Harga Daging Meugang Tembus Rp180 Ribu/Kg

- Aceh
  • Bagikan
Harga Daging Meugang Tembus Rp180 Ribu/Kg
TRADISI MEUGANG: Pedagang melayani pembeli di Pasar Daging Meugang di Lapangan Krueng Punti Idi Cut, Darul Aman, Aceh Timur, Senin (11/3). Waspada/H Muhammad Ishak

IDI (Waspada): Di Aceh, tradisi perayaan meugang menjelang Ramadan 1445 hijriyah sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Harga daging tahun ini meningkat menjadi Rp180.000 per kilogram dibandingkan tahun lalu Rp170.000 per kilogram.

“Volume permintaan tahun ini lebih ramai, sehingga harga jual daging sejak megang pertama hingga meugang kedua bertahan di angka Rp180.000 per kilogram. Harga saat ini meningkat Rp10 ribu per kilogram dibandingkan tahun lalu,” ujar Matlain Jabri, tokoh masyarakat di Idi Cut, Aceh Timur, Senin (11/3).

Dijelaskan, harga daging saat perayaan tradisi megang lazimnya menyesuaikan dengan harga jual lembu di pasaran. Tetapi tidak tertutup kemungkinan, harga daging pada perayaan hari megang kedua akan mengikuti daya beli masyarakat yang tergambar dari permintaan daging pada saat perayaan meugang pertama.

“Jika permintaan daging hari meugang pertama tinggi, maka tentu permintaan hari kedua diperkirakan akan tinggi, sehingga harga daging meugang akan mengalami peningkatan dari hari pertama. Tapi tidak tertutup kemungkinan disaat permintaan daging rendah, maka harga daging akan turun ke angka Rp150.000 – Rp160.000 per kilogram. Bahkan bisa jadi ke angka Rp120.000 per kilogram,” urai Matlain Jabri.

M Isa, salah seorang penjual daging di Idi Rayeuk, terpisah menambahkan, harga jual lembu kampung di pasaran tahun ini stabil yakni antara Rp16.000.000 – Rp22.000.000 per ekor. Harga jual daging berkisar antara Rp170.000 – Rp175.000 per kilogram. “Tapi harga jual rata-rata Rp180.000 per kilogram, sehingga harga jual daging di Idi Rayeuk dan sekitarnya juga mengikuti harga jual di pasaran,” katanya.

Di beberapa kecamatan lain, seperti di Pante Bidari, Simpang Uim dan Julok serta Peureulak, harga daging dijual sama Rp180.000 per kilogram. Namun sebagian titik di daerah pedalaman dijual Rp160.000-Rp170.000 per kilogram, seperti di Peunaron, Serbajadi, Simpang Jernih dan Indra Makmu.

Tetapi sebagian masyarakat memilih membeli daging dengan pola tumpukan atau ripoh. “Daging sapi dengan cara ripoh lebih menguntungkan, karena pola ini bersifat kegotongroyongan, dimana masing-masing anggota mengumpulkan uang Rp500.000 dengan jumlah 30 anggota. Lalu membeli lembu dan memotong lalu membagi sama rata,” ujar Ihsan, salah seorang masyarakat di Idi Cut. (b11)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *