Aceh

Ketika Kita Dituntut “Beramal di Meja Judi”

Ketika Kita Dituntut “Beramal di Meja Judi”
Ilustrasi tambang, Jumat (9/1).
Kecil Besar
14px

Di Aceh, hujan tidak lagi sekadar penanda musim. Ia menjadi penentu rasa aman. Setiap kali langit menggelap dan air turun tanpa jeda, kegelisahan ikut menyusup ke rumah-rumah warga di hilir sungai, di kaki perbukitan dan di desa-desa yang berbatasan dengan kawasan tambang. Di sanalah, jauh dari ruang-ruang rapat berpendingin udara, rakyat Aceh merasakan langsung arti sebuah keputusan.

Di atas meja kebijakan, aktivitas tambang kerap hadir dengan wajah manis: izin resmi, janji kontribusi, dan narasi pembangunan. Namun bagi rakyat Aceh, meja itu sering terasa seperti meja judi, tempat keselamatan mereka dipertaruhkan atas nama pertumbuhan ekonomi, yang belum tentu mereka nikmati.

Kita diminta percaya bahwa tambang akan membawa manfaat. Bahwa risiko bisa dikelola. Bahwa alam akan tetap patuh pada perhitungan manusia. Tetapi alam di Aceh, telah berulang kali menunjukkan bahwa ia tidak tunduk pada janji. Sungai yang meluap, tanah yang longsor, dan ladang yang rusak adalah bahasa alam yang paling jujur, bahasa yang sering kali diabaikan hingga berubah menjadi bencana.

Di tengah kondisi cuaca ekstrem, aktivitas pertambangan di wilayah rawan seolah mengundang bahaya datang lebih cepat. Bukit yang dikeruk kehilangan penyangga, tanah yang dibuka kehilangan daya ikat, dan daerah aliran sungai kehilangan fungsinya. Ketika hujan datang, rakyat Aceh bukan sedang berhadapan dengan kemungkinan, melainkan dengan kepastian risiko.

Namun ironinya, ketika kekhawatiran warga disuarakan, jawaban yang kerap muncul adalah soal kontribusi. Seakan-akan keselamatan bisa dinegosiasikan. Seakan-akan nyawa manusia dapat diimbangi dengan dana kompensasi, bantuan darurat, atau janji perbaikan setelah bencana terjadi.

Di titik inilah rakyat Aceh seperti dituntut beramal di meja judi: menerima risiko hari ini, dengan harapan akan ada kebaikan esok hari. Padahal, yang sering terjadi, rakyatlah yang menanggung kerugian paling besar rumah terendam, kebun rusak, akses terputus, sementara manfaat ekonomi tidak pernah benar-benar terasa merata.

Beramal di meja judi adalah logika yang terbalik. Amal sejati tidak lahir dari kerusakan yang dibiarkan, lalu ditebus dengan sisa keuntungan. Kebajikan tidak pernah datang setelah mudarat dijadikan prasyarat. Ia harus hadir sejak awal, dalam keberanian untuk menahan diri dan memilih keselamatan.

Bagi Aceh, ini bukan perdebatan ideologis. Ini soal hidup sehari-hari. Soal anak-anak yang tidur dalam kecemasan saat hujan turun, soal petani yang waswas melihat air sungai naik, soal warga yang setiap musim hujan bertanya dalam hati: apakah rumah kami masih aman malam ini?

Negara melalui pemerintah daerah memiliki mandat untuk melindungi mereka. Prinsip kehati-hatian bukan sekadar pasal dalam undang-undang, melainkan janji moral kepada rakyat.

Menutup sementara aktivitas tambang di tengah kondisi rawan, bukanlah sikap anti pembangunan. Ia adalah bentuk keberpihakan paling jujur kepada keselamatan warga Aceh.

Pembangunan yang bermartabat, tidak menempatkan rakyat sebagai taruhan. Ia tidak menjadikan desa-desa sebagai zona uji coba keberuntungan. Ia memastikan bahwa setiap kebijakan lahir dari kesadaran bahwa alam memiliki batas dan manusia hidup di dalamnya, bukan di atasnya.

Rakyat Aceh tidak menolak kemajuan. Mereka hanya menolak dijadikan risiko. Mereka tidak menutup pintu investasi, tetapi menuntut agar pintu keselamatan tidak dikunci rapat.

Karena hidup di Aceh bukan permainan. Sungai-sungainya bukan arena spekulasi. Dan rakyatnya bukan chip di meja judi kebijakan.

Jika kita sungguh ingin beramal, maka beramallah dengan keputusan yang berpihak pada keselamatan rakyat Aceh. Dengan keberanian menghentikan yang membahayakan. Dengan kesadaran bahwa melindungi nyawa warga adalah amal tertinggi, yang tidak pernah pantas dipertaruhkan di meja judi bernama tambang.

Syafrizal

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE