BANDA ACEH (Waspada.id): Dewan Pengurus Wilayah Keluarga Muslim Karo (KAMKA) Provinsi Aceh menggelar syukuran milad (hari kelahiran/ulang tahun) pertamanya di salah satu lokasi wisata di seputaran Pantai Leupung, Kabupaten Aceh Besar, Minggu (18/1/2025) pagi hingga sore.
Kegiatan yang dihadiri oleh puluhan orang dari keluarga muslim Karo yang berdomisili di Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar, itu turut juga dihadiri langsung oleh Ketua Umum KAMKA Aceh, Dr, Muhammad Saleh M.Pd., beserta jajaran pengurusnya.
Hal itu diungkapkan Ahmad Arif Ginting, Wakil Sekretaris Umum KAMKA Aceh yang membawa rangkaian acara dari awal hingga akhir.
Sementara itu, Ketua Panitia sekaligus Ketua I Dewan Pengurus KAMKA Provinsi Aceh, Budiman Tarigan, mengatakan, sebanyak 32 keluarga datang bersama anggota keluarganya masing-masing untuk memperingati ulang tahun pertama KAMKA Aceh yang menghimpun etnis Karo beragam Islam di Provinsi Aceh secara umum.
Acara dimulai dengan setiap kepala keluarga memperkenalkan keluarganya, baik yang hadir maupun tidak, tempat domisili dan kegiatan atau usaha beserta kuta kemulihen atau kampung asal di tanah Karo, Sumatera Utara.
“Sesi perkenalan itu sangat penting, terutama untuk mengetahui silsilah kekerabatan dalam suku Karo. Lalu, dari segi usaha atau pekerjaan bisa dibangun jejaring, baik yang bernilai ekonomis, sosial maupun keagamaan”, ungkap Budiman Tarigan.
Sementara itu, Ketua Umum Dewan Pengurus KAMKA Provinsi Aceh, Dr, Muhammad Saleh M.Pd, dalam sambutannya, mengatakan bahwa mereka sangat bahagia bisa memiliki wadah untuk menjalin dan merawat silaturrahim antara sesama muslim bersuku Karo di daerah ujung Barat Nusantara.
“Kita yang sudah berkeluarga dan berdomisili di Aceh sangat bahagia bisa berhimpun melalui KAMKA. Sejak setahun lalu, hampir setiap bulan kita bersilaturrahim dari rumah ke rumah untuk menguatkan pemahaman keagamaan disertai tutur silsilah dan adat istiadat Karo”, kata Saleh Ginting yang baru-baru ini dilantik sebagai Kepala Biro Administrasi Umum Universitas Serambi Mekkah, Banda Aceh.
Walau hidup di perantauan, kata Saleh Ginting, namun tuntunan dari daerah asal muasal tetap diingat dan bahkan diturunkan kepada generasi penerus sehingga identitas tersebut tidak tercerabut.
“Selain berupaya mengembangkan organisasi ke daerah-daerah di wilayah Provinsi Aceh, kita juga hendak mengulang dengan lebih baik jejak dekade 1990-an dulu yang pernah dibuat pentas seni budaya Karo yang mendapat atensi dan apresiasi luas dari masyarakat Aceh”, imbuhnya.
Yang menarik pada momen syukuran milad pertama KAMKA Aceh tersebut, panitia menghidangkan dua menu ala tradisi Karo, yakni rires atau lemang, dihidangkan dengan kuah durian. Dan manuk lemang-lemang atau gulai ayam.(id66)










