LANGSA (Waspada.id); Bencana bukan hanya merobohkan bangunan, namun juga merenggut rutinitas, harapan, dan semangat belajar bagi anak-anak. Meski dalam kondisi darurat, pendidikan harus hadir sebagai ruang pemulihan bagi generasi penerus bangsa.
Di tengah kondisi masa pemulihan pascabencana banjir bandang yang terjadi pada penghujung November 2025 lalu, masih menyisakan luka bagi anak-anak di Gampong Simpang Lhee, Kecamatan Manyak Payed, Kabupaten Aceh Tamiang akibat kehilangan ruang belajar, ujar Ketua Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Universitas Samudra, Muhammad Arif Sanjaya, S.Pd., M.Pd, Selasa (24/2).
Lanjutnya, sekolah belum sepenuhnya pulih fasilitas terbatas. Orang tua masih fokus membenahi kehidupan pascabencana. Di tengah situasi itu, anak-anak menjadi kelompok paling rentan bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional.

Melihat kondisi tersebut, tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris dari Universitas Samudra turun langsung menghadirkan solusi cepat dan menyentuh: Edu-Relief, program pembelajaran darurat berbasis aktivitas edukatif.
Program ini merupakan bagian dari PKM Tanggap Darurat Bencana tahun 2026, yang dirancang untuk menjawab kebutuhan masyarakat terdampak bencana banjir bandang secara cepat dan terukur, ujarnya.
Kelas darurat pun digelar. Bukan di ruang sekolah yang megah, melainkan di ruang komunitas dan lokasi aman yang tersedia. Tidak ada seragam resmi. Tidak ada tekanan ujian. Yang terdengar justru tawa anak-anak saat bermain puzzle huruf, membaca cerita bergambar, menggambar cita-cita, dan belajar berhitung dengan metode yang menyenangkan.
“Anak-anak terdampak bencana tidak hanya kehilangan ruang belajar, tetapi juga rasa aman. Edu-Relief hadir untuk mengembalikan senyum, membangun kembali kepercayaan diri, dan menjaga agar semangat belajar mereka tidak padam meski dalam kondisi daruratpendidikan harus hadir sebagai ruang pemulihan.” tegas M Arif.
Program ini tidak hanya fokus pada literasi dan numerasi dasar, tetapi juga memberikan pendampingan sosial-emosional. Mahasiswa yang terlibat sebagai fasilitator telah dibekali pelatihan khusus tentang pendidikan darurat dan komunikasi empatik agar mampu menciptakan suasana belajar yang hangat dan ramah anak.
Sementara, Datok Penghulu Gampong setempat Safrul Jamil menyebut kehadiran program ini sebagai “angin segar” bagi masyarakatnya. “Setelah bencana, anak-anak kami terlihat murung dan kehilangan semangat. Tapi sejak ada Edu-Relief, mereka kembali tertawa dan bersemangat setiap hari. Ini bukan sekadar kelas belajar, ini adalah penyemangat baru bagi generasi kami,” ungkap Safrul Jamil dengan haru.
Selain menggelar kelas darurat, tim juga menyalurkan paket pembelajaran berupa buku bacaan anak, alat tulis, Buku mewarnai, serta permainan edukatif yang dapat terus dimanfaatkan oleh masyarakat.
Program ini menjadi bukti bahwa di tengah keterbatasan, pendidikan tetap bisa berjalan.
Semoga di tengah masa pemulihan pasca bencana, harapan masih bisa ditumbuhkan. Di saat banyak pihak sibuk memulihkan infrastruktur, Edu-Relief hadir memulihkan yang tak terlihat: semangat dan masa depan anak-anak, imbuh M Arif. (id75)











