Hanya Karena Emosi, Orang Tua Tega Tenggelamkan Anaknya Hingga Meninggal

  • Bagikan
Hanya Karena Emosi, Orang Tua Tega Tenggelamkan Anaknya Hingga Meninggal
Kapolres Aceh Singkil AKBP Suprihatiyanto didampingi Kasat Reskrim AKP Mawardi saat menggelar konferensi pers terkait kasus penganiayaan yang menyebabkan seorang anak meninggal dunia, Jumat (9/2). dok Polres

SINGKIL (Waspada): Polisi telah berhasil mengungkap motif orang tua yang tega menganiaya kedua anaknya dan menyebabkan seorang meninggal dunia.

Ternyata, hanya karena tersulut emosi akibat kenakalan anak-anak, ibu tiri bersama bapak kandungnya tega membunuh putranya F, 4, dengan menenggelamkannya di dalam air selama 1 jam di belakang rumahnya.

Kapolres Aceh Singkil AKBP Suprihatiyanto melalui siaran persnya yang diterima Waspada, Sabtu (10/2/2024) mengungkapkan, kasus pembunuhan yang terjadi beberapa bulan lalu akhirnya terungkap, berawal dari adanya laporan masyarakat yang melaporkan perkara penganiayaan terhadap korban yang merupakan anak dari pelaku.

Dalam siaran persnya tersebut, Kapolres didampingi Kasat Reskrim AKP Mawardi serta Dokter Rizki Aulia Rahma (yang melakukan penanganan korban di Puskesmas), telah menggelar konferensi pers, di Aula Presisi Mapolres Aceh Singkil, Jumat (9/2).

Selanjutnya, setelah mendengar laporan masyarakat, Satreskrim Polres Aceh Singkil, berdasarkan keterangan dari para saksi bahwa adik dari korban yang telah meninggal dunia diduga kuat karena dianiaya oleh ayah kandung dan ibu tirinya.

Lantas, penyidik Sat Reskrim bergerak cepat dengan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mendapati sejumlah barang bukti yang mengarah pada penganiayaan anak kandung, yang menyebabkan F hingga meninggal dunia.

Lebih lanjut Kapolres mengungkapkan, kronologis kejadiannya, pada tanggal 14 Mei 2023 di kawasan Kecamatan Singkil, pada pukul 06:00 WIB tersangka seorang wanita yang berinisal IR, 25, bangun pagi untuk memasak nasi.

Kemudian pukul 07.00 WIB tersangka Laki-Laki S, 49, bangun tidur dan mandi, lalu menanyakan handuk kepada kakak Korban A, 5. “Mana handuk,” ucap S ayah korban.

Kemudian kakak korban A menjawab “Tidak tau saya ayah”. Lalu Tersangka S, 49, mengatakan, “Turun kalian berdua ke bawah”.

“Dan kakak korban A bersama korban laki-laki F turun ke bawah,” terang Kapolres.

Selanjutnya tersangka S menanyakan; “Siapa yang buang handuk”. Lalu kakak korban A menjawab “Bukan aku yah si F”. Lantas ayah korban tersangka S mengangkat korban F dan memasukkan ke dalam kubangan air yang ada di bawah rumah sambil menyelupkan kepala korban F berulang-ulang sembari mengatakan, “Kamu cari sampai dapat”.

“Korban F pun menangis, namun tersangka tak menghiraukan, setelah beberapa menit kemudian barulah tersangka S mengangkat F ke atas dengan kondisi pakaian yang basah dengan terus menangis lalu meletakan korban F di samping meja dapur,” tambah Kapolres.

“Selanjutnya pada pukul 09:00 WIB, S pergi berangkat kerja dengan menggunakan sepeda motor dan tinggal tersangka IR, 25, ibu tiri korban di rumah bersama kakak korban A.

Namun, korban F masih terus menangis, dan setelah sekitar pukul 12:00 WIB, tersangka IR, 25, melihat korban F masih terus menangis dengan kedinginan duduk di samping meja dapur.

“Lantas IR timbul emosi dan mengangkat korban F memasukkan lagi ke dalam air di tempat yang sama selama lebih kurang 1 jam lamanya, barulah mengangkat korban F dari dalam air, hingga berujung menyebabkan meninggal dunia,” ungkap AKBP Suprihatiyanto.

Berdasarkan hasil keterangan saksi korban A, ternyata tidak hanya sampai di situ perbuatan kejam kedua orang tuanya itu.

“A mengungkapkan orang tuanya sudah sering kali melakukan tindak kekerasan tersebut,” ucap korban saat memberikan keterangan kepada petugas ketika membuat laporan 5 Februari 2024.

Sementara itu, keterangan dari Dokter Rizki Aulia Rahma yang menangani korban saat dibawa ke Puskesmas juga menyatakan bahwa saat ditanya kepada tersangka IR kenapa anaknya bisa seperti itu, IR menjawab dan berdalih bahwa korban F jatuh dari tangga.

Namun setelah 10 menit ditangani, korban tidak bisa lagi diselamatkan dan dinyatakan telah meninggal dunia.

“Dokter juga mengatakan saat menangani korban pasien, ia melihat di pungung dan pundak korban mengalami memar yang sudah membiru serta goresan luka-luka,” terangnya.

AKBP Suprihatiyanto, menambahkan, saat ini kasus tersebut telah ditangani oleh Unit PPA(Perlindungan Perempuan dan Anak), Satreskrim Polres Aceh Singkil.

Ironisnya pasangan suami istri (Pasutri) ini tega melakukan melakukan penyiksaan dan membunuh anaknya hanya karena emosi dan kesal dalam merawat anak mereka.

“Selanjutnya kedua tersangka akan dijerat dengan Pasal 80 ayat (1) ayat (2) dan (4) dari Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2014, dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara,” terang Kapolres.

“Kami dari pihak Kepolisian mengimbau kepada masyarakat apabila melihat kegiatan yang mencurigakan segera melapor kepihak berwajib. Diharapkan dengan adanya kejadian ini agar kita sebagai orang tua selalu mengajari dan membimbing anak-anak kita dengan baik, tidak melakukan kekerasan terhadap mereka,” pungkas Kapolres. (b25)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *