BANDA ACEH (Waspada.id): Menjelang bulan suci Ramadan 2026, kepastian penyaluran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Aceh masih menunggu arahan resmi. Hingga akhir Januari, Badan Gizi Nasional (BGN) wilayah Aceh belum menetapkan mekanisme distribusi selama bulan puasa.
Program yang menyasar ribuan pelajar ini selama ini menjadi tumpuan pemenuhan gizi anak sekolah. Namun, memasuki masa Ramadan, pelaksanaannya di Aceh menghadapi tantangan tersendiri karena harus menyesuaikan dengan kearifan lokal dan kondisi sosial masyarakat.
Kepala Regional Perwakilan BGN Aceh, Mustafa Kamal, mengatakan pihaknya masih menyiapkan skema penyaluran MBG melalui koordinasi lintas lembaga.
“Kita akan melakukan rapat dengan Gubernur Aceh, MPU, dan pihak terkait lainnya untuk mengatur bagaimana penyaluran MBG di bulan Ramadan,” kata Mustafa, Selasa (27/1/2026).
Menurutnya, pertemuan tersebut diperlukan untuk merumuskan pola distribusi yang sesuai dengan karakteristik Aceh sebagai daerah dengan penerapan nilai-nilai syariat Islam.
Sedangkan di tingkat pelaksana, belum adanya petunjuk teknis membuat sekolah dan pengelola MBG berada dalam situasi serba menunggu. Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ie Masen, Banda Aceh, Siti Khumaira, mengaku hingga kini belum menerima instruksi khusus.
“Sampai sekarang belum ada arahan terkait penyaluran MBG di bulan Ramadan. Kami masih menunggu dari BGN,” ujarnya saat dihubungi Waspada.id, Selasa (27/1/2026).
Kondisi tersebut membuat pihak SPPG belum dapat melakukan persiapan secara maksimal, terutama dalam hal pengemasan menu, penyesuaian waktu pembagian, serta pengaturan logistik.
Sementara itu, di tingkat pusat, Badan Gizi Nasional memastikan Program MBG tetap berjalan selama Ramadan dengan pola distribusi yang disesuaikan. Hal tersebut disampaikan Kepala BGN, Dadan Hindayana, sebagaimana dikutip dari CNN Indonesia.
Menurut Dadan, penyaluran MBG di wilayah mayoritas Muslim dilakukan dengan mekanisme yang sama seperti tahun sebelumnya. Makanan tetap dibagikan di jam sekolah, namun dibawa pulang oleh siswa untuk dikonsumsi saat berbuka puasa.
“Untuk daerah mayoritas Muslim, makanan dibagikan di jam sekolah, tapi dibawa pulang dan tahan hingga 12 jam sampai dikonsumsi saat buka puasa,” ujar Dadan usai rapat dengan Komisi IX DPR RI, Selasa (20/1/2026).
Sementara di wilayah yang mayoritas penduduknya tidak menjalankan puasa, layanan MBG tetap berjalan normal tanpa perubahan pola distribusi.
BGN juga menyesuaikan jenis menu selama Ramadan agar tetap aman dan layak dikonsumsi hingga waktu berbuka. Menu yang disiapkan berupa makanan siap santap dengan daya tahan cukup lama.
“Misalnya kurma, telur rebus, buah, abon, dan penganan lokal yang tahan lama,” jelasnya.
Menanggapi persiapan MBG menjelang Ramadan, Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Banda Aceh, Rima Afriani, menyatakan pihak sekolah siap mengikuti kebijakan yang akan ditetapkan pemerintah.
“Sebagai sekolah penerima MBG, kami siap mengikuti prosedur yang akan diberlakukan. Apa pun keputusan dari BGN, kami akan menyesuaikan demi kepentingan siswa,” kata Rima.
Hingga kini, publik masih menunggu hasil koordinasi antara BGN, Pemerintah Aceh, dan unsur terkait lainnya sebagai dasar pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis selama bulan Ramadan di Aceh. (Hulwa)










