Angin laut masih bertiup lembut di Pantai Mak Leuge, Kecamatan Peureulak, Aceh Timur. Namun di antara debur ombak dan pohon cemara yang condong ke laut, berdiri bangunan miring yang menjadi saksi amukan badai akhir November lalu.
Di situlah M Nasir dan istrinya, Zuriana, mencoba mempertahankan harapan dari sisa-sisa Jambo Rumoh Mayang yang roboh diterjang angin laut.
Sore itu, beberapa wisatawan masih terlihat bermain di bibir pantai Mak Leuge. Anak-anak berlari mengejar ombak, sementara sebagian pengunjung duduk di pondok-pondok kayu sederhana.

Namun tak jauh dari keramaian itu, puing-puing kayu, akar pohon tumbang, dan rangka bangunan yang miring menjadi pemandangan yang sulit diabaikan.
Di sanalah Jambo Rumoh Mayang (JRM) pernah berdiri kokoh.
Bagi M Nasir dan Zuriana, pondok wisata kuliner itu bukan sekadar tempat berjualan. Ia adalah sumber penghidupan keluarga.
Pengunjung biasanya menikmati kopi, mie goreng, atau hidangan atau minuman hangat lain sambil duduk di pondok kayu beratap rumbia yang menghadap langsung ke laut.
Pondok wisata kuliner miliknya, roboh diterpa badai laut pada akhir November lalu. Bangunan yang dahulu berdiri menghadap laut kini nyaris rebah, sebagian rangkanya terseret ke pasir, sebagian lagi masih bertahan dengan tiang yang condong seolah menunggu waktu untuk jatuh.
“Tidak lama setelah puteri sulung saya meninggal dunia,” ucap Zuriana lirih. “Setelah itu baru kejadian ini. Hingga sekarang belum mampu kami perbaiki.”
Di sela reruntuhan itu, Nasir masih mencoba bertahan.
“Kalau tidak berjualan, kami tidak punya pemasukan,” kata Nasir pelan, sambil menunjuk pondok yang tersisa.
Dulu, Jambo Rumoh Mayang menjadi salah satu pondok kuliner sederhana di Pantai Mak Leuge yang ramai didatangi pengunjung lokal. Dalam musibah, hanya dirinya yang mendapat musibah.
Sementara, pengelola pondok wisata yang lain masih tetap utuh. Bisa berjualan.
Di pondok-pondok ini, pengunjung biasanya menikmati kopi, mie goreng, atau hidangan laut sambil duduk di pondok kayu beratap rumbia yang menghadap langsung ke laut.
Namun badai yang datang bersama angin kencang dan gelombang tinggi mengubah semuanya dalam satu malam.
Beberapa pondok di bibir pantai ambruk. Tiang-tiang kayu patah, atap terlepas, dan bangunan yang berdiri di atas pasir tak mampu menahan terpaan angin.
Kini, sebagian rangka bangunan masih terlihat miring ke arah laut. Kayu-kayu berserakan di pasir bercampur ranting, akar pohon, dan sampah yang terseret ombak.
Di tengah kondisi itu, Nasir dan istrinya, Zuriana, tetap membuka lapak kecil di pondok yang masih tersisa. Namun kondisi tersebut jauh dari layak.
Pengunjung yang datang kini harus duduk di bangunan yang setengah rusak. Sebagian bahkan memilih tidak singgah, sebab khawatir dengan kondisi pondok yang sudah miring.
Bukan sekadar miring, bahkan tidak bisa difungsikan lagi. Harus bongkar. “Kalau bisa diperbaiki, kami ingin bangun kembali seperti dulu,” ujar Nasir.
Masalahnya sederhana namun berat: biaya.
Untuk membangun kembali pondok wisata itu, Nasir membutuhkan dana yang tidak sedikit. Sementara penghasilan dari berjualan di pondok yang tersisa hampir tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

Karena itu, ia berharap ada bantuan dari pemerintah atau pihak lain yang peduli terhadap usaha kecil di kawasan wisata tersebut.
“Kalau ada bantuan, kami ingin bangun lagi supaya orang bisa datang seperti dulu,” harapnya.
Pantai Mak Leuge sendiri selama ini dikenal sebagai salah satu lokasi wisata pantai di Aceh Timur yang ramai pada akhir pekan. Banyak pedagang kecil menggantungkan hidup dari pondok-pondok kuliner yang berdiri di sepanjang bibir pantai.
Sementara itu, Anggota DPRK Aceh Timur dari Partai Adil Sejahtera (PAS), Subki alias Tgk Jek, mengaku belum mendapat informasi mengenai kerusakan pondok di objek wisata tersebut.
“Belum ada informasinya,” kata Subki.
Meski demikian, ia berjanji akan turun langsung ke lokasi untuk melihat kondisi di lapangan.
Menurutnya, keberadaan pondok kuliner di kawasan pantai merupakan sumber penghidupan masyarakat yang perlu diperhatikan.
“Nanti kita lihat dulu kondisi di lapangan. InsyaAllah kita akan upayakan agar masyarakat bisa kembali berjualan dan usahanya berjalan lagi,” ujarnya.
Bagi Nasir, harapan itu sederhana: membangun kembali pondok yang roboh dan melihat kembali pengunjung duduk menikmati angin laut di Jambo Rumoh Mayang—seperti sebelum badai datang merobohkan semuanya.
Munawardi













