AcehFeatures

Ketika Sahur Menyingkap Realitas Sunyi Di Bawah Langit Abdya

Ketika Sahur Menyingkap Realitas Sunyi Di Bawah Langit Abdya
Bupati Abdya Safaruddin, saat bersantap sahur di rumah warga dhuafa Desa Padang Kawa, Kecamatan Tangan-Tangan, Selasa dinihari (10/3).Waspada.id/Syafrizal 
Kecil Besar
14px

Dini hari masih menggantung di langit Desa Padang Kawa, Kecamatan Tangan-Tangan, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Selasa (10/3). Waktu menunjukkan sekitar pukul 03.00 WIB, saat sebagian besar warga masih terlelap atau baru saja bangun, untuk menyiapkan sahur.

Di sebuah rumah kecil berdinding pelepah rumbia, keluarga Amran masih terjaga. Istrinya baru saja menuntaskan shalat tahajud. Lampu redup menggantung di ruang sempit, yang juga menjadi tempat makan dan ruang keluarga.

Tiba-tiba terdengar ketukan pelan di pintu kayu rumah itu.

Di kampung yang sunyi menjelang sahur, ketukan pada jam seperti itu bukan hal biasa. Amran, 40, membuka pintu dengan perasaan heran. Sesaat kemudian ia terpaku.

Di hadapannya berdiri Bupati Abdya Safaruddin.

Tidak ada protokoler resmi, tidak ada iring-iringan panjang. Hanya beberapa orang yang menyertainya,  dalam kunjungan yang berlangsung sederhana.

“Kami benar-benar kaget. Istri saya baru selesai tahajud, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu sambil memberi salam. Ternyata Pak Bupati datang dan sahur di rumah kami,” kata Amran dengan suara bergetar.

Rumah yang mereka tempati mencerminkan kehidupan yang jauh dari kata mapan. Dindingnya tersusun dari pelepah rumbia, lantainya masih tanah. Di sudut dapur kecil, beberapa peralatan masak sederhana tertata seadanya.

Di rumah itulah Amran menghidupi keluarganya, istri, dua anak, serta seorang keponakan yatim yang telah lama diasuhnya. Pekerjaannya tidak tetap. Ia menjalani berbagai pekerjaan serabutan, untuk menyambung hidup.

Potret seperti ini, sebenarnya bukan cerita yang sepenuhnya asing, di banyak daerah pedesaan Indonesia. Di balik statistik pembangunan dan angka-angka kemajuan daerah, masih ada keluarga yang hidup dalam kesunyian keterbatasan.

Safaruddin yang datang malam itu memilih duduk bersama keluarga Amran, di lantai rumah mereka. Tidak ada sekat antara tamu dan tuan rumah. Sahur berlangsung sederhana, tetapi hangat.

Sesekali ia memandang sekeliling rumah itu dengan wajah yang tampak berat. “Pagi ini saya terpukul. Masih ada saudara kita yang tinggal dengan kondisi seperti ini, beralaskan tanah,” ujarnya pelan.

Bagi Safaruddin, kunjungan tersebut bukan sekadar agenda Ramadhan. Ia mengatakan ingin melihat secara langsung kehidupan masyarakat, yang sering hanya hadir dalam laporan administratif.

Di tengah suasana sahur itu, ia menyampaikan komitmennya, untuk membantu memperbaiki rumah keluarga tersebut. “Insya Allah rumah ini kita rehab. Sebelum lebaran sudah bisa ditempati,” katanya memastikan. 

Makanan sahur yang dibawa dari pendopo bupati, dibagikan kepada keluarga itu. Namun Safaruddin justru memilih menikmati hidangan yang disiapkan oleh tuan rumah, sebuah cara sederhana untuk menjaga rasa hormat dalam kebersamaan.

Bagi Amran, kunjungan itu menghadirkan sesuatu yang selama ini terasa jauh: perhatian.

Selama ini, ia mengaku belum pernah menerima bantuan perbaikan rumah. Hidup keluarganya berjalan apa adanya, mengikuti irama pekerjaan serabutan yang tidak selalu pasti. “Terima kasih Pak Bupati sudah mau sahur di rumah kami,” ucapnya singkat.

Menjelang subuh, langit Abdya mulai memucat. Desa Padang Kawa perlahan bangun dari tidur malamnya.

Di rumah kecil berdinding rumbia itu, peristiwa sahur tersebut menjadi lebih dari sekadar kunjungan seorang kepala daerah. Ia menjadi pengingat tentang wajah lain pembangunan, tentang mereka yang hidup jauh dari sorotan, tetapi tetap berada dalam tanggung jawab negara.

Bagi pemerintah daerah, pengalaman seperti ini menegaskan satu hal penting: bahwa memahami kebutuhan rakyat tidak selalu cukup melalui data dan laporan.

Kadang, ia harus dimulai dari sebuah ketukan pintu di rumah kecil, pada dini hari, ketika kehidupan yang sesungguhnya terlihat apa adanya di bawah langit Abdya.

Syafrizal

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE