KUTACANE (Waspada.id): Kecaman terhadap serangkaian tuduhan yang menyebut Bupati Aceh Tenggara HM Salim Fakhry tidak menangani bencana banjir dengan baik semakin meluas.
Tuduhan yang dinilai tidak sesuai fakta tersebut disampaikan oleh beberapa pihak yang mengatasnamakan wadah tertentu, termasuk yang mengaku dari IPMAT Banda Aceh.
Berbagai elemen masyarakat dan organisasi menyatakan bahwa tuduhan tersebut cenderung tendensius dan tidak mendasar, sementara pihak pemerintah daerah dinilai telah memberikan respon cepat dalam penanganan banjir yang melanda beberapa kecamatan di wilayah Agara.
M.Saleh Selian dari LIRA Agara mengaku heran dan miris melihat pernyataan yang mengemukakan tudingan tuli dan otoriter terhadap Bupati Salim Fakhry. Menurutnya, pernyataan yang menyatakan integritas Bupati dipertanyakan karena dinilai lebih fokus pada pencitraan adalah pernyataan yang tidak sesuai dengan kenyataan.
“Sejak awal terjadinya banjir, Bupati Salim Fakhry sangat responsif, peduli, dan cepat melakukan penanganan serta upaya yang diperlukan agar korban merasakan kehadiran pemerintah,” ujar Saleh.
Ia menambahkan bahwa Bupati tidak hanya menyalurkan bantuan dan meninjau titik terdampak di Agara, tetapi juga hadir langsung mengawasi perbaikan jalan dan jembatan yang putus akibat banjir sungai dan banjir bandang. “Kunjungan ke lokasi bersama pejabat, wartawan, LSM, dan elemen masyarakat berlangsung tidak hanya di siang hari, bahkan sampai tengah malam,” jelasnya.
Saleh menegaskan bahwa di masa bencana, seluruh elemen masyarakat seharusnya bersatu padu membantu korban, bukan menjadikan momen tersebut sebagai ajang untuk menimbulkan kegaduhan.
Sebelumnya, Ketua PeTA Nawi Sekedang menilai bahwa suara yang disampaikan salah seorang pemuda di media online penuh dengan emosi dan terkesan memutarbalikkan fakta. Ia menyatakan bahwa kondisi di lapangan sangat bertolak belakang dengan tuduhan tersebut.
“Kita salut dengan LSM LIRA dan organisasi lainnya di Aceh Tenggara yang tak banyak bicara namun sudah hadir sejak hari pertama banjir membantu mendistribusikan bantuan. Ini yang perlu ditiru, bukan membuat polemik,” ujar Nawi.
Ia juga mengajukan pertanyaan terkait keberadaan kelompok yang menyampaikan tuduhan tersebut di lokasi bencana: “Apakah mereka turun ke Agara membantu meringankan penderitaan korban banjir? Jika ada, kapan dan dimana?”
Selain tuduhan yang dinilai tidak sesuai fakta, terdapat informasi bahwa salah satu akun yang menyampaikan kritik juga mengirim pesan WhatsApp yang dinilai tidak beretika. Dalam percakapan yang disampaikan kepada Allah Gozali, akun Bar SP menyebutkan kalimat yang dianggap merendahkan dan masuk dalam kategori ujaran yang tidak pantas.
Kamal dan beberapa warga lainnya menilai bahwa pernyataan dan pesan tersebut sangat tidak sesuai dengan norma serta telah merusak keharmonisan masyarakat. Beberapa elemen masyarakat bahkan menyarankan agar pihak pemerintah daerah membawa masalah ini ke ranah hukum dan melaporkan kepada pihak berwajib. (id80)











