewan, alsintan, balai penyuluhan, bendungan, jaringan irigasi, dan jalan produksi.
“Data dampak bencana ini bersifat dinamis dan terus kami perbarui melalui koordinasi intensif dengan pemerintah daerah,” ujar Amran.
Kunjungan ini menjadi langkah awal pemulihan sektor pertanian di Aceh Utara, dengan target petani dapat kembali menanam pada musim tanam berikutnya. Rombongan Mentan disambut Pangdam Iskandar Muda, Wakil Gubernur Aceh, Danrem 011/Lilawangsa, serta unsur Forkopimda Aceh. (Hulwa)










