Ie Beuna (Tsunami), Tradisi Tutur Yang Patut Dibudayakan

- Aceh
  • Bagikan
Masyarakat berziarah dan berdoa di kuburan massal korban tsunami di Gampong (desa) Siron, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Selasa (26/12). (Waspada/Muhammad Zairin)
Masyarakat berziarah dan berdoa di kuburan massal korban tsunami di Gampong (desa) Siron, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Selasa (26/12). (Waspada/Muhammad Zairin)

BANDA ACEH (Waspada): Gempa yang diikuti gelombang tsunami sudah 19 tahun berlalu di Provinsi Aceh, sejak terjadi pada 26 Desember 2004. Kini saban tahun, bencana tsunami terdahsyat itu diperingati masyarakat dan Pemerintah Aceh tiap tanggal 26 Desember.

Di hari itu, kuburan massal korban tsunami menjadi tempat masyarakat berziarah, berdoa untuk anggota keluarga dan sanak saudaranya yang syahid dalam peristiwa itu. Peziarah datang dengan keluarganya untuk memanjatkan doa.

Lokasi kuburan massal korban tsunami ini tersebar di Kabupaten Aceh Besar diantaranya di Lambaro, Siron, Lhoknga dan di Kota Banda Aceh ada di Ulee Lheu. Lokasi kuburan masssal juga ada di beberapa lokasi lainnya, hanya jumlah korban yang dimakamkan tidak terlalu banyak.

Ie Beuna (Tsunami), Tradisi Tutur Yang Patut Dibudayakan

Tsunami yang terjadi dipagi hari 26 Desember 2004 lalu itu, sedikitnya 220.000 masyarakat Aceh menjadi korban. Dan terbanyak korban ada di dataran Aceh. Sementara di Kabupaten Simeulue, sebuah kabupaten kepulauan di Aceh, hanya tiga sampai lima orang saja.

Kenapa? Soal tsunami bagi masyarakat kepulauan itu masih melekat budaya ‘Smong” warisan indatu mereka sejak 116 tahun lalu. Sehingga dengan warisan budaya itu warga Simeulu mampu beradaptasi dan selamat dari bencana gempa tsunami tahun 2004 lalu.

Masyarakat Simeulu, yang saat ini jumlah penduduknya 94.876 jiwa (BPS 2022), saat terjadi gempa dan air laut surut hanya memekikkan kata Smong. Pekikan itu menandakan mereka harus menyelamatkan diri ke daerah yang lebih tinggi, karena gelombang tsunami akan melanda.

Lalu bagi masyarakat pesisir di daratan Aceh, juga ada tradisi tutur ini dengan ungkapan Ie Beuna (tsunami). Tradisi tutur era purba ini dilupakan masyarakat Aceh, khususnya Aceh Lhee Sagoe, sehingga Banda Aceh dan Aceh Besar menelan banyak korban,” ungkap Tarmizi A Hamid, Selasa (26/12) di Banda Aceh.

Kolektor manuskrip Aceh ini, menyatakan media tutur ini sudah terkubur dalam kehidupan masyarakat Aceh daratan, terutama dalam masyarakat pesisir dan nelayan. “Pada hal bencana Ie Beuna ini sudah berlangsung berulang, sejak berabad-abad pada masa silam,” terangnya.

Ie Beuna (Tsunami), Tradisi Tutur Yang Patut Dibudayakan
Tarmizi A Hamid, Kolektor Manuskrip Aceh. Waspada/Ist

Tarmizi yang kerap di sapa Cek Midi ini mengatakan catatan rekam jejak Ie Beuna ini sangat jelas terdapat dalam sejumlah manuskrip Aceh, yang masih tersimpan dalam koleksi masyarakat Aceh.

Ia kemudian mengungkapkan hasil penelitian versi manuskrip Aceh, bencana Gempa yang di ikuti Ie Beuna (tsunami) oleh Hermansyah (Filolog) UIN Ar Raniry bahwa bencana ini sudah sering terjadi pada masa silam.

“Makanya ada media seni tutur baik Smong maupun Ie Beuna yang berkembang di Aceh, diantaranya tahun 1807, 1906, 1964, dan 1983,” sebut Cek Midi.

Pada tahun 1807 Masehi, tuturnya, terjadi bencana gempa paling dahsyat sehingga menenggelamkan sejumlah kota terutama kota Bandar Aceh Darussalam di Kampung Pande, dan kota kota kecil lainnya di pesisir Aceh.

Karena itu, menurut Cek Midi pada saat kejadian benacana alam gempa yang diikuti gelombang tsunami 26 Desember 2004 lalu tidak aba-aba yang mengisyaratkan agar warga segera menyelamatkan diri karena akan datangnya Ie Beuna (tsunami).

“Jadi beda dengan Simeulu, mereka minim korban dengan Smong-nya. Banda Aceh yang hidupnya glamor dan kosmopolitan, tidak ada imbauan apa-apa karena miskinnya kearifan lokal,” cetus Cek Midi.

Ie Beuna (Tsunami), Tradisi Tutur Yang Patut Dibudayakan

Pasca tsunami, dalam program rehabilitasi rekonstruksi kawasan bencana tsunami Aceh mulai dibangun alaram tsunami. Sedikitnya enam unit sirene tsunami di bangun di Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar.

Sirene ini, akan memberi aba-aba dengan suara sirene-nya kepada masyarakat bila terjadi gempa dahsyat dan berpotensi tsunami. Sirene ini merupakan teknologi yang dikembangkan untuk meminimalisir korban bila terjadi tsunami.

“Kecanggihan teknologi masa kini, tidak serta merta membuang khazanah budaya masa lalu begitu saja. Tapi kearifan lokal juga patut dikembangkan dan itu sudah terbukti dengan Smong di Simeulu,” tegas Cek Midi.

Peringatan puncak bencana gempa tsunami Aceh ke-19 tahun 2023 akan dilaksanakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.

Semoga peringatan bencana ini menjadi pelajaran bagi generasi sekarang untuk tidak melupakan kearifan lokal. Karena di era purba pun, di Aceh budaya tutur Ie Beuna sangat efektif meminimalisir korban bila bencana tsunami terjadi. (b05)

  • Bagikan