Aceh

Hikmah dari yang Diremehkan

Hikmah dari yang Diremehkan
Tgk Yusuf saat menyampaikan ceramah bakda Subuh di Masjid Agung Darul Falah Langsa. (Waspada.id/Ibnu Sa'dan)
Kecil Besar
14px

Allah Tak Malu Memberi Perumpamaan, Manusia yang Sering Enggan Belajar

SUBUH baru saja menyingkap langit Kota Langsa. Di Masjid Agung Darul Falah, suasana masih tenang ketika Tgk Yusuf duduk atas kursi di hadapan jamaah. Tanpa nada tinggi, anggota Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kota Langsa itu membuka pengajian dengan satu ayat yang sederhana bunyinya, namun tajam menggugah kesadaran, yakni Surah Al-Baqarah ayat 26.

Ayat ini menegaskan, Allah tidak malu membuat perumpamaan dengan nyamuk atau bahkan yang lebih rendah dari itu.

Sebuah pernyataan ilahi yang, menurut Tgk Yusuf, seolah menampar cara berpikir manusia yang gemar mengukur kemuliaan dengan besar-kecil, tinggi-rendah, atau mulia-hina menurut standar dunia.

“Manusia sering merasa malu belajar dari hal-hal kecil,” ujar Tgk Yusuf dalam ceramah ba’da Subuh, Selasa (27/1).

Padahal, katanya, Allah justru menjadikan makhluk yang dianggap rendah sebagai media pelajaran paling jujur tentang kekuasaan-Nya.

Nyamuk menjadi contoh yang ia soroti. Makhluk yang kerap dibenci dan diusir itu, dalam pandangan Al-Qur’an, bukan sekadar gangguan.

Di balik tubuhnya yang nyaris tak diperhitungkan, Allah menitipkan tanda-tanda kebesaran, yaitu sistem kehidupan yang kompleks, ketelitian penciptaan, dan pesan tentang rapuhnya manusia.

“Kalau makhluk sekecil itu saja Allah ciptakan dengan sempurna, lalu apa alasan manusia untuk sombong?” ungkapnya, membuat jamaah terdiam.

Tgk Yusuf menjelaskan, ayat tersebut juga mengungkap tabiat manusia dalam menyikapi kebenaran.

Orang-orang beriman akan memahami perumpamaan itu sebagai kebenaran dari Tuhan mereka. Sebaliknya, mereka yang hatinya tertutup justru mempertanyakannya dengan sinis, bahkan menjadikannya bahan ejekan.

Menurutnya, persoalan bukan terletak pada ayat Al-Qur’an, melainkan pada kesiapan hati manusia menerima petunjuk.

Perumpamaan yang sama bisa mengangkat derajat seseorang, atau justru menjerumuskannya semakin jauh dari kebenaran.

Lebih dari sekadar tafsir teks, ceramah itu mengalir ke realitas sosial. Tgk Yusuf mengingatkan, dalam kehidupan sehari-hari manusia sering mengabaikan nasihat karena datang dari orang yang dianggap biasa.

Banyak pula pelajaran hidup terlewat hanya karena lahir dari peristiwa kecil yang dinilai tidak penting. Padahal, bisa jadi di situlah Allah sedang berbicara.

“Allah tidak malu memberi perumpamaan dengan makhluk yang rendah menurut manusia. Lalu mengapa kita sering gengsi belajar dari siapa saja?” tuturnya.

Pesan itu terasa relevan di tengah kehidupan modern yang kerap mengagungkan jabatan, popularitas, dan tampilan luar.

Dalam logika dunia, yang besar selalu dianggap penting, yang kecil kerap disingkirkan. Al-Qur’an, sebaliknya, mengajarkan bahwa nilai sebuah pelajaran tidak ditentukan oleh bentuknya, tetapi oleh makna yang dikandungnya.

Ceramah Subuh itu ditutup dengan ajakan untuk merendahkan hati. Keimanan, kata Tgk Yusuf, bukan hanya soal menghafal ayat atau mendengar ceramah, tetapi tentang kesediaan belajar dari tanda-tanda Allah, bahkan yang tersembunyi di balik sesuatu yang paling diremehkan.

Di Masjid Agung Darul Falah pagi itu, jamaah pulang membawa satu pesan penting: kadang, hikmah terbesar justru datang dari hal-hal yang paling kecil, asal manusia tidak malu untuk merenung dan belajar.

Ibnu Sa’dan

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE