BANDA ACEH (Waspada.id): Pimpinan Pusat Fatayat Nahdlatul Ulama melakukan kunjungan sosial kepada korban terdampak banjir dan longsor di beberapa lokasi Kabupaten Pidie Jaya dan Kabupaten Bireuen pada Kamis dan Jumat, (8 – 9) Januari 2026.
Ketua Umum PP Fatayat NU Hj Margaret Aliyatul Maimunah yang meninjau kondisi serta berinteraksi langsung dengan masyarakat terdampak bencana, menyatakan prihatin mendalam atas kondisi Aceh pasca banjir yang hingga saat ini masih prihatin meski sudah melewati 40 hari sejak terjadinya musibah dahsyat tersebut.
Bantuan logistik dan proses pemulihan sudah sampai ke titik lokasi bencana namun ia menyaksikan kondisi yang masih darurat di beberapa titik yang menurutnya perlu terus mendapat perhatian serius dari berbagai pihak baik pemerintah, lembaga sosial masyarakat termasuk ormas keagamaan untuk terus hadir bersama korban penyintas memberi bantuan logistik pokok ataupun kekuatan psikososial untuk kebutuhan utama dan pemulihan psikologis korban.

Kelompok perempuan, lansia dan anak-anak menjadi sorotan utama Margaret Aliya saat turun ke pengungsian darurat.
Menurutnya, dalam situasi darurat, semua pihak juga diharapkan dapat memikirkan dan memastikan perlindungan terhadap anak-anak khususnya anak balita dan usia sekolah, gizi baik anak, perlindungan di sekitar hunian, serta kesehatan mental ditengah banyaknya persoalan dan keterbatasan.
Ia tegaskan bahwa keselamatan dan kesehatan fisik serta mental korban khususnya yang terdampak berat dan sedang adalah kewajiban negara dan juga kewajiban kita semua sesama manusia.
Kehadiran negara dan semua elemen sangat mempengaruhi penanganan situasi korban. Musibah besar ini bukan hanya ujian bagi korban atau penyintas saja, tapi juga bagi semua orang untuk menguji nilai solidaritas kemanusiaan, empaty sekaligus uluran tangan membantu meringankan kesulitan dan beban hidup para penyintas banjir.
“kebutuhan layanan kesehatan, ketersediaan air bersih dan makanan sehat, hunian sementara yang memadai serta aktifitas positif bagi korban seperti pendidikan anak dan trauma healing melalui pendekatan sosial, pendidikan dan keagamaan kepada korban akan sangat membantu korban menjadi lebih kuat dalam menjalani kondisi darurat dengan fisik sehat dan psikologis yang positif.” ujar Margaret Aliya, Minggu (11/01/26) usai mengunjungi para pengungsi tersebut.
Ketua Umum Fatayat NU mengajak seluruh Anggota Fatayat NU di seluruh Indonesia khususnya dan berbagai elemen masyarakat untuk terus mendengar dan melihat fakta nyata perkembangan situasi pasca bencana ini, untuk terus peduli dan membantu pemulihan.
“Ada 3.038 desa di 18 kabupaten dan kota di Aceh yang terdampak banjir. Semoga kondisi jalan yang rusak, sungai yang belum normal, layanan kesehatan serta logistik primer terus dapat kita bantu. Hunian sementara yang layak, hunian tetap segera dibangun dan banjir jangan sampai terjadi lagi. Aceh segera pulih dan insya Allah bangkit kembali,” harapnya.
Selain itu, Satgas Fatayat NU juga sempat mengunjungi pesantren terdampak banjir, Dayah Ummul Ayman 3 yang terletak di Meunasah Bie, Pidie Jaya.
Satgas Bencana yang dipimpin Kasat Kornas Garda Fatayat (Garfa) Pimpinan Pusat Fatayat NU Fitri Darmayanti didampingi Ketua PW Fatayat NU Aceh mengatakan, pihaknya masih akan terus melanjutkan menggalang donasi dan menyalurkan bantuan logistik bagi korban banjir Aceh hingga beberapa waktu ke depan.
Logistik yang disalurkan pada kesempatan ini diantaranya paket perlengkapan ibadah lengkap (mukena, sejadah, kain sarung dan buku Iqra), pakaian lainnya serta makanan Snack sehat di pengungsian. Meunasah Mancang Kec Meurah Dua Kab Pidie Jaya dan juga Desa Teupin Raya Kecamatan Peusangan Siblah Krueng Kabupaten Bireuen. Sebelumnya Fatayat NU telah menyalurkan bantuan di sejumlah lokasi pengungsi di Pidie Jaya, Bireuen dan Aceh Tamiang.(Id66)

















